DALAM kehidupan, setiap manusia pasti memiliki harapan dan kebutuhan yang ingin diwujudkan. Ada yang sedang memohon kesembuhan, menginginkan pekerjaan yang lebih baik, berharap segera dipertemukan dengan jodoh, atau memohon kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebagai seorang muslim, salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah ketika memiliki hajat adalah dengan melaksanakan shalat hajat.
Shalat hajat merupakan ibadah sunnah yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam urusan yang sedang dihadapi. Melalui shalat ini, seorang hamba menunjukkan bahwa hanya Allah tempat bergantung dan memohon pertolongan.
Baca Juga: Beragam Manfaat Jambu Jamaika untuk Ibu Hamil
Memahami Shalat Hajat: Keutamaan, Jumlah Rakaat, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Keutamaan Shalat Hajat
Salah satu hikmah terbesar dari shalat hajat adalah menguatkan keyakinan bahwa segala urusan berada di tangan Allah. Ketika seseorang berdiri dalam shalat, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, lalu memanjatkan doa dengan penuh keikhlasan, ia sedang melatih dirinya untuk bertawakal kepada Sang Pencipta.
Shalat hajat juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kondisi apa pun, baik saat lapang maupun sempit, seorang muslim diajarkan agar selalu mengingat-Nya. Ibadah ini mengingatkan bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui cara yang tidak pernah disangka-sangka.
Selain itu, memperbanyak shalat sunnah termasuk amalan yang dicintai Allah. Walaupun tidak ada jaminan bahwa setiap permintaan langsung dikabulkan sesuai keinginan, seorang muslim meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik pada waktu yang paling tepat.
Berapa Rakaat Shalat Hajat?
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa shalat hajat paling sedikit dilakukan sebanyak dua rakaat. Setelah selesai melaksanakan shalat, dianjurkan memperbanyak doa sesuai kebutuhan masing-masing.
Sebagian ulama juga membolehkan pelaksanaannya lebih dari dua rakaat, misalnya empat atau enam rakaat dengan salam setiap dua rakaat. Namun, yang paling umum diamalkan masyarakat adalah dua rakaat.
Karena termasuk shalat sunnah, pelaksanaannya cukup fleksibel. Shalat hajat dapat dilakukan pada siang maupun malam hari selama bukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat, seperti setelah shalat Subuh hingga matahari terbit, ketika matahari tepat berada di atas kepala, dan setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.
Banyak ulama juga menganjurkan mengerjakannya pada sepertiga malam terakhir karena waktu tersebut termasuk saat yang istimewa untuk berdoa kepada Allah.
Tata Cara Shalat Hajat
Pelaksanaan shalat hajat pada dasarnya sama seperti shalat sunnah lainnya. Pertama, berniat di dalam hati untuk melaksanakan shalat sunnah hajat karena Allah Ta’ala. Kemudian melaksanakan dua rakaat dengan urutan sebagai berikut:
- Takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah (jika dikerjakan).
- Membaca Surah Al-Fatihah.
- Membaca ayat atau surah dari Al-Qur’an.
- Rukuk.
- I’tidal.
- Sujud pertama.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Berdiri untuk rakaat kedua dan mengulang urutan yang sama.
- Duduk tasyahud akhir.
- Mengucapkan salam.
Setelah salam, dianjurkan memperbanyak istigfar, membaca salawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam, memuji Allah, lalu menyampaikan doa sesuai hajat yang diinginkan dengan penuh kerendahan hati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca setelah shalat hajat. Seorang muslim boleh menggunakan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam atau berdoa dengan bahasa yang dipahami, memohon kebaikan dunia maupun akhirat.
Menjaga Adab Saat Memohon kepada Allah
Ketika melaksanakan shalat hajat, hendaknya hati dipenuhi keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar setiap doa hamba-Nya. Hindari terburu-buru merasa doa tidak dikabulkan. Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam mengajarkan agar seorang muslim tidak putus asa dalam berdoa.
Selain itu, usaha nyata juga tetap harus dilakukan. Shalat hajat bukan pengganti ikhtiar, melainkan pelengkap yang menguatkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika doa, usaha, dan tawakal berjalan beriringan, seorang muslim akan lebih siap menerima apa pun ketetapan Allah, karena ia yakin bahwa pilihan Allah selalu lebih baik daripada keinginannya sendiri. [DW]





