ISLAM tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dalam keadaan berlebihan, tetapi juga tidak menganjurkan seseorang sengaja tampil lusuh ketika Allah telah memberikan kemampuan untuk hidup dengan layak. Salah satu pesan yang menarik dalam hal ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melalui sabdanya: “Jika Allah memberimu harta, maka tampakkanlah wujud nikmat Allah dan pemberian-Nya itu pada dirimu.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan menjadi pengingat agar seorang Muslim mampu menghargai rezeki yang telah diberikan kepadanya.
Baca Juga: Zainab Ats-Tsaqifiyah, Shahabiyah yang Mengajarkan Sedekah Dimulai dari Rumah
Menampakkan Nikmat Allah Tanpa Terjebak Kemewahan
Menampakkan nikmat Allah bukan berarti harus mengenakan pakaian mahal, membeli barang bermerek, atau memamerkan kekayaan kepada orang lain. Maknanya lebih kepada menjaga diri agar tetap terlihat pantas, bersih, rapi, dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika seseorang memiliki rezeki yang cukup untuk membeli pakaian yang baik, maka tidak semestinya ia sengaja menggunakan pakaian yang sudah tidak layak hanya demi terlihat sederhana.
Kisah Hasan yang disebutkan dalam Faidhul Qadir juga memberikan gambaran menarik. Ketika seseorang mengomentari pakaian Hasan yang halus dan bagus, ia menjelaskan bahwa pakaian yang baik tidak otomatis menjauhkan seseorang dari Allah. Sebaliknya, pakaian yang kasar dan lusuh juga tidak otomatis membuat seseorang lebih dekat kepada-Nya. Sebab, Allah menyukai keindahan.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ukuran kesalehan bukan terletak pada mahal atau sederhananya pakaian. Yang jauh lebih penting adalah hati dan sikap seseorang dalam menggunakan nikmat tersebut. Kekayaan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur, bukan semakin sombong.
Di sisi lain, Islam juga memberikan batas agar seseorang tidak berlebihan dalam menikmati harta. Memperlihatkan nikmat bukan berarti mempertontonkan seluruh kekayaan kepada orang lain. Sikap bermewah-mewahan dapat menumbuhkan kesombongan, memancing iri hati, bahkan berpotensi mengundang kejahatan.
Rasulullah juga memberikan teladan yang seimbang. Kepada orang yang terlalu condong pada kemewahan, beliau mengajarkan kesederhanaan agar hatinya tetap rendah hati. Sebaliknya, kepada orang yang berlebihan dalam berhemat hingga mengabaikan penampilan yang semestinya, beliau menganjurkan untuk memperbaikinya.
Dengan demikian, seorang Muslim sebaiknya menempatkan harta secara proporsional. Tidak perlu malu menikmati rezeki Allah selama diperoleh dengan cara halal dan digunakan secara bijak. Pakaian yang bersih, rumah yang terawat, makanan yang baik, dan penampilan yang rapi dapat menjadi bagian dari rasa syukur.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, yang perlu dihindari bukanlah keindahan, melainkan kesombongan dan berlebihan. Nikmat Allah boleh terlihat pada diri seseorang, tetapi hendaknya tetap disertai kerendahan hati, rasa syukur, dan kepedulian kepada sesama. Sebab, harta bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, melainkan juga amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Sumber: Ustadz Faisal Kunhi M.A.
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





