ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Sabtu, 04 Juli 2020 | 14 Zulqaidah 1441 H
Login
Register

 


 
 
 
 
LIFESTYLE

Formalin Dalam Makanan Picu Kanker

25 April 2015 10:52:10
Formalin Dalam Makanan Picu Kanker

Ilustrasi Ilustrasi[/caption[caption id="attachment_6015" align="alignnone" width="700"]Ilustrasi Ilustrasi[/caption]

ChanelMuslim.com - Meski sudah berlangsung lama, penyalahgunaan formalin menjadi pengawet makanan di Indonesia tidak pernah tuntas diatasi. Padahal, kandungan berlebih formaldehida, senyawa aktif dalam formalin, dalam tubuh bisa memicu berbagai penyakit, mulai dari peradangan saluran cerna hingga berbagai jenis kanker.

Menurut ahli kimia pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Nuri Andarwulan, dihubungi dari Jakarta, Kamis (23/4), formalin ialah larutan formaldehida dengan konsentrasi 37 persen. Selain cair, formaldehida bisa berbentuk gas atau serbuk.

Formaldehida ialah bahan penting dalam industri. Peranannya sulit digantikan. Senyawa aktif itu digunakan sebagai perekat kayu lapis, pengawet kayu, pembunuh kuman, bahan baku plastik, bahan cat, bahan bangunan, dan bahan komponen mobil.

"Masalahnya, formaldehida di Indonesia disalahgunakan jadi pengawet makanan," ujarnya. Penyalahgunaan serupa ditemukan di sejumlah negara berkembang. Beberapa bahan makanan yang kerap ditemukan mengandung formalin ialah mi basah, tahu, bakso, ikan, hingga roti.

Formaldehida ialah bahan penting dalam industri. Peranannya sulit digantikan. Senyawa aktif itu digunakan sebagai perekat kayu lapis, pengawet kayu, pembunuh kuman, bahan baku plastik, bahan cat, bahan bangunan, dan bahan komponen mobil.

"Masalahnya, formaldehida di Indonesia disalahgunakan jadi pengawet makanan," ujarnya. Penyalahgunaan serupa ditemukan di sejumlah negara berkembang. Beberapa bahan makanan yang kerap ditemukan mengandung formalin ialah mi basah, tahu, bakso, ikan, hingga roti.

Formaldehida termasuk bahan kimia berbahaya dan beracun. Oleh karena itu, formaldehida tidak boleh dipakai di industri makanan. "Jika formalin untuk pengawetan makanan, itu jelas menyalahi aturan," kata Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo.

Meski demikian, lanjut Nuri, formaldehida banyak ditemukan di alam. Formaldehida dihasilkan dari proses metabolisme semua makhluk hidup. Oleh karena itu, kandungan formaldehida banyak ditemui pada beragam jenis sayur, buah, daging, produk susu, hingga ikan laut.

Beberapa produk pertanian dengan kandungan formaldehida tinggi ialah jamur shiitake kering yang punya 100-406 miligram formaldehida per kilogram dan buah pir 38,7-60 miligram/kilogram. Selain itu, ada kembang kol dengan kandungan formaldehida 26,9 miligram/kilogram, anggur 22,4 miligram/kilogram, dan kentang 19,5 miligram/kilogram.

Penyalahgunaan bahan kimia formaldehida untuk pengawet akan membuat kandungan formaldehida dalam sejumlah bahan pangan itu kian tinggi.

Selain makanan, paparan formaldehida pada manusia bisa berasal dari bahan bangunan dan perabot di rumah ataupun mobil. Paparan juga bisa bersumber dari udara sekitar. Formaldehida pada udara berasal dari rokok, pembangkit listrik, gas buang kendaraan, atau industri.

Mekanisme alami

Namun, tubuh manusia punya mekanisme alami mendetoksifikasi formaldehida dalam jumlah tertentu. Setiap menit, liver mengonversi 22 miligram formaldehida menjadi karbon dioksida.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, asupan harian yang bisa ditoleransi (TDI) untuk formaldehida dalam air minum ialah 150 mikrogram per kilogram berat badan.

Dokter spesialis gizi klinik di Rumah Sakit MRCCC Siloam Jakarta, AR Inge Permadhi, mengatakan, konsumsi makanan yang mengandung formaldehida tinggi akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan. Akibatnya, muncul mual, muntah, dan diare. Jika masuk dalam darah, formaldehida menyebabkan pusing.

Persoalannya, sedikit kandungan formaldehida pada makanan akan sulit dideteksi karena tak banyak mengubah tekstur ataupun aroma makanan. Dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut tertimbun dalam tubuh dan sulit dimetabolisme tubuh. Hal itu mengakibatkan formaldehida dalam tubuh akan masuk ke inti sel dan memicu mutasi genetik hingga menimbulkan berbagai jenis kanker.

Badan Riset Kanker Internasional (IARC) WHO menyebut ada hubungan antara formaldehida yang terhirup dan munculnya kanker nasofaring (faring atau tekak adalah daerah antara rongga hidung, mulut, dan kerongkongan) dan leukemia (kanker darah). Paparan formaldehida juga dikaitkan kanker mulut, saluran pernapasan, paru-paru, otak, hingga pankreas.

Inge menambahkan, kandungan formalin tinggi pada bahan makanan bisa dideteksi dari aromanya yang seperti mengandung bahan obat. Sementara dari penampilannya, makanan berformalinbiasanya lebih kenyal, tidak mudah rusak, dan tidak dihinggapi lalat. (jwt/sumber :aceh-tribunnews)

 
Info Video CMM :
 
https://www.youtube.com/watch?v=H0GOiHiFF2M
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
BERITA LAINNYA
 
 
 
ADVERTORIAL
04 July 2020 06:00:00

Kini Qurban Bisa Melalui ChanelMuslim.com

 
LIFESTYLE
06 November 2019 06:21:40

Dewi Sandra: Nikmat Terbesar adalah Nikmat Ilmu

 
LIFESTYLE
25 March 2019 15:10:02

Manfaat Investasi di Dekost Apartemen Syariah

 
LIFESTYLE
30 July 2018 03:54:44

Konsep Masa Depan bagi Syakir Daulay

Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
 
 
TERBARU
 
global qurban, chanelmuslim global qurban
 
 
TERPOPULER
 
 
Muslimah Creative Stream Fest Vol 2 2020
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga
JANGKAU LEBIH LUAS KONSUMEN ANDA,
beriklan di ChanelMuslim.com
Hotline : 0811.1362.284