BEBERAPA alasan mengapa penggunaan gawai dapat menghambat kemampuan bicara anak. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dewasa biasa menggunakan gawai untuk berbagai alasan.
Bisa untuk bekerja, membantu berbagai kegiatan atau sekadar mencari hiburan lewat gawai tersebut. Penggunaan gawai ini juga kerap kali digunakan orangtua menjadi cara efektif saat menghentikan anak yang sedang tantrum.
Atau hanya sekadar untuk membuat anak duduk tenang agar orangtua juga bisa melakukan aktivitasnya. Biasanya anak menonton video di YouTube.
Terlalu sering memberikan gawai ternyata menjadi salah satu pemicu terjadinya keterlambatan bicara (speech delay) pada anak.
Anak usia dini berada pada masa emas (golden age), di mana perkembangan otak mereka menyerap informasi layaknya spons. Pada fase ini, anak belajar bahasa bukan dari mesin, melainkan dari manusia.
Baca juga: Emotional Skill, Solusi Tangani Ancaman Ketahanan Keluarga di Zaman Digital
Beberapa Alasan Penggunaan Gawai dapat Menghambat Kemampuan Bicara Anak
Berikut beberapa alasan penggunaan gawai bisa menghambat kemampuan bicara anak:
Mengurangi waktu untuk berlatih bicara
Anak yang terlalu asyik menatap layar cenderung diam, terhipnotis oleh visual yang bergerak cepat, dan jarang mengeluarkan suara.
Akibatnya, organ pengucapan seperti lidah dan bibir menjadi kurang terlatih. Semakin lama waktu yang dihabiskan anak bersama gawai, semakin hilang pula kesempatan berharga mereka untuk berlatih merangkai kata-kata bersama keluarga di rumah.
Komunikasi hanya berjalan satu arah
Saat anak menonton video di handphone, mereka hanya menjadi penerima informasi yang pasif. Layar gawai tidak bisa merespons celotehan anak.
Padahal, untuk bisa berbicara, anak sangat membutuhkan komunikasi dua arah. Mereka belajar dengan cara meniru gerak bibir secara nyata, melihat ekspresi wajah, dan merespons suara langsung dari orang tua.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kehilangan interaksi nyata dan bermakna
Belajar berbicara bukan sekadar menghafal suara, tetapi memahami makna di balik kata tersebut. Saat orangtua mengajak anak berinteraksi sambil bermain bola atau makan bersama, anak belajar kosakata baru yang langsung terhubung dengan dunia nyatanya.
Interaksi langsung dan penuh kasih sayang ini jauh lebih efektif merangsang saraf bahasa anak dibandingkan tontonan digital apa pun.
Oleh karena itu, sebagai orangtua harus lebih bijak menggunakan gawai pada anak usia dini dan perbanyak mengajak mereka berinteraksi agar menghindari anak mengalami keterlambatan bicara atau speech delay. [Din]




