HIKMAH selalu ada di balik peristiwa. Meskipun peristiwa itu tidak kita inginkan dan sangat merugikan.
Perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS plus Israel akhirnya membuka banyak hal yang selama ini tertutup. Bahkan mungkin dijaga untuk selalu tertutup. Antara lain:
Satu, Israel Negara Rasis dan Zalim
Selama ini, hanya negara-negara muslim yang memahami kalau Israel itu tidak baik. Sementara, negara-negara non muslim seperti Eropa, AS, dan lainnya ‘terhipnotis’ kalau Israel itu negara yang hebat.
Nah, keadaan itu kini berubah total. Bukan hanya negara-negara muslim yang memahami kejahatan Israel, melainkan juga hampir seluruh warga dunia saat ini. Termasuk di negara-negara Barat dan AS.
Survei terbaru di AS, lebih dari 60 persen, warga AS membenci Israel. Begitu pun dengan di Eropa. Yang terbaru, Rusia menangkap 40 wisatawan Israel yang baru tiba di Rusia.
Tidak jarang, media sosial menampilkan bagaimana respon negatif warga Eropa terhadap turis Israel. Seperti yang terjadi di Italia di mana restoran dan kafe menolak kunjungan warga Israel.
Di negeri yang begitu memuja kunjungan wisawan seperti di Thailand, bahkan warganya dikabarkan melakukan pengusiran terhadap turis Israel.
Kini, tak pelak lagi, Israel menjadi common enemy atau musuh bersama untuk seluruh warga dunia. Di mana pun.
Dua, Militer AS Tak Sekuat yang Dibayangkan
Di hampir seluruh dunia, meyakini bahwa militer AS begitu hebat. Kasus penculikan Presiden Venezuela oleh militer AS kian meyakini hal itu.
Namun, hal itu tak lagi demikian. Pasca perang besar di Timur Tengah selama lebih dari 40 hari, dunia seperti tersadarkan kalau militer AS hanya hebat di film-film Hollywood.
Tidak heran jika banyak negara teluk termasuk Saudi dan EUA mulai merapat ke Cina. Ibarat kata: kalau satpam yang lama sudah nggak becus, ya cari satpam baru yang sudah jelas mampu.
Tiga, Umat Islam Tak Boleh Pecah
Selama ini, umat Islam seperti terpecah dalam dua kubu: Sunni dan Syiah. Seolah-olah keduanya tak mungkin bisa disatukan.
Tapi pasca perang Timteng, akhirnya terbuka bahwa pecahnya Sunni dan Syiah hanya manipulasi Israel. Hal ini agar umat Islam dalam keadaan lemah.
Terbukalah siapa yang selalu membela perjuangan Gaza di Palestina untuk melawan militer Israel. Terjawab juga tentang suplai senjata, peralatan militer, bahkan rudal jarak pendek. Semua bukan dari ‘patungan’ umat Islam sedunia. Melainkan dari Iran.
Iranlah yang pertama kali membuka peluang konfrontasi dengan Israel di saat terjadi genosida di Gaza. Saat itu, bahkan hingga saat ini, tak ada satu pun negeri muslim yang berani melakukan aksi militer dengan Israel. Puncaknya, perang pecah pada bulan Juni tahun lalu dan berlanjut pada akhir Februari tahun ini.
Ulama Al-Azhar, Mesir, sudah berkali-kali menegaskan bahwa Syiah merupakan bagian dari umat Islam. Kalau pun ada perbedaan, itu merupakan perbedaan mazhab. Dan dalam Islam, lebih dari 50 mazhab yang ada. Tapi, mereka tetap umat Islam yang harus saling bersaudara.
Empat, Negara-negara Arab Sekutu Israel
Entah apa sebabnya, akhirnya terbuka dengan kasat mata bahwa negara-negara Arab tak lebih dari sekadar ‘pembantu’ Israel dan AS.
Tak heran jika hampir tak satu pun dari mereka yang terang-terangan siap membela Palestina melawan Israel. Sebaliknya, justru mereka membela Israel melawan warga muslim yang ingin membela Palestina.
Perhatikanlah tentang BoP ‘karya’ Trump dan menantunya. ‘Dewan Perdamaian’ itu tak lebih dari panggung sandiwara untuk menutupi kejahatan Israel terhadap Palestina. Dan semua itu tergongkar pasca perang ini.
Semua itu persis seperti yang disabdakan Rasulullah tentang keadaan akhir zaman. Umat Islam menjadi ‘mainan’ musuh-musuhnya. Bukan karena jumlahnya sedikit. Bukan pula karena miskin. Melainkan karena penyakit wahan: cinta dunia dan takut mati. [Mh]





