DALAM perjalanan dakwahnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya dikenal karena keteguhan iman dan kedalaman spiritualitasnya, tetapi juga karena kecerdasan sosial yang luar biasa dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan.
Ia mampu menempatkan diri secara tepat, memahami kondisi psikologis orang lain, serta menyampaikan pesan dengan cara yang bijak dan penuh empati.
Pendekatan inilah yang menjadikan ajaran Islam dapat diterima secara luas dan menyentuh hati masyarakat dari beragam latar belakang.
Melalui pemahaman terhadap kecerdasan sosial Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, umat dapat mengambil teladan dalam membangun hubungan yang harmonis dan penuh hikmah di tengah kehidupan sosial yang semakin kompleks.
Setelah ditolak keras oleh penduduk Thaif, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa langsung masuk ke Makkah karena ancaman kafir Quraisy.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membutuhkan bantuan perlindungan dari, minimal satu tokoh Quraisy yang disegani.
Dan pilihannya jatuh kepada Muth’im bi Adi, tokoh kafir Quraisy dari Bani Naufal.
Dengan Muth’im bin Adi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah lama berteman baik karena sama sama aktif di perkumpulan Hifdul Fudhul.
Suatu aliansi para aktivis kebaikan yang fokus kepada membela orang orang yang mengalami pendzaliman di kota Mekkah.
Kemudian Muth’im memerintahkan anak anaknya untuk bersenjata dan bersama sama mengawal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki pelataran dan thawaf sekeliling Kakbah.
Dan pada kesempatan itu Muth’im bin Adi mengumumkan bahwa Muhammad bin Abdullah ada dalam perlindungannya dan tidak seorang pun yang boleh mengganggu keselamatannya.
Mendalami Kecerdasan Sosial Nabi Muhammad
Sehingga mengundang tanya para tokoh Quraisy, apakah engkau (Muth’im) telah memeluk agamanya Muhammad ataukah hanya melindungi!
“Tidak, aku hanya memberikan perlindungan keamanan saja…” jawab Muth’im.
Kisah ini bukan saja menunjukkan luasnya lingkaran pergaulan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kemudian menjadi modal sosial guna mendukung peejuangan dakwahnya, tetapi juga menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memilki kecerdasan sosial yang mumpuni.
Sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu tepat dalam memilih dan memperlakukan orang lain.
Menurut teori, kecerdasan sosial adalah kemampuan individu atau seseorang untuk memahami, berinteraksi, dan merespons orang lain serta lingkungan sosial nya secara efektif, positif dan bijaksana.
Kecerdasan sosial mencakup kepekaan terhadap perasaan orang lain (empati), kemampuan komunikasi, serta manajemen konflik yang konstruktif.
Selain modal sosial, suksesnya rekrutmen dan pembinaan para sahabat menjadi jundiyah muthi’ah juga sangat dipengaruhi oleh kecerdasan sosial beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Efektifitas rekrutmen dan pembinaan sangat dipengaruhi oleh luasnya modal sosial dan kecerdasan sosial para rekuiter dan pembina.
Baca juga: Melatih Sikap Empati, Kemampuan Dasar Bagi Konselor
Dalam kajian ilmu sosial, seseorang disebut memiliki kecerdasan sosial yang tinggi bila memiliki:
(1). Empati Tinggi, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (HR. Al-Hakim dan Thabrani)
(2). Pendengar Aktif, yaitu mampu menjadi pendengar aktif memberikan perhatian penuh dan memahami situasi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikenal sebagai pendengar yang baik. Ketika Amr ibn Al-Jamuh (seorang sahabat yang pincang) bersikeras ikut Perang Uhud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengarkan keluhan putranya, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian (active listening) pembelaan Amr tanpa memotong dan dengan empati. Baru kemudian membuat keputusan.
(3). Komunikasi Efektif. Pandai berbicara secara efektif dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tipe kepribadian.
Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (kemampuan pemahaman) mereka.” (HR. Muslim).
(4). Manajemen Konflik
Mampu menengahi perbedaan dan mencari solusi damai dengan berbagai pihak. Sebelum menjadi nabi, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah mampu menjadi penengah atau problem solver bagi masyarakat Quraisy yang diujung konflik tentang siapa yang paling berhak dalam pemasangan kembali Hajar Aswad saat pemugaran Ka’bah.
Saat setelah hijrah ke Madinah, mampu menyatukan berbagai komponen kekuatan melalui “Piagam Madinah”.
(5). Kesadaran Situasi. Hal ini terkait dengan pemahaman terhadap norma sosial yang berlaku dan kepiawaian dalam membaca bahasa tubuh. Ada sebuah kaidah:
العادة محكمة
“Adat/kebiasaan dapat dijadikan sebagai (dasar) hukum.”
Dalam surat Al Hujurat dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (li-ta’arafu).
Saling mengenal ini mencakup memahami dan menghormati latar belakang budaya masing-masing. Dan selanjutnya mampu bersikap secara presisi sesuai dengan lingkungan sosial yang dihadapi.
Dakwah yang sedang kita tapaki adalah dakwah yang berorientasi pada terjadinya perubahan sosial.
Bukan sekedar menjadikan seseorang yang saleh secara ritual tetapi tidak memiliki kesalehan sosial.
Bukan hanya menjadi rahib yang ahli ibadah tetapi juga menjadi fursanun, penunggang kuda yang pemberani, produktif dan bermanfaat luas.
Dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhasil melakukan perubahan sosial dari masyarakat jahiliah menjadi masyarakat tauhid dan berkeadilan, sejahtera hidupnya, mandiri dan berwibawa diantara bangsa bangsa lainnya diantaranya disebabkan oleh modal sosial dan kecerdasan sosial Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat.
Karenanya menjadi tugas dan pekerjaan para dai dan aktivis dakwah untuk memperluas modal sosial dan meningkatkan kecerdasan sosial nya agar rekrutmen lebih beragam dan lebih sukses.[Sdz]
Sumber: Madrasatuna





