BaguCITRA itu terlihat, dari dalam dan juga dari luar. Jangan lihat citra dari satu sisi saja.
Seorang pemuda begitu bangga dengan mobilnya. Ruangan dalamnya begitu nyaman, harum, dan kedap suara.
Kalau berada di dalam mobilnya, rasanya ingin cepat pulas. Terlebih lagi diiringi dengan suara audio yang jernih, rasa nyamannya seperti tak ingin pergi.
“Ah, bagusnya mobil ini,” gumamnya mengagumi mobilnya sendiri.
Ia yakin, orang-orang yang melihat mobilnya akan terkagum-kagum. Mereka mungkin akan mengatakan, “Ah, mobil yang sangat bagus!”
Namun, begitu turun dari mobil, pujian itu tak ia dapatkan. Beberapa kali, di tempat yang berbeda, orang yang melihat mobilnya justru tampak seperti mencibir.
“Kenapa, ya?” gumamnya lagi.
Ia pun mencoba berada pada posisi orang lain yang melihat mobilnya. Tentu saja dari posisi luar mobil.
Dan, apa yang ia temukan dari mobilnya memang berbeda jauh jika dinilai dari dalamnya. Persoalannya sederhana. Mobilnya begitu kotor dan dekil. Keempat rodanya juga masih ditempeli tanah merah.
“Ah, pantas saja orang mencibir mobil ini. Andai aku tak melihatnya dari arah luar,” pungkasnya sambil mengangguk pelan.
**
Betapa banyak kekaguman kita tentang diri kita sendiri tapi hanya melihatnya dari arah dalam. Padahal, mungkin tak begitu jika dilihat dari arah luar.
Jangan buru-buru kagum tentang diri sendiri. Cobalah nilai lagi secara lebih objektif. Cobalah menilai dari cara orang lain menilai tentang kita.
Boleh jadi, kebaikan yang kita kagumi dari diri kita sendiri sebenarnya tak seberapa dari keburukan yang orang lihat tentang diri kita. [Mh]





