ADA salah satu perempuan mulia yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islam yang bernama Shafiyah binti Huyay. Ia dikenal sebagai salah satu istri Rasulullah dan termasuk dalam jajaran Ummul Mukminin atau Ibu Kaum Mukminin.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana hidayah dapat mengubah jalan hidup seseorang, terlepas dari latar belakang keluarga dan sukunya.
Shafiyah lahir dari keluarga terpandang Yahudi di Madinah. Ayahnya, Huyay bin Akhtab, merupakan pemimpin Bani Nadhir, salah satu kabilah Yahudi yang memiliki pengaruh besar pada masa itu.
Sejak kecil, Shafiyah tumbuh dalam lingkungan yang terhormat dan memperoleh pendidikan yang baik sesuai tradisi kaumnya.
Menurut sejumlah riwayat sejarah Islam, Shafiyah pernah bermimpi melihat bulan jatuh ke pangkuannya. Ketika mimpi itu diceritakan kepada suaminya saat itu, ia justru mendapat respons yang kurang baik.
Beberapa ulama menafsirkan mimpi tersebut sebagai isyarat bahwa kelak ia akan menikah dengan seorang nabi.
Perubahan besar dalam hidup Shafiyah terjadi setelah peristiwa Khaibar pada tahun 7 Hijriah. Setelah benteng-benteng Khaibar berhasil ditaklukkan oleh kaum Muslimin, Shafiyah termasuk di antara tawanan perang.
Baca Juga: Kabsyah binti Rafi’, Shahabiyah yang Mengabdikan Hidupnya untuk Rasulullah
Kisah Shafiyah binti Huyay: Dari Putri Pemuka Bani Nadhir Menjadi Ibu Kaum Mukminin
Rasulullah kemudian menawarkan kepadanya pilihan untuk kembali kepada kaumnya atau memeluk Islam dan menikah dengan beliau. Shafiyah memilih Islam dengan penuh kesadaran dan menerima pinangan Rasulullah.
Pernikahan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ikatan keluarga. Melalui pernikahan ini, hubungan antara kaum Muslimin dan sebagian masyarakat Yahudi menjadi lebih baik.
Selain itu, Rasulullah memberikan penghormatan yang tinggi kepada Shafiyah dengan membebaskannya dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar pernikahan.
Sebagai istri Rasulullah, Shafiyah dikenal memiliki akhlak yang baik, cerdas, dan penyabar. Meski terkadang menghadapi perlakuan yang kurang menyenangkan karena latar belakang keturunannya, ia tetap menunjukkan sikap lembut dan tidak mudah tersinggung.
Dalam sebuah riwayat, ketika ada yang mengejek asal-usulnya sebagai keturunan Yahudi, Rasulullah mengajarkan kepadanya untuk menjawab bahwa ayahnya adalah Nabi Harun, pamannya Nabi Musa, dan suaminya adalah Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan kemuliaan kedudukannya di sisi Allah.
Shafiyah juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Setelah wafatnya Rasulullah, ia banyak menginfakkan hartanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Kehidupannya dipenuhi dengan ibadah dan pengabdian kepada agama hingga akhir hayat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Shafiyah binti Huyay wafat pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan sekitar tahun 50 Hijriah. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi di Madinah, bersama sejumlah sahabat dan keluarga Rasulullah.
Kisah Shafiyah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul atau latar belakang keluarganya, melainkan oleh iman, ketakwaan, dan akhlaknya.
Dari putri seorang pemimpin Bani Nadhir, ia menjadi salah satu perempuan yang mendapat kehormatan besar sebagai Ummul Mukminin dan teladan bagi umat Islam sepanjang zaman. [DW]
Sumber: Biografi 35 Shahabiyah Nabi. Nurtsani dan Ahmad Rifai. Insan Kamil: 2016.





