MASJID bukan seperti biara dan lainnya. Hanya seperti tempat sepi yang khusus untuk sembahyang. Bukan itu.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)
Setidaknya ada empat fungsi utama masjid yang bisa dioptimalkan di momen Ramadan. Yaitu:
Satu, Basis Ibadah
Masjid seperti namanya adalah tempat untuk bersujud. Yaitu, menunaikan shalat berjamaah bersama dengan warga sekitarnya.
Di masjid pula, dilaksanakan ibadah lainnya. Seperti i’tikaf, tilawah Al-Qur’an, berzikir dan shalawat, manasik haji atau umrah, dan lainnya.
Dua, Basis Persaudaraan
Selain untuk ibadah, masjid juga efektif untuk membangun dan menjalin persaudaraan Islam. Dari masjid, warga bisa saling mengenal dan tolong menolong.
Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Masjid Nabawi menjadi saksi dipersaudarakannya tokoh-tokoh Anshar dan Muhajirin. Mereka saling berbagi dan bekerja sama.
Saat ini, banyak kegiatan masjid yang menyelenggarakan Jumat Berkah. Sebuah momen saling berbagi yang luar biasa.
Begitu pun di momen Ramadan. Momen Ta’jil atau berbuka puasa menjadi sarana saling membantu untuk menyediakan makanan dan minuman.
Di masjid pula, pengorganisasian zakat bisa dioptimalkan. Dan inilah momen di mana fungsi masjid disinergikan dengan perangkat pemerintahan di level bawah seperti Rt dan Rw.
Ketiga, Basis Keilmuan
Islam begitu mengutamakan ilmu setelah iman. Karena amal soleh yang baik adalah yang dilakukan dengan modal keilmuan yang memadai.
Di masa Nabi, Masjid Nabawi juga menjadi ‘laboratorium’ keilmuan untuk para sahabat yang mencintai ilmu. Pria maupun wanita.
Tidak heran jika para ahlus suffah atau penghuni tenda-tenda di pelataran masjid Nabawi umumnya banyak menerima ‘transfer’ ilmu yang lebih banyak dari lainnya. Di antara mereka adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau bahkan sahabat yang paling banyak menghafal hadis, sekitar lima ribuan.
Momen Ramadan adalah yang pas untuk menghidupkan sarana majelis taklim di masjid. Siapa pun bisa ikut: pria, wanita, orang tua, dan anak-anak. Tentu dengan klasifikasi majelisnya.
Empat, Basis Ekonomi
Masyarakat umumnya menginfakkan hartanya untuk dikumpulkan di kas masjid. Pengurus masjid akan mengalokasikan infak itu untuk berbagai peruntukkan. Mulai dari pembangunan fisik, pembiayaan operasional masjid, dan juga pemberdayaan ekonomi umat.
Yaitu, pemberdayaan yang berbasis pada zakat dan sedekah. Uang yang diberikan kepada mustahik tidak sekadar untuk dihabiskan begitu saja. Tapi bisa diberdayakan untuk modal usaha rumahan.
Dengan begitu, zakat dan sedekah bisa mengubah keadaan sosial warga sekitar masjid. Dari yang semula ‘tangan di bawah’ menjadi ‘tangan di atas’.
Tentu ini membutuhkan sumber keuangan yang memadai dan pengelolaan yang mumpuni. Tapi, semua itu bisa dimulai dari masjid: realistis dan mudah.
Jadi, jangan biarkan masjid atau musholah sekitar rumah kita sepi. Di momen Ramadan ini, bisa ‘dihidupkan’ dan diberdayakan untuk kebutuhan dakwah yang lebih nyata. [Mh]



