• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 15 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Kisah

Sa`d bin Ubadah dan Kaum Anshar Mempertanyakan Keadilan Rasulullah

22/10/2022
in Kisah
Sa`d bin Ubadah dan Kaum Anshar Mempertanyakan keadilan Rasulullah

Foto: CQF-avocat/Pixabay

135
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

SA`D bin Ubadah dan Kaum Anshar pernah mempertanyakan keadilan Rasulullah. Ibnu Abbas menceritakan, “Dalam setiap peperangan, pasukan Rasulullah memiliki dua bendera: bendera kaum Muhajirin yang dibawa oleh Ali bin Abu Thalib dan bendera kaum Anshar yang dibawa Sa’d bin Ubadah.”

Baca Juga: Sa`d bin Ubadah Mempersilakan 80 Kaum Muhajirin Makan di Rumahnya

Sa`d bin Ubadah dan Kaum Anshar Mempertanyakan Keadilan Rasulullah

Sikap tegas sudah menjadi karakter orang yang memiliki kepribadian kuat ini. la tegas dalam membela kebenaran dan segala sesuatu yang menurutnya benar.

Jika ia meyakini sesuatu, maka ia menyatakannya secara terus terang tanpa ditutup-tutupi, dan melaksanakannya dengan tekad bulat tanpa kenal kompromi.

Pada peristiwa pembebasan kota Mekah, Rasulullah mengangkatnya sebagai kepala regu dari pasukan Islam. ketika mendekati pintu gerbang Tanah Suci ia berseru

“Hari ini hari berkecamuknya perang. Hari ini tidak ada lagi yang terlarang.”

Umar mendengar seruannya itu. la segera melaporkannya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku mendengar ucapan Sa’d bin Ubadah.

Kami khawatir dia akan menghabisi semua orang Quraisy.”

Maka, Nabi saw, memerintahkan Ali untuk menyusulnya dan mengambil alih kepernimpinan.

Ketika melihat Mekah telah tunduk dan menyerah kepada pasukan Islam yang datang membebaskannya, Sa’d teringat-akan semua siksaan yang dialami oleh kaum muslimin, yang juga pernah ia rasakan sendiri.

Begitu juga dengan peperangan yang mereka lancarkan kepada suatu kaum dan para penyeru, hanya karena mereka menyerukan kalimat “La ilaha illallah”.

Karena itu, sikap keras dan tegasnya mendorongnya untuk menindak orang-orang Quraisy dan membalas kejahatan mereka dengan tindakan yang setimpal dan bisa dilakukannya di hari pembebasan itu.

Sikapnya yang tegas atau sebut saja sikapnya yang militan ini, yang sudah menjadi karakternya, mengantarkannya mengambil sikap tegas pada peristiwa Saqifah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, sekelompok orang dari kaum Anshar berkumpul di Saqifah (pendopo) bani Sa’idah menyeru-kan agar khalifah pengganti Rasulullah diangkat dari kaum Anshar.

Menjadi khalifah pengganti Rasulullah adalah satu kemuliaan tersendiri, di dunia dan di akhirat. Karena itu, orang-orang dari kaum Anshar ingin mendapatkan kemuliaan ini.

Akan tetapi, Rasulullah pernah mengangkat Abu Bakar sebagai imam shalat menggantikan beliau ketika beliau sakit.

Kasus ini dan kasus lainnya, di mana Abu bakar adalah pendamping Rasulullah saat mereka di Gua Tsur, dipahami oleh para sahabat.

Mereka memahami bahwa Abu Bakar lebih berhak menduduki jabatan ini. Inilah yang dipahami Umar. Sementara di Sisi lain, Sa’d bin Ubadah punya pemahaman lain. Satu sikap yang tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan para sahabat.

Baca Juga: Ketika Umar Menghancurkan Rumah Mewah Saad bin Abi Waqqash

Sikap tegas dan keras seperti ini memang sudah menjadi karakternya. Seperti yang sudah kami sebutkan, Sa’d sangat gigih dengan apa yang sudah ia yakini, dan ia menyatakannya secara terus terang.

Karakternya yang tegas dan keras ini terlihat jelas dalam peristiwa yang terjadi beberapa saat setelah Perang Hunain.

Seusai Perang Hunain yang dimenangkan kaum muslimin, Rasulullah mulai membagi harta rampasan perang kepada kaum muslimin.

Saat itu, Rasulullah punya perhatian khusus kepada para mualaf dari kalangan pemuka kaum.

Rasulullah memberi mereka bagian seperti yang diberikan kepada para tentara yang membutuhkan. Adapun kaum muslimin yang imannya sudah mantap. Rasulullah percaya dengan keimanannya itu.

Mereka tidak mendapatkan bagian sedikit pun. Di luar itu, pemberian dari Rasulullah adalah satu kemuliaan tersendiri yang sangat didambakan oleh setiap orang.

Dan di luar itu, saat itu, harta rampasan perang merupakan pemasukan tersendiri yang menjadi tumpuan hidup kaum muslimin.

Dengan perasaan kecewa, orang-orang Anshar bertanya-tanya, mengapa mereka yang telah mantap keimanannya tidak diberi bagian.

Penyair mereka, Hasan bin Tsabit berkata dalam syairnya,-

“Datanglah kepada Rasulullah dan tanyakan,

‘Wahai Nabi yang tepercaya Jika semua manusia dihitung

mengapa bani Sulaim tidak terpanggil

padahal merekalah Para Pendahulu

merekalah yang memberi tempat

merekalah yang memberi Pertolongan

Anshar; ituiah sebutan Allah untuk mereka

Karena jasa mereka menolong agama Nya

mereka Pejuang di medan perang

semua musibah mereka terima

tanpa takut tanpa kecewa”

Pada bait-bait syair tersebut penyair kebanggaan Rasulullah dan kebanggaan orang-orang Anshar ini melukiskan kekecewaan yang dirasakan orang-orang Anshar disebabkan Nabi saw tidak memberikan bagian dari harta pampasan perang kepada orang-orang Anshar.

Pemuka Anshar, Sa’d bin Ubadah melihat dan mendengar warganya berbisik-bisik memperbincangkan hal ini. Maka, ia menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kaum Anshar merasa Kecewa terhadapmu atas pembagian harta rampasan yang kau lakukan. Kaummu mendapatkan bagian.

Beberapa kabilah Arab juga mendapat bagian yang besar. Sedangkan orang-orang Anshar tidak mendapatkan bagian apa-apa.

Begitulah, laki-laki yang suka keterusterangan ini mengungkapkan isi hatinya dan isi hati kaummya. la menceritakan kondisi yang sebenarnya kepada Rasulullah.

Rasulullah bertanya kepadanya, “Sedangkan kamu sendiri, wahai Sa’d, apa pendapatmu?”

Artinya, jika itu pendapat kaummu lantas apa pendapatmu? Dengan terus terang ia menjawab, “Aku ini bagian dari mereka.”

Nabi bersabda, “Kalau begitu, kumpulkan kaummu.”

Sa’d mengumpulkan kaum Anshar, lalu Rasulullah menemui mereka. Wajah-wajah mereka terlihat penuh kekecewaan.

Beliau memandang mereka dengan senyum menandakan penghargaan atas sikap mereka. Beliau bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Anshar, aku mendengar ucapan kalian. Aku mendengar kekecewaan kalian atas tindakanku.

Bukankah aka datang kepada kalian, saat kalian berada dalam kondisi tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian?

Bukankah saat itu kalian dalam kondisi kekurangan lalu Allah mencukupi kalian?

Bukankah saat itu kalian saling bermusuhan lalu Allah mempersatukan hati kalian?”

Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Allah dan Rasul-Nya lebih pemurah dan lebih utama.”

Rasulullah bersabda, “Maukah kalian menyambut seruanku, wahai orang-orang Anshar?”

Mereka menjawab, “Dengan apa kami sambut seruanmu, wahai Rasulullah? Bagi Allah dan RasuI-Nya pemberian dan keutamaan. ”

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti akan mengatakan dan kalian pasti membenarkannya dan dibenarkan,

‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, maka kami membenarkanmu.

Engkau datang kepada kami dalam keadaan dikalahkan, maka kami menolongmu.

Engkau datang kepada kami dalam keadaan butuh, maka kami membantumu.

Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir, maka kami memberimu tempat. ‘

Wahai orang-orang Anshar, apakah kalian kecewa jika aku memberikan sedikit harta dunia kepada sekelompok orang agar mereka masuk Islam, sedangkan kalian sudah memiliki keislaman yang mantap?

Wahai orang-orang Anshar, tidakkah kalian puas, jika orang lain pulang membawa kambing dan unta, lalu kalian pulang dan Rasulullah berada dalam rombongan kalian?

Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalau tidaklah karena hijrah, tentulah aku termasuk golongan Anshar.

Seandainya orang-orang menempuh jalannya sendiri-sendiri, pastilah aku akan mengikuti jalannya orang-orang Anshar. Ya Allah, berilah rahmat kepada kaum Anshar dan anak cucu mereka.”

Orang-orang Anshar itu langsung menangis tersedu-sedu hingga janggut mereka basah oleh air mata. Kata-kata Rasulullah itu telah menyiramkan kedamaian ke dalam hati mereka, kekayaan ke dalam jiwa mereka, dan keselamatan ke dalam diri mereka.

Dengan serentak, mereka berseru, termasuk Sa’d bin Ubadah, “Kami ridha kepada Rasulullah, atas pembagian dan pemberiannya.”  [Cms]

Sumber : Biografi 60 Sahabat Nabi, Penerbit Al Itihsom

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Hadits Arbain 19:  Jagalah Allah, Kebaikan dan Keburukan atas Izin-Nya

Next Post

Hadir di JMFW 2023, Kursien Karzai Hadirkan Koleksi Busana dari Keindahan Pohon Kelapa

Next Post
Hadir di JMFW 2023, Kursien Karzai Hadirkan Koleksi Busana dari Keindahan Pohon Kelapa

Hadir di JMFW 2023, Kursien Karzai Hadirkan Koleksi Busana dari Keindahan Pohon Kelapa

Pejabat Mundur karena Gagal

Pejabat Mundur karena Gagal

Intip Koleksi Opie Ovie Angkat Tema Merona Senja di JMFW 2023

Intip Koleksi Opie Ovie Angkat Tema Merona Senja di JMFW 2023

  • Persiapan Menghadapi Akhir Zaman, Kenali Keutamaan Surat Al-Kahfi

    Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4421 shares
    Share 1768 Tweet 1105
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8655 shares
    Share 3462 Tweet 2164
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11453 shares
    Share 4581 Tweet 2863
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    955 shares
    Share 382 Tweet 239
  • Mengenal Tiga Warna Favorit Nabi Muhammad

    286 shares
    Share 114 Tweet 72
  • Bacaan Doa saat Duduk Tasyahud Akhir Lengkap Beserta Latin dan Terjemahannya

    2231 shares
    Share 892 Tweet 558
  • Viral, Koin Uang 1000 Kelapa Sawit bisa Mencapai Rp120 Juta

    254 shares
    Share 102 Tweet 64
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2218 shares
    Share 887 Tweet 555
  • Kedudukan Hewan ketika Mati, Masuk Surga atau Neraka?

    247 shares
    Share 99 Tweet 62
  • Hukum Tahajud setelah Subuh karena Telat Bangun

    1399 shares
    Share 560 Tweet 350
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga