SEJARAH Islam mencatat terdapat banyak sahabat yang menunjukkan pengorbanan luar biasa demi mempertahankan keimanan mereka. Salah satu di antaranya adalah Abdullah Al-Muzani yang lebih dikenal dengan julukan Dzu Al-Bijadain. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu mengalahkan kecintaan terhadap harta, keluarga, dan kenyamanan dunia.
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdul Nuhm Al-Muzani. Sejak kecil, ia hidup dalam kecukupan. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia diasuh oleh pamannya yang kaya raya. Abdullah tumbuh sebagai pemuda yang disegani dan menikmati berbagai fasilitas hidup. Namun ketika cahaya Islam mulai menyebar di Jazirah Arab, hatinya tertarik untuk memeluk agama yang dibawa Rasulullah SAW.
Keinginannya untuk masuk Islam ternyata mendapat penolakan keras dari pamannya. Sang paman tidak hanya melarangnya memeluk Islam, tetapi juga mengancam akan mengambil seluruh harta dan fasilitas yang selama ini dinikmatinya.
Baca Juga: Kisah Teladan Abu Thalhah Al-Anshari yang Mengorbankan Harta Terbaiknya untuk Islam
Dzu Al-Bijadain, Sahabat yang Meninggalkan Segalanya Demi Islam
Abdullah dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Ia bisa mempertahankan kemewahan hidupnya dengan meninggalkan Islam, atau menerima Islam dengan risiko kehilangan segalanya. Dengan keyakinan yang kuat, ia memilih Allah dan Rasul-Nya.
Pamannya benar-benar melaksanakan ancamannya. Seluruh harta milik Abdullah diambil kembali. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun tidak luput dari tuntutan sang paman. Abdullah akhirnya hanya memiliki selembar kain kasar yang kemudian dibelah menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk menutupi tubuh bagian atas, sementara bagian lainnya digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Ketika tiba di Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW, penampilannya sangat sederhana. Namun justru dari peristiwa itulah ia mendapatkan julukan yang terkenal. Rasulullah SAW memanggilnya dengan sebutan Dzu Al-Bijadain, yang berarti “pemilik dua lembar kain”. Julukan tersebut kemudian melekat hingga akhir hayatnya.
Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Abdullah tidak pernah menyesali keputusannya. Ia justru semakin giat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Para sahabat mengenalnya sebagai pribadi yang rajin membaca Al-Qur’an dan memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu agama.
Salah satu peristiwa yang menunjukkan kemuliaannya terjadi pada Perang Tabuk. Dalam perjalanan tersebut, Abdullah ikut bersama pasukan kaum Muslimin. Namun takdir Allah menetapkan bahwa ia jatuh sakit dan meninggal dunia sebelum kembali ke Madinah.
Malam hari setelah wafatnya Abdullah, Rasulullah SAW ikut menyaksikan proses pemakamannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi sendiri turun ke liang lahad untuk membantu proses penguburan. Rasulullah kemudian berdoa agar Allah meridhai Abdullah.
Ibnu Mas’ud yang menyaksikan peristiwa itu bahkan pernah mengungkapkan rasa harunya. Ia berharap seandainya dirinya yang berada di tempat Abdullah karena melihat betapa besarnya perhatian Rasulullah kepada sahabat tersebut.
Kisah Dzu Al-Bijadain mengajarkan bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau kedudukan. Abdullah kehilangan kekayaan dunia, tetapi ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu keridhaan Allah dan kecintaan Rasulullah SAW. [DW]
Sumber: 65 Kisah Teladan Sahabat Nabi. Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya. Kaunee: 2008.





