ADA satu kebiasaan yang diam-diam sering menguras ketenangan hati, yaitu membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Di era media sosial, hal ini menjadi semakin mudah dilakukan. Kita melihat orang lain tampak sukses, bahagia, memiliki keluarga harmonis, karier yang cemerlang, atau rezeki yang melimpah. Tanpa sadar, muncul pertanyaan dalam hati, “Mengapa hidup mereka terlihat lebih indah daripada hidupku?”
Padahal, pertanyaan seperti itu justru membuat hati semakin jauh dari rasa syukur. Kita sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi lupa menghargai nikmat yang Allah titipkan kepada diri sendiri.
Sebagaimana pesan dalam postingan tersebut, tanda seseorang mulai selesai dengan dirinya sendiri adalah ketika ia berhenti bertanya mengapa hidup orang lain tampak lebih baik. Sebaliknya, ia mulai mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting, yaitu, “Sudahkah hari ini aku menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah?”
Perubahan cara bertanya ini tampak sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Fokus hidup tidak lagi tertuju pada pencapaian manusia, melainkan pada hubungan dengan Sang Pencipta. Seseorang tidak lagi mengukur keberhasilan dari seberapa banyak pujian yang diterima atau seberapa tinggi pencapaiannya dibanding orang lain, tetapi dari seberapa baik ia menjalani amanah yang Allah berikan.
Baca Juga: Nikmat Allah Tidak Akan Pernah Bisa Dihitung oleh Manusia
Saat Berhenti Membandingkan Hidup, Saat Itulah Hati Menemukan Ketenangan
Ketika hati masih dipenuhi keinginan untuk selalu menjadi lebih hebat daripada orang lain, kita akan mudah merasa iri, kecewa, bahkan lelah. Akan selalu ada orang yang lebih kaya, lebih pintar, lebih terkenal, atau lebih beruntung menurut pandangan kita. Perlombaan seperti ini tidak akan pernah selesai.
Namun saat seseorang mulai mengenal dirinya di hadapan Allah, perlombaan itu perlahan berakhir. Ia menyadari bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Allah tidak meminta semua hamba memiliki takdir yang sama, tetapi meminta setiap hamba menjalani takdirnya dengan penuh keimanan dan kesabaran.
Orang yang telah selesai dengan dirinya juga tidak lagi merasa harus memenangkan setiap perdebatan. Ia tidak sibuk mencari pengakuan atau membuktikan bahwa dirinya lebih baik. Hatinya menjadi lebih tenang karena ia tahu bahwa penilaian manusia tidak akan menentukan nilai dirinya di sisi Allah.
Bukan berarti ia berhenti berusaha menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, ia terus memperbaiki diri setiap hari. Hanya saja, ukuran keberhasilannya berubah. Ia lebih sibuk memperbaiki akhlak daripada membangun citra. Ia lebih ingin dicintai Allah daripada sekadar dipuji manusia.
Pertanyaan yang setiap hari ia tanamkan dalam hati bukan lagi, “Apakah aku lebih sukses daripada orang lain?” melainkan, “Apakah hari ini aku lebih baik daripada diriku yang kemarin?” Pertanyaan inilah yang akan mendorong seseorang untuk terus bertumbuh tanpa harus merasa iri terhadap perjalanan hidup orang lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, ketenangan bukan datang karena kita memiliki hidup yang paling sempurna. Ketenangan lahir ketika kita menerima bahwa Allah telah menuliskan jalan terbaik untuk setiap hamba-Nya. Saat kita berhenti membandingkan takdir dan mulai memperbaiki hubungan dengan Allah, hati akan menemukan kedamaian yang selama ini dicari.
Maka, jika hari ini masih mudah merasa gelisah melihat kehidupan orang lain, cobalah mengubah fokus. Kurangi membandingkan, perbanyak bersyukur. Kurangi iri terhadap pencapaian orang lain, perbanyak memperbaiki ibadah dan akhlak. Sebab kebahagiaan sejati bukan ketika hidup kita lebih indah dari orang lain, tetapi ketika kita semakin dekat dengan Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Sumber: Instagram dr.Zaidul Akbar





