BAGAIMANA keseruan merayakan lebaran Idul Fitri di Tunisia? Simak cerita lengkapnya dalam tulisan berikut.
Tulisan berjudul Kisah Unik Idulfitri dari Tunisia ini dikutip dari situs Muhammadiyah.or.id pada Senin (30/03/20205).
Meskipun tradisi Idulfitri di Tunisia tidak se-eksklusif perayaan Iduladha, Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Tunisia tetap menunjukkan antusiasme dalam mempersiapkan dan menyambut Idulfitri 1446 H.
“Jadi menurut budaya di sini, Idulfitri tetap dilaksanakan sebagai hari raya kemenangan bagi semua tapi tidak semeriah di Indonesia dan tidak se-eksklusif saat Iduladha di Tunisia. Maka dari itu, kami biasanya WNI atau mahasiswa Indonesia setelah salat Idulfitri langsung bergegas ke Wisma Duta Republik Indonesia untuk melakukan ramah tamah, silaturahmi antar sesama warga Indonesia dan persiapan kami adalah mempersiapkan wisma untuk agenda Idulfitri besok,” hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tunisia, Naufal Sholahuddin, dalam wawancara eksklusif pada Ahad (30/3).
Baca juga: PPIJ Kunjungi Maroko dan Tunisia dalam Kegiatan Studi Peradaban Islam
Berlebaran di luar negeri tentu menjadi hal langka yang tidak dirasakan oleh semua orang. Sebagai pelajar Indonesia yang berada di Tunisia, Naufal beserta mahasiswa dan warga muslim Indonesia lainnya yang berada di Tunisia tentu memaknai momen ini sebagai momen yang begitu berharga di mana momen Idul Fitri lebih ditafsirkan sebagai momen kebersamaan.
Merayakan Lebaran Idul Fitri di Tunisia
“Lebaran Idul Fitri kali ini merupakan momentum berharga bagi kami masyarakat Indonesia di Tunisia karena jauhnya kami dari kampung halaman. Momen ini tentu membuat kami merasa hidup Kembali. Kami menafsirkan ini lebih dalam, jadi ketika ada teman-teman yang sedang ada masalah diharapkan di Idulfitri ini dapat kembali bersama lagi,” tuturnya.
Momen Mudik Hingga Budaya Ngafe Khas Eropa yang Melekat pada Masyarakat Tunisia
Sebagai mahasiswa perantauan, tentu momen mudik merupakan momen yang diharapkan bagi semua orang yang mengalaminya. Begitu pula para mahasiswa dan WNI di Tunisia. Namun sayangnya, bagi Mahasiswa dan WNI di Tunisia biasanya tidak bisa melakukan mudik saat hari raya idul fitri karena kebiasaan masyarakat yang biasanya harus kembali beraktivitas setelah waktu salat Id usai.
“Kalau untuk Mudik, karena 95% di sini mahasiswa, jadi teman-teman di sini tidak mudik saat momentum lebaran. Jadi kalau mau pulang ke Indonesia itu saat musim panas. Karena biasanya di dekat-dekat Mei ini ada ujian sekolah,” ungkap Naufal.
Bukan hanya itu, terdapat budaya yang sangat unik dan melekat di warga Tunisia. Naufal menyebut bahwa warga Tunisia biasanya setelah melakukan salat Id, jika mereka tidak ada pekerjaan, akan beranjak pergi ke cafe.
“Budaya Tunisia itu tidak sekental Indonesia, bahkan setelah Idulfitri pun masyarakat sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Contoh, budaya di sini itu bercampur dengan budaya Eropa khususnya Prancis dan jika kita tahu, Prancis juga pernah ada Revolusi Prancis yang dimulai dari cafe, jadi budaya orang di sini itu ngafe. Jadi begitu selesai salat Id ada yang langsung kerja, ngafe, atau melakukan kegiatan-kegiatannya yang lain. Jadi ketika Idulfitri yang terpenting adalah perayaan ibadahnya saja (Salat Id),” imbuhnya.
Terakhir, Naufal juga mengungkapkan harapannya untuk PCIM Tunisia dan Muhammadiyah untuk terus berkiprah dan menyebarkan kebermanfaatan bagi semua.
“Harapannya tentu PCIM Tunisia dapat terus berkiprah di masyarakat, yakni dengan melebarkan sayap-sayap Islam berkemajuan, menyebarkan manfaat bagi sesama,”pungkasnya.[ind]
Kontributor: Bhisma