SEMANGAT beribadah merupakan sesuatu yang mulia. Namun, kisah Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu menunjukkan bahwa semangat yang besar pun perlu diarahkan agar tetap sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Ia dikenal sebagai sahabat yang tekun beribadah, rajin berpuasa, banyak melakukan salat, sekaligus memiliki kecintaan yang kuat terhadap ilmu dan hadis.
Abdullah bin Amr bin Al-Ash adalah putra Amr bin Al-Ash, seorang tokoh Quraisy yang kemudian menjadi sahabat Nabi. Abdullah termasuk sahabat yang masuk Islam lebih dahulu daripada ayahnya. Ia juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu. Dengan izin Rasulullah, ia menulis hadis-hadis yang didengarnya secara langsung. Catatan tersebut kemudian dikenal sebagai Ash-Shahifah Ash-Shadiqah.
Baca Juga: Jejak Jamilah Binti Tsabit, Sahabiyah yang Namanya Diabadikan Rasulullah
Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Ahli Ibadah yang Belajar Menata Kembali Semangatnya
Selain tekun mencari ilmu, Abdullah memiliki semangat ibadah yang sangat tinggi. Ia pernah berusaha menjalankan puasa setiap hari dan mengerjakan salat malam sepanjang waktu. Semangat tersebut tentu lahir dari keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, Rasulullah kemudian memberikan nasihat agar Abdullah tidak membebani dirinya secara berlebihan.
Dalam riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah bertanya kepada Abdullah mengenai kabar bahwa ia berpuasa setiap hari dan mengerjakan salat malam tanpa banyak beristirahat. Abdullah membenarkan hal tersebut.
Rasulullah kemudian mengajarkan bahwa tubuh juga memiliki hak. Rasul menyarankan Abdullah berpuasa dan berbuka, tidur dan mengerjakan salat malam. Bahkan, ketika Abdullah menawarkan diri untuk menjalankan puasa lebih banyak, Rasulullah mengarahkannya pada pola yang lebih seimbang, hingga akhirnya menyebut puasa Nabi Dawud sebagai bentuk puasa yang utama: berpuasa sehari dan berbuka sehari.
Kisah ini memberikan pelajaran penting. Menjadi ahli ibadah bukan berarti seseorang harus terus-menerus memaksakan dirinya. Islam mengajarkan semangat beribadah sekaligus memperhatikan kemampuan tubuh dan kewajiban lainnya.
Bagi Abdullah bin Amr, nasihat tersebut menjadi bagian dari proses belajar dalam menjalankan agama. Ia tidak kehilangan semangat untuk beribadah, tetapi belajar menempatkan ibadah sesuai dengan kemampuan dan tuntunan Nabi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisahnya juga mengingatkan bahwa memperbaiki diri tidak selalu berarti meninggalkan ibadah, melainkan memperbaiki cara kita dalam menjalankannya. Seseorang mungkin memiliki semangat yang besar, tetapi tetap membutuhkan ilmu agar semangat tersebut tidak berubah menjadi sikap berlebihan.
Abdullah kemudian dikenang bukan hanya sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai perawi hadis dan pencatat ilmu yang tekun. Ketelitiannya dalam menjaga hadis membuat namanya memiliki tempat penting dalam sejarah periwayatan Islam.
Dari perjalanan Abdullah bin Amr, kita dapat belajar bahwa kedekatan kepada Allah membutuhkan kesungguhan sekaligus kebijaksanaan. Jika suatu amalan membuat kita meninggalkan hak tubuh, keluarga, atau kewajiban lainnya, maka semangat tersebut perlu ditata kembali.
Taubat dan perbaikan diri pun tidak harus selalu dimulai dari sebuah dosa besar. Terkadang, seseorang perlu memperbaiki cara beragama agar lebih sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Semangat adalah modal, tetapi ilmu dan keseimbangan adalah penjaganya. [DW]
Sumber: Dahsyatnya Ibadah Para Sahabat Rasulullah. Yanuar Arifin. Noktah: 2020.





