Umamah binti Abu Al-Ash adalah putri dari Zainab binti Muhammad dan Abu Al-Ash bin Ar-Rabi’. Dengan demikian, ia merupakan cucu perempuan Rasulullah dari garis keturunan putri sulung beliau. Umamah lahir di Makkah dan mengalami masa kecil di tengah berbagai peristiwa penting yang mengiringi perkembangan Islam.
Namanya mungkin tidak sepopuler sebagian sahabiyah lainnya. Namun, sosoknya memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam karena ia adalah cucu Rasulullah yang tumbuh dekat dengan kakeknya. Kehidupannya menjadi gambaran tentang kelembutan Rasulullah dalam keluarga sekaligus menunjukkan pentingnya kasih sayang kepada anak-anak.
Zainab menyusui putrinya (Umamah) dalam naungan cinta Allah dan cinta Rasulullah. Sehingga tertanam dalam hatinya keimanan dan akhlak mulia.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Umamah tercatat dalam hadis-hadis sahih. Rasulullah dikenal sangat menyayanginya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah menggendong Umamah ketika memimpin salat.
Saat beliau berdiri, Umamah berada dalam gendongannya, dan ketika sujud beliau meletakkannya dengan lembut, lalu menggendongnya kembali saat berdiri. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam tidak memandang anak-anak sebagai penghalang ibadah, melainkan bagian dari kehidupan yang harus diperlakukan dengan kasih sayang.
Baca Juga: Ramlah binti Abu Sufyan, Putri Pemimpin Quraisy yang Menjadi Ummul Mukminin
Umamah binti Abu Al-Ash, Cucu Rasulullah yang Tumbuh dalam Kasih Sayang Sang Nabi
Kedekatan Umamah dengan Rasulullah juga memperlihatkan sisi kemanusiaan Nabi yang penuh kelembutan. Di tengah kesibukan memimpin umat dan menyebarkan dakwah, beliau tetap memberikan perhatian kepada keluarga, khususnya cucu-cucunya. Sikap ini menjadi teladan bagi umat Islam dalam membangun hubungan yang hangat di lingkungan keluarga.
Setelah Rasulullah wafat, Umamah tetap dikenal sebagai perempuan yang memiliki kedudukan mulia karena nasab dan akhlaknya.
Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa sebelum wafat, Fatimah az-Zahra berpesan kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, agar menikahi Umamah setelah dirinya wafat.
Pesan tersebut disampaikan karena Fatimah mengenal kebaikan dan kepribadian Umamah yang dapat membantu merawat anak-anaknya.
Umamah tinggal bersama bibinya yaitu Fatimah Az-Zahra yang selalu menjaganya. Akan tetapi Fatimah Az-Zahra setelah Rasulullah wafat ia jatuh sakit. Tubuhnya menjadi kurus, maka ia pun meninggal menyusul Rasulullah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah bahwa Fatimah adalah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusulnya di surga.
Setelah Fatimah wafat, Ali bin Abi Thalib kemudian menikahi Umamah. Pernikahan ini semakin mempererat hubungan keluarga Ahlul Bait. Meski tidak banyak riwayat yang menjelaskan detail kehidupannya setelah itu, para sejarawan sepakat bahwa Umamah termasuk perempuan yang dihormati karena kedekatannya dengan Rasulullah dan keluarganya.
Sumber: Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Nurtsani dan Ahmad Rifai. Insan Kamil: 2016.





