PENEMUAN kasus kanker pada stadium lanjut masih menjadi tantangan besar di dunia medis, termasuk di Indonesia. Keterlambatan deteksi dini umumnya membuat peluang kesembuhan pasien menurun drastis.
Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala memegang peran sangat krusial dalam menekan angka kematian akibat penyakit mematikan ini.
Alasan utama mengapa angka kematian akibat kanker sudah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir adalah penerapan skrining atau penapisan kanker yang semakin terarah.
Saat ini, terdapat pedoman penapisan standar yang sangat disarankan bagi masyarakat untuk beberapa jenis keganasan.
Sebagai contoh, mamografi menjadi langkah esensial bagi perempuan berusia 40 tahun ke atas untuk memantau kondisi payudara secara rutin.
Sementara itu, pria dan wanita yang telah menginjak usia 45 tahun ke atas dianjurkan menjalani kolonoskopi atau tes darah samar feses (fecal occult blood test) guna mendeteksi kanker kolorektal.
Baca juga: Lima Manfaat Daun Kemangi untuk Kesehatan Tubuh, Dapat Mencegah Kanker
Kasus Kanker Stadium Lanjut jadi Tantangan Besar di Dunia Medis
Adapun bagi perempuan dewasa yang sudah aktif secara seksual, pemeriksaan pap smear dan tes DNA HPV menjadi prosedur wajib dalam mencegah kanker serviks.
Pemahaman yang lebih mendalam mengenai profil genetika telah membuka jalan bagi pendekatan diagnosis yang jauh lebih spesifik.
Dunia kedokteran modern tidak lagi melihat kanker payudara sebagai satu kesatuan penyakit yang sama, melainkan kelainan yang memiliki beragam subtipe dengan penanganan yang benar-benar berbeda.
Berkat wawasan genetika tersebut, dokter kini dapat menggunakan metode pemrofilan genomik, seperti Oncotype DX, guna membedah karakteristik tumor payudara secara spesifik.
Pemeriksaan ini sangat berguna bagi pasien dengan ukuran benjolan kecil dan belum mengalami penyebaran ke kelenjar getah bening.
Nantinya, dokter akan menghitung recurrence score atau skor kekambuhan untuk memprediksi probabilitas kembalinya penyakit di masa depan.
Selain metode pemrofilan genomik yang semakin canggih, dunia onkologi juga telah mengembangkan liquid biopsy atau biopsi cair dengan memeriksa sel circulating tumor DNA (ctDNA).
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pemeriksaan terobosan ini bekerja dengan mendeteksi komponen genetik dari sel tumor mati yang luruh dan masuk ke dalam sirkulasi aliran darah pasien.
Inovasi ini sangat membantu ketika pasien harus menjalani prosedur penegakan diagnosis awal. Selama ini, kepastian adanya keganasan sangat bergantung pada pengambilan sampel jaringan tubuh yang dicurigai.
Namun, proses bedah ini kerap menjadi tantangan besar sekaligus berisiko tinggi apabila letak massa tumor berada di lokasi yang sangat sulit diakses.
Pemanfaatan ctDNA ternyata tidak hanya berhenti pada tahapan diagnosis semata, melainkan juga dimanfaatkan secara luas untuk memantau perjalanan penyakit.
Kadar sinyal DNA dalam darah yang berangsur menurun menunjukkan bahwa sel kanker merespons terapi secara positif, sedangkan angka yang melonjak naik menjadi indikator peringatan bahwa penyakit tersebut berpotensi kambuh dan tumbuh kembali. [Din]


