PRESIDEN Prabowo Subianto kembali menyoroti pentingnya kemampuan bahasa asing bagi generasi muda Indonesia. Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo menyampaikan keinginannya agar pembelajaran bahasa asing mulai diperkenalkan sejak anak duduk di kelas 1 sekolah dasar.
Gagasan tersebut mencakup sejumlah bahasa yang dianggap memiliki peran penting dalam hubungan internasional maupun dunia kerja. Bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis disebut sebagai bahasa yang perlu dipelajari. Dalam penjelasannya, Prabowo juga menambahkan bahasa Rusia sebagai salah satu bahasa yang perlu diperkenalkan kepada anak-anak Indonesia.
Baca Juga: 55 Tahun Dakwah Pedalaman, Dewan Dakwah Kirim Lebih dari 10.000 Dai ke Pelosok Indonesia
Mulai Kelas 1 SD, Prabowo Dorong Anak Indonesia Kuasai Bahasa Mandarin hingga Rusia
Pernyataan itu bukan sepenuhnya hal baru. Sebelumnya, pemerintah memang telah menunjukkan arah untuk memperkuat pembelajaran bahasa asing sejak tingkat sekolah dasar. Dalam keterangan resmi pada April 2026, Prabowo menyampaikan rencana penggunaan guru terbaik, termasuk penutur asli, untuk membantu pembelajaran bahasa asing melalui fasilitas pembelajaran digital. Saat itu, ia menyebut bahasa Inggris, Mandarin, dan beberapa bahasa asing lainnya perlu dikuasai siswa sejak SD.
Mengapa dimulai sejak kelas 1 SD?
Menurut Prabowo, anak-anak pada usia yang masih muda memiliki kemampuan belajar bahasa yang lebih cepat. Karena itu, pengenalan bahasa asing sejak kelas 1 SD dinilai dapat memberikan waktu lebih panjang bagi siswa untuk membangun kemampuan berkomunikasi.
Penguasaan bahasa asing juga tidak semata-mata dipandang sebagai kemampuan akademis. Prabowo mengaitkannya dengan kesempatan pendidikan dan pekerjaan pada masa depan. Anak-anak Indonesia diharapkan memiliki bekal yang lebih baik ketika melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja yang semakin terbuka secara global.
Dalam pandangannya, kemampuan bahasa dapat membuat generasi muda lebih mudah berkomunikasi dengan berbagai pihak dari negara lain. Hal ini menjadi semakin penting ketika Indonesia semakin terhubung dengan dunia internasional melalui perdagangan, pendidikan, teknologi, pariwisata, hingga kerja sama tenaga kerja.
Mengapa ada bahasa Rusia?
Pemilihan bahasa Rusia cukup menarik perhatian. Prabowo menjelaskan bahwa Rusia memiliki kekuatan di bidang sains dan teknologi. Karena itu, mempelajari bahasa Rusia dinilai dapat membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan dan perkembangan dari negara tersebut.
Sementara itu, Mandarin dinilai penting karena perkembangan ekonomi China yang dinamis. Jepang dan Korea juga disebut sebagai negara maju yang memiliki perkembangan ekonomi dan teknologi yang kuat. Adapun bahasa Spanyol dan Prancis memiliki jumlah penutur yang luas di berbagai negara, sedangkan bahasa Arab juga digunakan di banyak negara.
Meski demikian, pernyataan Presiden tersebut lebih tepat dipahami sebagai arah dan dorongan kebijakan pembelajaran bahasa asing, bukan berarti seluruh delapan bahasa tersebut langsung menjadi mata pelajaran wajib bagi setiap siswa kelas 1 SD pada saat ini. Implementasi ke dalam kurikulum tentu membutuhkan pengaturan lebih lanjut, termasuk kesiapan guru, materi pembelajaran, metode pengajaran, dan kondisi masing-masing sekolah.
Tantangan lainnya adalah memastikan anak-anak tidak justru terbebani oleh terlalu banyak materi. Siswa sekolah dasar tetap membutuhkan fondasi kuat dalam bahasa Indonesia, matematika, sains, karakter, serta pengetahuan dasar lainnya.
Jika dirancang dengan tepat, pembelajaran bahasa asing sejak dini sebenarnya bisa menjadi bekal yang menarik bagi anak. Pembelajarannya pun tidak harus selalu melalui hafalan. Lagu, permainan, cerita, percakapan sederhana, dan teknologi digital dapat membuat anak mengenal bahasa baru tanpa merasa sedang menghadapi pelajaran yang berat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, gagasan Prabowo menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa asing dipandang sebagai salah satu investasi pendidikan untuk menghadapi masa depan. Tantangannya kini bukan sekadar berapa banyak bahasa yang akan diajarkan, tetapi bagaimana memastikan anak-anak Indonesia dapat mempelajarinya dengan cara yang menyenangkan, berkualitas, dan sesuai dengan usia mereka. [DW]



