DAKWAH itu amal yang sangat mulia. Itulah amal yang diwariskan oleh para Nabi. Tetaplah dalam dakwah meski sakit.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i atau Imam Syafi’i rahimahullah pernah tinggal di beberapa tempat. Lahir di Gaza, hijrah ke Mekah bersama ibunya, belajar ke Madinah, bekerja di Yaman, belajar lagi ke Irak, kembali lagi ke Mekah menemui ibunya, dan terakhir tinggal di Mesir.
Sekitar empat tahun beliau tinggal di Mesir. Di sana, beliau mengajar dan menulis beberapa kitab.
Namun, saat tinggal di Mesir itu pula, beliau mengalami sakit wasir yang parah. Yaitu, pendarahan dari dubur yang sulit dikendalikan. Bahkan, di luar kesadaran pasien.
Sebegitu parahnya, Imam Syafi’i bahkan pernah mengalami pendarahan wasir hingga mengenai gamis dan sepatunya saat berada di kendaraan yang ditunggani. Ia juga sering mengalami pendarahan saat sedang mengajar atau menulis kitab.
Imam Syafi’i bukan orang yang abai dengan kesehatan. Beliau bahkan banyak menemukan ilmu kesehatan yang kini menjadi bagian ilmu kedokteran modern.
Namun, segala upaya yang sudah ia lakukan untuk kesembuhan, tak kunjung berhasil. Penyakit wasir parah yang beliau alami kian parah hingga beliau wafat di tahun 204 hijriah.
Imam Syafi’i wafat pada malam Jumat, di Jumat terakhir bulan Rajab tahun 204 hijriah. Beliau wafat di usia 54 tahun, sebuah usia yang tergolong muda untuk ulama sekaliber beliau.
Dalam keadaan sakit itu, beliau berhasil merampungkan sebanyak 1.500 halaman kitab. di antara kitab yang beliau tulis adalah Al-Umm dan As-Sunnah.
**
Sakit parah bisa mengenai siapa saja. Bahkan, orang soleh dan ulama sekali pun.
Namun, tetaplah bersabar dalam ujian sakit itu. Tetap ridha dengan apa yang Allah takdirkan. Karena hidup ini memang arena ujian. Siapa pun kita. [Mh]




