PEMBERIAN imunisasi tepat waktu pada anak bisa menjaga sistem kekebalan tubuh dan melindungi dari penyakit menular serius.
Jadwal imunisasi anak disusun oleh dokter ahli penyakit menular, epidemiolog, dan dokter anak berdasarkan kematangan sistem kekebalan tubuh bayi serta risiko paparan penyakit.
Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi dianjurkan mendapatkan vaksin untuk melindungi dari sembilan penyakit menular serius, termasuk difteri, tetanus, pertusis, polio, pneumokokus, dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib).
Vaksin MMR sendiri biasanya diberikan pertama kali pada usia 12 hingga 15 bulan, kemudian dosis kedua pada usia 4 hingga 6 tahun.
Pemberian dalam beberapa tahap ini telah diteliti selama puluhan tahun untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Menunda vaksinasi berarti memperpanjang masa ketika anak tidak terlindungi.
Baca juga: Vaksin HPV Terbukti Efektif untuk Mencegah Kanker Serviks
Pentingnya Pemberian Imunisasi Tepat Waktu pada Anak untuk Jaga Sistem Kekebalan Tubuh
Setiap kali vaksin ditunda, anak akan berada dalam kondisi rentan lebih lama. Tidak ada bukti bahwa jadwal vaksin saat ini terlalu berat atau berbahaya bagi tubuh bayi.
Kekhawatiran tentang terlalu banyak suntikan atau bahaya vaksin kombinasi tidak didukung oleh data ilmiah.
Menurut penelitian, orangtua yang menunda vaksinasi pertama pada bayi mereka cenderung akan melewatkan pemberian imunisasi campak di kemudian hari.
Temuan ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open, yang menyoroti bagaimana keputusan awal orangtua terhadap jadwal vaksinasi dapat berdampak panjang pada perlindungan kesehatan anak.
Penelitian tersebut menganalisis data kesehatan 321.743 anak yang memiliki akses rutin terhadap layanan kesehatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa bayi yang menerima vaksin sesuai rekomendasi pada empat bulan pertama kehidupan jauh lebih mungkin mendapatkan dosis pertama vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR) pada usia 12 hingga 15 bulan.
Keterlambatan vaksinasi ternyata sudah terlihat sejak kunjungan medis pertama bayi. hal ini menunjukkan bahwa keraguan terhadap vaksin muncul sangat awal, bahkan sebelum bayi memasuki fase imunisasi lanjutan.
Keraguan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan menunda atau melewatkan berbagai jenis vaksin penting lainnya.
Studi tersebut juga mencatat penurunan angka pemberian vaksin MMR dosis pertama tepat waktu. Pada 2021, cakupannya mencapai 79,9 persen, namun turun menjadi 76,9 persen pada 2024.
Anak laki-laki dan anak-anak yang tinggal di wilayah pedesaan tercatat sedikit lebih kecil kemungkinannya menerima vaksin tepat waktu dibandingkan anak-anak lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Campak sebagai indikator penting kondisi sistem kesehatan masyarakat. Amerika Serikat melaporkan lebih dari 2.000 kasus campak sepanjang 2025, jumlah tertinggi sejak 1992.
Angka ini menunjukkan bagaimana penurunan cakupan vaksinasi dapat berdampak langsung pada meningkatnya kasus penyakit menular.
Banyak kasus campak terjadi pada anak-anak yang belum menerima dosis pertama vaksin. Namun, penurunan imunisasi tidak selalu disebabkan oleh keraguan vaksin semata.
Hambatan akses layanan kesehatan, kesulitan membuat janji temu, hingga keterbatasan waktu orangtua juga berperan.
Studi ini memperlihatkan bahwa keputusan kecil di awal kehidupan bayi, seperti menunda satu jenis vaksin, dapat berdampak besar pada kesehatan anak dan masyarakat.
Vaksinasi tepat waktu bukan hanya melindungi individu, tetapi juga menjaga kekebalan kelompok agar wabah penyakit menular dapat dicegah. [Din]





