TIDAK semua luka terlihat oleh mata. Ada luka yang lahir dari ucapan yang tajam, sikap yang merendahkan, atau perlakuan yang membuat seseorang kehilangan rasa nyaman. Lebih menyedihkan lagi, terkadang luka itu membuat orang lain kehilangan semangat bekerja, memilih meninggalkan pekerjaannya, bahkan menjauh dari jalan rezeki yang selama ini Allah bukakan untuknya.
Sering kali kita begitu sibuk menilai kesalahan orang lain hingga lupa mengoreksi diri sendiri. Kita merasa sedang menegakkan kebenaran, padahal cara menyampaikannya justru menyakitkan. Nada bicara yang kasar, ego yang tinggi, enggan meminta maaf, atau kebiasaan meremehkan orang lain bisa menjadi beban yang tidak terlihat, tetapi sangat berat dirasakan oleh mereka yang berada di sekitar kita.
Baca Juga: Sedekah Diam-diam yang Menjadi Naungan di Padang Mahsyar
Berpikir Sebelum Bertindak agar Tidak Menyakiti Perasaan Orang Lain
Dalam kehidupan, rezeki memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mampu mengambil bagian rezeki orang lain. Namun, sebagai manusia kita tetap diminta menjaga akhlak agar tidak menjadi sebab hadirnya kesedihan dalam hidup sesama. Jangan sampai perilaku kita membuat seseorang memilih pergi dari lingkungan yang sebenarnya menjadi tempat ia bertumbuh dan mencari nafkah dengan halal.
Ada kalanya seseorang meninggalkan pekerjaan karena kondisi ekonomi, kesehatan, atau alasan keluarga. Itu adalah bagian dari takdir yang mungkin tidak bisa dihindari. Namun, jika berkali-kali orang memilih pergi karena sikap kita yang sulit diajak bekerja sama, mudah merendahkan, atau gemar menyalahkan, mungkin masalahnya bukan pada mereka. Mungkin sudah waktunya kita bercermin dan bertanya dengan jujur, “Apakah aku telah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain?”
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan, kekayaan, ataupun popularitas, melainkan dari akhlaknya. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang lembut, penuh empati, dan menghormati setiap orang. Bahkan ketika memiliki kedudukan tinggi, beliau tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk menyakiti hati orang lain.
Karena itu, berhentilah sibuk berharap karma menimpa orang yang pernah menyakiti kita. Yang lebih penting adalah merasa takut jika Allah membalas keburukan yang kita lakukan kepada orang lain dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap sikap meninggalkan jejak di hati manusia.
Belajarlah memperbaiki akhlak setiap hari. Biasakan mendengar sebelum menghakimi, menghargai sebelum meminta dihargai, dan meminta maaf ketika berbuat salah. Jabatan bisa berganti, harta bisa habis, tetapi luka akibat buruknya akhlak bisa tinggal sangat lama dalam ingatan seseorang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga kita menjadi pribadi yang kehadirannya menghadirkan ketenangan, bukan tekanan; menjadi sebab orang lain bertambah semangat, bukan kehilangan harapan dan rezeki. [DW]
Sumber: Ustadz Adi Hidayat





