TIDAK semua orang mampu mempertahankan keyakinan ketika menghadapi ancaman dan penderitaan. Sebagian mungkin memilih menyerah karena tidak sanggup menanggung rasa sakit. Namun sejarah Islam mencatat sosok sahabat Rasulullah SAW yang tetap teguh memeluk Islam meskipun harus melewati penyiksaan yang sangat berat. Namanya adalah Khabbab bin al-Aratt RA.
Khabbab termasuk golongan Muslim pertama yang menerima dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa keimanan bukan sekadar ucapan. Keyakinan membutuhkan keteguhan hati dan kesabaran ketika seseorang menghadapi ujian. Dari kisahnya ada banyak pelajaran berharga yang dapat direnungkan oleh umat Islam hingga sekarang.
Baca Juga: Apa Saja Manfaat Jus Jambu Biji untuk Kesehatan Ibu Hamil dan Janin?
Kisah Khabbab bin al-Aratt Sahabat Rasulullah yang Teguh Mempertahankan Iman meski Disiksa
Mengenal Sosok Khabbab bin al-Aratt
Khabbab bin al-Aratt RA merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal karena keteguhan imannya. Ia termasuk orang yang lebih dahulu memeluk Islam ketika dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi di Makkah.
Sebelum memeluk Islam Khabbab hidup dalam keadaan yang tidak mudah. Ia pernah menjadi budak dan bekerja sebagai pandai besi. Pekerjaannya berkaitan dengan pembuatan pedang. Kondisi sosialnya membuat ia tidak memiliki perlindungan kuat ketika mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang menentang Islam.
Ketika memilih mengikuti ajaran Rasulullah SAW Khabbab harus menghadapi ancaman dan penyiksaan. Akan tetapi tekanan tersebut tidak membuatnya meninggalkan keyakinan kepada Allah SWT.
Tetap Beriman meski Mengalami Penyiksaan
Masa awal penyebaran Islam di Makkah merupakan periode yang penuh tantangan. Kaum Muslimin yang tidak memiliki perlindungan keluarga atau kedudukan sosial sering menjadi sasaran kekerasan kaum Quraisy.
Khabbab termasuk salah satu sahabat yang mengalami penderitaan tersebut. Sejumlah riwayat sejarah menyebutkan bahwa ia disiksa dengan cara dibaringkan di atas bara api. Bahkan terdapat kisah bahwa tubuhnya ditindih agar tidak dapat bergerak ketika mengalami penyiksaan.
Dalam riwayat yang disebutkan dalam kitab biografi sahabat Khabbab pernah memperlihatkan bekas penyiksaan di punggungnya kepada Umar bin Khattab RA. Umar merasa sangat prihatin ketika melihat kondisi tersebut.
Penderitaan yang dialami Khabbab menunjukkan betapa besar pengorbanan generasi pertama umat Islam dalam mempertahankan akidah. Meski mendapatkan perlakuan kejam ia tidak bersedia menukar keimanannya dengan keselamatan sementara.
Mengadu kepada Rasulullah SAW tentang Beratnya Ujian
Salah satu kisah Khabbab yang terkenal tercatat dalam hadis sahih Bukhari nomor 3612. Dalam riwayat tersebut Khabbab bersama sejumlah sahabat datang mengadukan penderitaan mereka kepada Rasulullah SAW ketika beliau berada di bawah naungan Ka’bah.
Mereka meminta Rasulullah SAW berdoa agar pertolongan Allah segera datang. Mereka tentu berharap agar penyiksaan yang dialami kaum Muslimin segera berakhir.
Rasulullah SAW kemudian mengingatkan tentang orang-orang beriman pada masa terdahulu yang mengalami penyiksaan jauh lebih berat. Ada yang tubuhnya disisir menggunakan sisir besi hingga dagingnya terlepas. Ada pula yang dibelah tubuhnya menggunakan gergaji. Namun penderitaan tersebut tidak membuat mereka meninggalkan agama.
Rasulullah SAW juga menyampaikan kabar bahwa agama ini akan mencapai kemenangan dan keamanan akan terwujud. Beliau mengingatkan para sahabat agar tidak tergesa-gesa dalam menghadapi ujian.
Nasihat tersebut menjadi penguat bagi Khabbab dan kaum Muslimin lainnya. Mereka belajar bahwa pertolongan Allah memiliki ketetapan waktu yang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Tidak Menggadaikan Iman demi Harta
Keteguhan Khabbab juga terlihat ketika ia berhadapan dengan Al-Ash bin Wa’il. Dalam hadis sahih Bukhari nomor 2091 diceritakan bahwa Khabbab pernah memiliki piutang kepada orang tersebut.
Ketika Khabbab meminta haknya Al-Ash justru menolak membayar kecuali Khabbab bersedia mengingkari Nabi Muhammad SAW. Namun Khabbab dengan tegas menolak permintaan tersebut.
Ia menyatakan tidak akan meninggalkan Islam sampai orang itu meninggal dan dibangkitkan kembali. Kisah ini menunjukkan bahwa harta tidak lebih berharga daripada keimanan. Khabbab memilih mempertahankan keyakinannya daripada memperoleh kembali hak duniawi dengan mengorbankan agama.
Pelajaran Teladan dari Khabbab bin al-Aratt
Ada beberapa pelajaran penting dari kehidupan Khabbab bin al-Aratt. Pertama adalah keteguhan iman. Ia membuktikan bahwa keyakinan kepada Allah harus dijaga dalam keadaan apa pun.
Kedua adalah kesabaran ketika menghadapi ujian. Khabbab tidak membiarkan penderitaan menghapus kepercayaannya kepada pertolongan Allah.
Ketiga adalah keberanian mempertahankan kebenaran. Ia tidak takut menghadapi tekanan meskipun harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Keempat adalah tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan. Kisahnya dengan Al-Ash bin Wa’il memperlihatkan bahwa prinsip agama tidak boleh diperjualbelikan demi keuntungan dunia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Khabbab bin al-Aratt wafat pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA sekitar tahun 37 Hijriah. Namanya tetap dikenang sebagai salah satu sahabat yang memiliki keteguhan luar biasa.
Kisah Khabbab mengajarkan bahwa perjalanan mempertahankan iman tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang harus menghadapi kesulitan dan pengorbanan. Namun selama tetap berpegang pada kebenaran serta memohon pertolongan Allah maka setiap ujian dapat menjadi jalan untuk memperkuat keimanan. [DW]





