A’SHIM bin Tsabit Al-Anshari merupakan nama seorang sahabat yang namanya mungkin tidak setenar para khalifah, tetapi memiliki kisah yang sangat mengharukan dan penuh pelajaran tentang keikhlasan serta pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.
A’shim bin Tsabit berasal dari kaum Anshar di Madinah. Ia termasuk sahabat yang memiliki keberanian tinggi dan selalu siap membela Islam. Dalam beberapa peperangan penting bersama Rasulullah SAW, A’shim menunjukkan kesetiaan dan keberanian yang luar biasa. Ia juga dikenal sebagai seorang pemanah yang andal di medan perang.
Salah satu peristiwa yang membuat namanya dikenang dalam sejarah terjadi setelah Perang Uhud. Dalam peperangan tersebut, A’shim berhasil mengalahkan beberapa musuh Islam yang sangat memusuhi kaum Muslimin. Peristiwa itu membuat sebagian keluarga musuh menyimpan dendam dan bertekad membalas kematian kerabat mereka.
Baca Juga: Kisah Teladan Abu Thalhah Al-Anshari yang Mengorbankan Harta Terbaiknya untuk Islam
Mengenal A’shim bin Tsabit, Syuhada yang Dijaga Allah Setelah Wafat
Beberapa waktu kemudian, Rasulullah SAW mengutus sekelompok sahabat untuk mengajarkan Islam kepada suatu kabilah. Namun ternyata perjalanan tersebut merupakan jebakan. Rombongan kecil kaum Muslimin itu diserang oleh pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar dalam peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Ar-Raji’.
Ketika dikepung, sebagian sahabat ditawari untuk menyerah. Namun A’shim bin Tsabit memilih bertahan dan melawan. Baginya, lebih baik gugur sebagai seorang Muslim daripada menyerahkan diri kepada musuh yang ingin mempermalukan kaum beriman.
Dengan keberanian yang luar biasa, A’shim dan beberapa sahabat lainnya terus bertempur meskipun jumlah mereka sangat sedikit. Hingga akhirnya ia syahid di medan tersebut. Namun kisahnya tidak berhenti sampai di situ.
Musuh-musuh Islam yang masih menyimpan dendam ingin membawa kepala A’shim sebagai bukti keberhasilan mereka. Mereka berharap dapat menjual atau menyerahkannya kepada pihak yang menginginkan balas dendam atas kematian anggota keluarganya.
Akan tetapi Allah memiliki kehendak lain. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa setelah A’shim wafat, Allah mengirimkan segerombolan lebah atau serangga yang mengerumuni jasadnya. Kehadiran serangga-serangga tersebut membuat musuh tidak berani mendekati tubuh A’shim.
Mereka menunggu hingga malam hari dengan harapan serangga-serangga itu pergi. Namun Allah kembali menjaga jasad sahabat-Nya. Turunnya hujan deras menyebabkan aliran air membawa jasad A’shim sehingga musuh tidak berhasil mengambil bagian tubuhnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada A’shim bin Tsabit. Semasa hidupnya, ia pernah berdoa agar Allah menjaga dirinya dari sentuhan orang-orang musyrik. Setelah wafat, Allah mengabulkan doa tersebut dengan cara yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Kisah A’shim mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak selalu terlihat secara langsung ketika seseorang masih hidup. Kadang Allah menunjukkan kemuliaan hamba-Nya bahkan setelah mereka meninggalkan dunia. Keteguhan iman, keberanian membela kebenaran, dan keikhlasan dalam berjuang tidak pernah sia-sia di sisi Allah. [DW]
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.





