SERING kali kita mendengar seseorang berkata, “Memang sudah keturunan, jadi wajar kalau terkena penyakit ini.” Kalimat seperti itu terdengar biasa, tetapi jika dipikirkan lebih dalam, tidak selalu sepenuhnya benar. Memang ada penyakit yang dipengaruhi faktor genetik, namun bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan untuk menjaga kesehatan melalui kebiasaan sehari-hari.
Pesan yang disampaikan dalam postingan tersebut mengajak kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Banyak orang terlalu cepat menyalahkan faktor keturunan, padahal yang sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya bukan hanya gen, melainkan juga pola hidup. Cara makan, kebiasaan begadang, minim olahraga, hingga pola mengelola stres sering kali ditiru oleh anak-anak sejak mereka kecil. Tanpa disadari, kebiasaan itulah yang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Baca Juga: Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Fermentasi, Apa Saja Risikonya bagi Kesehatan?
Faktor Keturunan atau Kebiasaan? Renungan tentang Pilihan yang Menentukan Masa Depan
Ketika sebuah keluarga terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak setiap hari, kebiasaan tersebut akan dianggap sebagai hal yang normal. Begitu pula jika anggota keluarga jarang bergerak, lebih banyak duduk, atau kurang memperhatikan kualitas tidur. Kondisi seperti ini dapat berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya memengaruhi kesehatan.
Dalam keterangan pada postingan tersebut juga disebutkan bahwa pertarungan sesungguhnya bukan sekadar antara sehat dan sakit, melainkan antara akal dan hawa nafsu. Lidah sering kali menginginkan kenikmatan sesaat, sementara tubuh diam-diam menerima dampaknya dalam jangka panjang. Kita mungkin menikmati makanan yang kurang sehat hari ini, tetapi tubuh menyimpan “catatan” dari setiap kebiasaan yang kita lakukan.
Kalimat berikutnya juga layak menjadi bahan renungan. Jangan terlalu cepat berkata bahwa suatu penyakit murni disebabkan oleh faktor keturunan. Bisa jadi yang diwariskan justru kebiasaan yang terus dipelihara tanpa pernah diperbaiki. Pesan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan mengingatkan bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk berubah.
Islam sendiri mengajarkan pentingnya menjaga amanah berupa tubuh yang Allah titipkan. Menjaga kesehatan bukan hanya soal ingin hidup lebih lama, tetapi juga bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang beribadah dengan lebih baik, bekerja dengan optimal, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mengurangi makanan olahan, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, rutin berolahraga, tidur yang cukup, serta mengelola stres merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membawa dampak besar jika dilakukan secara konsisten. Kebiasaan baik ini bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi teladan bagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
Pada akhirnya, masa depan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita warisi, tetapi juga oleh pilihan yang kita ambil setiap hari. Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi investasi bagi tubuh di masa mendatang. Karena itu, daripada terus menjadikan keturunan sebagai alasan, lebih baik mulai memperbaiki kebiasaan sedikit demi sedikit. Bisa jadi, warisan terbaik yang kita tinggalkan kepada generasi berikutnya bukan sekadar gen yang baik, melainkan gaya hidup sehat yang akan mereka teruskan sepanjang hidup. [DW]
Sumber: Instagram dr.Zaidul Akbar




