KESEPAKATAN damai antara AS dan Iran hampir final. Direncanakan, keduanya akan menandatangani MoU damai di Swiss, Jumat (19/6).
Baik AS maupun Iran dikabarkan telah memberikan sinyal positif tentang kesepakatan damai. Trump misalnya, dalam wawancara dengan New York Times, menyatakan bahwa kesepakatan damai AS dan Iran akan dilakukan di Swiss pada Jumat, 19 Juni.
Menurutnya, masing-masing pihak sudah menyetujui poin kesepakatan. Antara lain, tidak ada penarikan tarif di Selat Hormuz dan pencairan kembali aset Iran yang pernah dibekukan AS. Nilainya sekitar 24 miliar dolar AS.
Sementara itu, Dewan Keamanan Tertinggi Iran: SNSC mengkonfirmasi kepada media bahwa Iran dan AS sudah merampungkan MoU antara dua pihak. Hal ini atas arahan dari pemimpin tertinggi Iran: Mojtaba Khamanei, dukungan rakyat Iran, serta kegigihan pasukan Iran.
“Finalisasi poin-poin MoU ini sudah diselesaikan pada tanggal 15 Juni malam,” seperti itu yang disampaikan pihak SNSC.
Penghentian Perang di Semua Front
Kesepakatan damai ini utamanya memuat penghentian perang di semua front. Termasuk di Lebanon.
Dengan begitu, Iran meminta AS untuk mengendalikan Israel. Serangan terhadap Lebanon bisa membatalkan kesepakatan.
Detil dari kesepakatan ini memang tidak diungkap ke publik. Termasuk apakah juga penghentian serangan Israel terhadap Palestina, khsusunya di Gaza.
Israel sebagai ‘Biang Kerok’
Israel selalu dalam pihak di luar dari kesepakatan damai AS dan Iran. Hal ini tentu akan menjadikan kesepakatan damai begitu rapuh.
Seperti dalam kesepakatan sebelumnya yang dimediasi Pakistan, Israel merusak semua rencana kesepakatan itu. Bahkan, hanya dalam satu jam setelah adanya kesepakatan di Pakistan itu, Israel membombardir Lebanon dengan brutal.
Tampaknya, Israel tak pernah ‘kapok’ untuk mengulangi pengkhianatan terhadap Iran, bahkan terhadap AS sekali pun.
Sandiwara AS dan Israel
Rasanya, publik dunia sudah semakin memahami karakter dari AS dan Israel. Keduanya, seperti mememperlihatkan standar ganda terhadap Iran.
Boleh jadi, AS melalui kepemimpinan Trump memang pada posisi sulit. Trump jelas sudah termakan provokasi Israel untuk menyerang Iran tanpa meneliti kekuatan Iran.
Perang yang sesumbar disampaikan Trump hanya berlangsung paling lama 4 hari, ternyata menjadi 4 bulan. Itu pun dalam posisi AS yang ‘compang-camping’.
Yang paling sulit ditolak Trump adalah tekanan dari Kongres AS dan publik AS sendiri. Keduanya dengan begitu gamblang menggugat keputusan perang dari Trump terhadap Iran.
Jika itu diteruskan, pemilu sela pada November nanti, mungkin akan menjadi ‘kuburan’ untuk Trump.
Hal paling sulit yang akan dihadapi Trump untuk mencitrakan damai itu adalah dari Israel sendiri. Kalau ia abaikan nasib Israel jika terus berperang dengan Iran, hal itu nyaris tidak mungkin. Tapi kalau ia ikut campur, semua yang ia lakukan di Swiss nanti akan sia-sia. [Mh]


