AUSTRALIA saat ini mulai berbeda dengan wajah lima tahun lalu. Setidaknya, hal itu tercermin dari kunjungan seorang menteri muslimah pertama Australia ke Masjid Istiqlal, Senin (4/8).
Ia bernama Anne Aly. Anne menjabat Menteri Pembangunan Internasional dan Multikultural. Muslimah kelahiran Alexandria, Mesir ini dilantik sebagai menteri tiga tahun lalu. Ada satu menteri muslim lagi selain Anne, yaitu Ed Husic sebagai Menteri Perindustrian.
Posisi menteri muslimah kelahiran 29 Maret 1967 ini merupakan yang baru. Sebelumnya, Anne Aly menjabat sebagai Menteri Pendidikan Anak usia dini: Minister for Early Childhood Education of Australia.
Karena posisi baru itulah, ibu dua anak ini mengunjungi Istiqlal di Jakarta untuk berdiskusi tentang multikultural, termasuk kerukunan dalam keragaman etnis dan agama.
“Australia dan Indonesia memiliki hubungan lebih dari sekadar tetangga, kedua negara memiliki persahabatan yang panjang dan langgeng,” ungkapnya.
Dalam kunjungan ke Masjid Istiqlal, Anne menyempatkan diri untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, memukul bedug, dan mengunjungi terowongan yang menghubungkan Istiqlal dengan Gereja Katedral.
Wajah Baru Australia
Di bawah pemerintahan Partai Buruh, Australia mengklaim sebagai Australia dengan wajah baru yang inklusif, termasuk mengakui keragaman etnis dan agama. Tidak seperti sebelumnya yang menyudutkan Indonesia karena mayoritas Islamnya.
Namun begitu, rakyat Australia umumnya memang tidak begitu perduli dengan hal privasi seseorang, termasuk tentang agama dan etnis. Mereka saling menghormati meskipun berbeda.
Umat Islam di Australia berjumlah sekitar 2 persen dari populasi. Sebagian besar merupakan pendatang dari luar Australia, termasuk Indonesia.
Kebebasan beragama lumayan bagus. Bahkan di Kota Frementle, Perth, ada sebuah gereja yang diizinkan untuk digunakan shalat Jumat. Tentu di ruangan yang berbeda dengan yang biasa dipakai jamaat gereja.
Hal ini karena umat Islam di kota ini belum menemukan tempat yang memadai sebagai masjid. Setidaknya, untuk sementara waktu.
Interaksi yang saling menghormati di Fremantle ini boleh jadi sebagai miniatur dari sambutan warga Australia terhadap kehadiran Islam yang semakin besar.
Sebenarnya, bukan ajaran Islamnya yang menjadikan sebuah negeri muslim seperti tidak toleran. Melainkan, karena tingkat pendidikan dan ketidakadilan yang dialami warga dari negaranya. [Mh]