ILMU itu cahaya. Ia menerangi si pemiliknya dan orang-orang di sekitar sang pemilik.
Para sahabat Nabi dan salafus soleh memburu ilmu seperti memburu harta karun. Mereka mengejar sumber-sumber ilmu pada sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan keluarga Nabi.
Ada yang menempuh perjalanan ratusan kilometer bahkan ribuan untuk ilmu. Pusat-pusat ilmu seperti Mekah, Madinah, dan Bagdad pada masa awal dahulu selalu menjadi incaran. Berapa pun nilai pengorbanan yang harus dibayar, bahkan nyawa; semua tak jadi soal.
Di antara generasi sahabat Rasulullah ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, radhiyallahu ‘anhum bersama murid-murid mereka.
Berlanjut lagi dengan generasi sesudah mereka, antara lain Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad rahimahumullah. Dan berlanjut lagi dengan hadirnya para Rijalul Hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan seterusnya.
Dari generasi ke generasi, khazanah ilmu terwariskan seperti tongkat lomba lari estafet yang terus bersambung. Tak pernah putus, hingga saat ini.
Puncaknya di masa Kekhalifahan Abbasiyah, ilmu tak lagi pada sisi dasar kehidupan seperti ilmu syariat; melainkan juga ilmu sarana hidup seperti teknologi, sains, kedokteran, dan ekonomi.
Dari masa inilah, ilmu menyebar ke seluruh dunia. Eropa yang sebelumnya dalam gelap gulita peradaban mengalami perubahan signifikan. Dunia tak lagi gelap ketika sebelum Islam datang.
Menariknya, sosok-sosok ilmuwan soleh tersebut puas dan bahagia dengan capaian kitab-kitab mereka. Itulah puncak dari kepuasan yang mereka peroleh.
Bukan uang? Jawabannya bukan. Mereka merasa puas dan bahagia ketika kitab-kitab agung karya mereka menjadi rujukan umat manusia di zamannya dan zaman-zaman setelahnya.
Kenapa puas? Karena dari situlah, mereka seperti berinvestasi amal soleh yang tak pernah putus. Pahala yang terus mengalir meskipun sosok mereka tak lagi hidup di alam dunia ini.
**
Bagaimana dengan kita sekarang? Adakah yang mengejar dan memburu ilmu seperti para generasi mulia itu.
Rasanya, sama sekali berbeda. Kita mengejar dan memburu ilmu karena ingin memperoleh uang yang banyak. Karena ukuran bahagia saat ini seperti terpaku pada uang dan harta.
Ilmu seperti mengalami pengecilan makna dan capaian. Target ilmu bukan lagi seberapa luas cakupan cahaya yang akan memberikan maslahat untuk umat. Tapi, sekadar berapa gaji dan uang yang bisa diperoleh dari ilmu itu.
Mengembalikan masa kejayaan Islam seperti di masa kekhalifahan dahulu, rasanya akan seiring dengan motif awal kita mengejar ilmu. Sekadar uang, atau menjadikan dunia saat ini kembali diterangi ilmu yang mulai redup. [Mh]