PERKEMBANGAN teknologi dan keterhubungan antarnegara membuat berbagai tren global semakin mudah diakses oleh generasi muda.
Namun, di tengah derasnya pengaruh budaya global, penting bagi generasi muda Indonesia untuk tetap mengenal dan menjaga tradisi lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
Hal tersebut disampaikan seorang siswi SMP Jakarta Islamic School (JISc) melalui pidatonya yang mengangkat tema “Global Trends versus Local Tradition”.
Dalam pidatonya, ia mengajak generasi muda untuk melihat perkembangan global bukan sebagai ancaman terhadap budaya lokal, melainkan sebagai peluang untuk mengembangkan tradisi dengan cara yang lebih kreatif.
“Today, the world is just one click away. We can listen to music from Korea, follow fashion from Europe, and communicate with other people across continents,” ujarnya.
Baca juga: Dari Bangku Primary JISc, Siswa Mulai Bicara tentang Masa Depan
Siswi SMP JISc Soroti Pentingnya Menjaga Tradisi Lokal di Tengah Arus Tren Global
Menurutnya, kemudahan mengakses berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia juga perlu diimbangi dengan kesadaran untuk tetap terhubung dengan identitas sendiri.
Ia mempertanyakan apakah semakin terbukanya akses terhadap tren global dapat membuat generasi muda justru semakin jauh dari tradisi mereka.
Dalam pidatonya, siswi tersebut menegaskan bahwa generasi muda tidak harus memilih antara menjadi bagian dari dunia global atau mempertahankan tradisi lokal.
“Being global does not mean we’re forgetting about our local traditions,” tuturnya.
Ia kemudian mengambil contoh batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Menurutnya, batik bukan sekadar kain yang indah untuk dilestarikan, tetapi juga dapat terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
“The tradition remains, but the way we express it evolves,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa tradisi tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dikagumi dari kejauhan.
Sebaliknya, tradisi perlu dibawa ke masa depan melalui kreativitas dan cara-cara baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Saya adalah anak muda Indonesia yang tumbuh di dunia global. Saya ingin menyampaikan bahwa kita dapat menerima ide-ide baru dan tetap bermimpi melampaui batas negara,” menjadi pesan utama dalam pidatonya.
Kemampuan menyampaikan gagasan mengenai isu global dan budaya lokal tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mendorong siswa JISc untuk memiliki keterampilan abad ke-21, termasuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, serta percaya diri dalam menyampaikan pendapat.
Lihat postingan ini di Instagram
Jakarta Islamic School (JISc/JIBBS/JIGSc) merupakan The First Integrated Internasional Islamic School yang menerapkan kurikulum Edexcel dari Inggris dan menjadi Official Edexcel Exam Centre.
JISc juga menyebut siswanya meraih the highest marks in Indonesia for Edexcel International GCSE English.
Selain akademik, JISc mengembangkan 21st century skills through 21 activities, program nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an, kemampuan active English speaking, serta critical and creative thinking.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Proses pembelajaran juga didukung dengan kelas berukuran kecil dengan maksimal 16 siswa per kelas dan konsep “A School Like Home”.
Untuk jenjang Secondary, JISc juga mencatat 98 persen lulusannya masuk perguruan tinggi negeri, dengan lulusan melanjutkan pendidikan ke berbagai universitas seperti UI, ITB, UGM, ITS, UNIBRAW, dan IPB.
Sebagian lulusan lainnya melanjutkan studi ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Turkiye, Australia, Malaysia, China, Jepang, dan Belanda.
Sementara itu, pengalaman lintas budaya juga menjadi bagian dari program pendidikan JISc. Program Immersion untuk Primary mencakup Malaysia dan Singapura, sedangkan jenjang Secondary memiliki program Cross Cultural Country ke Australia, Selandia Baru, Belanda, Korea, Prancis, Turkiye, Madinah, serta program Umroh.
Melalui pendekatan tersebut, gagasan yang disampaikan siswi SMP JISc tentang tren global dan tradisi lokal menjadi relevan dengan tantangan pendidikan masa kini: membentuk generasi yang mampu berpikir dan berkomunikasi secara global, namun tetap memiliki akar budaya dan identitas sebagai generasi muda Indonesia. [Din]


