AS serius ‘menjinakkan’ Rusia dan Cina. Sejumlah kesepakatan bisnis yang menguntungkan telah disepakati. Upaya melemahkan Iran?
Setelah beberapa kali gagal melakukan serangan militer ke Iran, AS mencari cara lain. Yaitu, menjinakkan dua kekuatan yang selama ini bermitra dengan Iran: Rusia dan Cina.
Caranya? Dua kesepakatan bisnis untuk Rusia dan Cina telah ditandatangani. Semuanya dilakukan pada September lalu di saat delegasi PBB berkunjung ke New York, September lalu.
Menjinakkan Rusia dengan Impor Diesel
Selama ini, Rusia mengalami embargo ekonomi oleh dunia barat dan lainnya. Hal ini menjadikan ekonomi Rusia lumayan tertekan, selain juga karena biaya perang dengan Ukraina yang tak kunjung usai.
Di luar dugaan, AS tiba-tiba menawarkan kesepakatan impor BBM jenis diesel dari Rusia. Jumlahnya tak main-main, hingga 4 juta ton atau sekitar 3 juta ton dalam tahap awal.
Impor dilakukan dalam sejumlah tahap. Pengiriman awal dimulai 300 ribu ton, disusul 500 ribu ton pada November 2026, dan 1 juta ton pada tahap berikutnya.
Impor tersebut sebagai kebijakan khusus dari pengecualian pembekuan ekonomi yang berakhir hingga April 2027.
Menjinakkan Cina dengan Kesepakatan Investasi
Di tengah perang tarif yang sebelumnya begitu gencar antara AS dan Cina, tiba-tiba AS menawarkan kesepakatan investasi baru dan penyesuaian tarif. Nilainya sebesar 30 miliar dolar AS.
Ada delapan kesepakatan antara AS dan Cina. Kesepakatan itu disepakati bersama antara Trump dan Xi Jinping di Washington.
Delapan kesepakatan itu antara lain: pembentukan dewan perdagangan dan investasi sebagai wadah komunikasi, penyesuaian tarif, kerjasama komunitas, layanan keuangan dan teknologi, layanan keuangan dan teknologi AI, hingga pertukaran pelajar selama 5 tahun kedepan.
Pendek kata, AS menawarkan kesepakatan ekonomi untuk Rusia dan Cina yang rasanya sulit untuk ditolak. Terlebih keduanya sedang mengalami tekanan ekonomi akibat konflik Timur Tengah.
Menjadikan Iran ‘Sendirian’
AS sepertinya memahami betul kalau kekuatan militer Iran selama ini adalah karena adanya bantuan dua pihak itu: Rusia dan Cina. Dengan kesepakatan dengan Rusia dan Cina, AS meyakini kalau Iran akan ditinggal sendirian.
Boleh jadi, AS sudah menghitung untung rugi dari kesepakatan itu. Bahkan, jika AS berhasil ‘melumpuhkan’ Iran, mereka akan memperoleh rampasan yang nilainya bisa berlipat-lipat dari yang mereka keluarkan untuk Rusia dan Cina.
Demi Israel, AS akan Lakukan Apa pun
Sebenarnya, yang berkonflik berat itu antara Israel dengan Iran. Tapi jangan lupa, Israel adalah AS dalam bentuk ‘mini’, dan AS merupakan Israel dalam wujud ‘maksi’. Keduanya tak bisa dipisahkan.
Dengan kata lain, posisi Rusia dan Cina tak lebih karena dampak dari konflik itu. Artinya, keduanya tak sedang berkonflik dengan Israel dan AS, tapi lebih karena semangat Persekutuan dengan Iran.
Dalam politik, ada rumus yang umum berlaku: tak ada musuh abadi, dan tak ada teman abadi. Yang ada, kepentingan abadi.
Jika kepentingan Cina dan Rusia bisa dipenuhi melalui kesepakatan baru dengan AS, maka tidak tertutup kemungkinan Israel dan AS akan lebih leluasa ‘menghajar’ Iran.
Pertanyaannya, apakah skenario AS dan Israel ini akan berhasil? Kita lihat saja beberapa waktu kedepan. [Mh]



