SETIAP orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Begitu pula setiap anak berharap nasihat yang disampaikan orang tuanya mampu menyentuh hati, bukan sekadar terdengar di telinga. Namun, sering kali yang menjadi persoalan bukan isi pesannya, melainkan cara penyampaiannya.
Ada kalanya seorang anak kecewa kepada orang tuanya bukan karena nasihat itu salah. Justru nasihat tersebut benar, tetapi disampaikan dengan nada yang merendahkan, penuh amarah, atau terkesan menghakimi. Kebenaran yang dibungkus dengan kesombongan sering kali sulit diterima oleh hati yang sedang terluka.
Sebaliknya, orang tua pun bisa merasa sedih ketika melihat anaknya membantah. Bukan semata karena sang anak berada di pihak yang benar, melainkan karena lisannya menjadi tajam, kasar, dan kehilangan adab. Benar dalam isi pembicaraan tidak pernah menjadi alasan untuk menyakiti orang lain dengan ucapan yang buruk.
Baca Juga: Keteguhan Ummu Sinan Al Aslamiyah dalam Mengabdi di Jalan Allah
Kebenaran Akan Indah Jika Dihiasi Adab
Islam mengajarkan keseimbangan antara kebenaran dan adab. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Seseorang bisa saja memiliki ilmu yang luas, tetapi jika lisannya menyakitkan, ilmunya kehilangan cahaya. Begitu pula adab tanpa kebenaran akan mudah kehilangan arah. Karena itu, seorang mukmin dituntut untuk menjaga keduanya sekaligus.
Rasulullah adalah teladan terbaik dalam menyampaikan kebenaran. Beliau mengoreksi kesalahan para sahabat dengan kelembutan, memilih kata-kata yang bijaksana, dan tidak mempermalukan orang di hadapan banyak orang. Ketegasan beliau selalu berjalan berdampingan dengan kasih sayang. Itulah sebabnya nasihat beliau mampu mengubah hati manusia, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Dalam kehidupan keluarga, adab menjadi jembatan yang menghubungkan kasih sayang. Orang tua hendaknya menasihati dengan suara yang menenangkan, memberi ruang bagi anak untuk berbicara, dan tidak menjadikan kemarahan sebagai bahasa utama. Sementara anak perlu belajar menyampaikan pendapat dengan hormat, meskipun berbeda pandangan. Mengangkat suara atau berkata kasar tidak akan membuat sebuah pendapat menjadi lebih benar.
Al-Qur’an pun mengingatkan agar manusia mengucapkan perkataan yang baik. Lisan adalah cermin hati. Ketika hati dipenuhi tawadhu, ucapan akan terasa lembut. Sebaliknya, hati yang dipenuhi ego sering melahirkan kalimat yang melukai.
Oleh karena itu, berada di atas kebenaran berarti terus berusaha berjalan di jalan yang benar dengan sikap yang benar, lisan yang baik, dan akhlak yang mulia. Itulah paket yang lengkap. Sebab tujuan seorang Muslim bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadirkan rahmat melalui cara yang penuh adab.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menghiasi lisan kita dengan kelembutan, hati dengan kerendahan, dan langkah dengan akhlak yang membuat kebenaran lebih mudah diterima oleh siapa pun yang mendengarnya. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri





