• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 30 Januari, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Bunda, Memangnya Kita Akan Lebaran?

19/05/2020
in Berita
79
SHARES
609
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

oleh: Isti Prihandini, S.Sos. (Pengamat Sosial)

ChanelMuslim.com – “Bunda, memangnya kita akan lebaran?,” tanya gadis sembilan tahun. Mungkin ia memperhatikan perbedaan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

Lain lagi, seorang kawan menawarkan kue nastar dan kue-kue kering khas lebaran. Serta merta, seseorang berkomentar “Memangnya kita lebaran tahun ini?”

Begitu melimpah status di WhatsApp yang menampilkan kue nastar, putri salju, dan teman-temannya. Pedagang baju online pun tetap mengunggah jualannya dan kabarnya; laku keras. Di status WhatsApp lain, tak sedikit mengabarkan ramainya pusat perbelanjaan, berjubelnya pembeli di toko baju, dan melimpahnya pembeli di toko bahan kue.

Saat ini, grafik kasus Covid-19 di Indonesia masih menunjukkan angka sangat tinggi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seharusnya masih dilaksanakan. Namun kini viral tagar #IndonesiaTerserah yang dicuatkan oleh petugas medis. Tagar ini menunjukkan kekecewaan tenaga medis terhadap kebijakan pemerintah pusat yang setengah hati dan kekecewaan terhadap masyarakat yang tak peduli (lagi).

Lebaran menjadi alasan bagi pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah membolehkan pulang kampung, menyebabkan kerumunan di terminal maupun bandara. Masyarakat pun sepertinya hendak memaksakan merayakan lebaran dengan “normal”; memakai baju baru, makan ketupat, makan kue nastar, dan lainnya.

Jika mau bicara ideal, di tengah pandemi inilah saat paling tepat untuk mengoreksi sedikit pemikiran masyarakat tentang lebaran.

Lebaran hanyalah sebuah tradisi di Indonesia. Hari yang dimaksud lebaran setelah berpuasa Ramadhan sesungguhnya adalah Eid al-Fitr (Idul Fitri), yang bermakna perayaan buka puasa. Jadi pada intinya, yang terpenting adalah pada hari itu semua muslim makan. Makanannya apa? Tak satu pun ayat dalam Alquran yang menyebutkan makanannya harus ketupat dan kue nastar.

Karena hakikat dari Idul Fitri adalah berbuka setelah puasa sebulan penuh, maka diwajikan mengeluarkan zakat fitrah, untuk memastikan tak ada muslim yang terpaksa puasa saat Idul Fitri. Tentunya pula, Idul Fitri tak bisa dilepaskan dari perjuangan sebulan penuh selama Ramadan. Bagaimana puasa kita, tilawah kita, sholat-sholat fardhu kita, tarawih kita, zakat shodaqoh kita, dan apakah kita sudah menghidupkan sunah I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan? Kekuatan fisik dan psikis kita idealnya dicurahkan untuk optimalisasi Ramadan, agar kita mendapat limpahan ampunan Allah, sehingga kita di hari raya Idul Fitri tercatat sebagai hamba beriman yang sudah mencapai derajat takwa.

Berikutnya, dalam adab-adab perayaan Idul Fitri, Rasulullah saw berpesan kepada kita untuk memakai pakaian terbaik yang kita punya. Tak ada satu pun kata dalam hadist yang memerintah kita membeli baju baru. Baju baru – apalagi dengan model koko dan busana muslim – hanyalah kebiasaan pendahulu-pendahulu kita yang kemudian kita langgengkan, dan kemungkinan besar akan diabadikan keturunan-keturunan kita.

Salahkah jika seseorang merayakan Iedul Fitri dengan seragam sekolah, karena itu pakaian terbaik yang ia punya? Salahkah jika orang merayakan Iedul Fitri dengan gaun pengantin, baju dinas tentara, atau daster, jika memang itu baju yang terbaik yang ia punya? Asal menutup aurat secara syar’i, tak satupun manusia berhak menyalahkan.

Jika kita menengok ke belakang, perayaan-perayaan Idul Fitri kita menguras energi untuk mudik, macet, tumpah ruah pasar, sibuk masak ketupat, membuat nastar, memborong baju, dan lainnya. Itu jauh dari hakikat Idul Fitri. Energi seharusnya terkuras untuk I’tikaf sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw dan para sahabat.

Pembingkaian Iedul Fitri secara tradisi, dari waktu ke waktu, secara halus memupuk persepsi sebuah generasi tentang Idul Fitri. Kita mengenal Idul Fitri sebagai lebaran yang dibentuk orang tua kita. Lalu kita menanamkan pada anak-anak kita. Kelak dewasa, mereka akan menanamkan hal serupa ke anak-anak mereka. Bahkan di saat sedang diaspora pun, masyarakat Indonesia banyak yang menanamkan tradisi lebaran ke masyarakat luar negeri.

Maka, di tengah-tengah pandemi global inilah, dengan adanya keterbatasan di berbagai aspek, alangkah indahnya kita menanamkan hakikat Idul Fitri di hati kita, di hati anak-anak kita.[ind]

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

BMH Yogyakarta Salurkan Paket Berkah Fitrah ke Pelosok Gunungkidul

Next Post

Warisan Ramadan

Next Post

Warisan Ramadan

Lima Cara Terbaik Keluarga Muslim Sambut Ramadan

Pemahaman Pancasila yang Beriringan dengan Pemahaman Alquran

  • Cara Memutuskan Doa-doa Buruk

    Hadis tentang Lima Malam saat Doa Tidak Tertolak

    509 shares
    Share 204 Tweet 127
  • Ngargoyoso Waterfall jadi Salah Satu Destinasi Wisata Terfavorit di Kota Solo, Jawa Tengah

    107 shares
    Share 43 Tweet 27
  • Kehadiran Deswita Maharani dan Ferry Maryadi di Acara Lamaran Syifa Hadju dan El Rumi Menambah Kesan Hangat

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3440 shares
    Share 1376 Tweet 860
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    7906 shares
    Share 3162 Tweet 1977
  • Terjemahan Hadits Arbain Pertama Lengkap dengan Huruf Latin

    5273 shares
    Share 2109 Tweet 1318
  • Yang Berhak Memandikan Jenazah Ibu

    2874 shares
    Share 1150 Tweet 719
  • Contoh Format Isi CV Taaruf yang Bisa Kamu Ikuti

    404 shares
    Share 162 Tweet 101
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    577 shares
    Share 231 Tweet 144
  • Rekomendasi Baju Lebaran 2026, Selain Rompi Lepas

    6708 shares
    Share 2683 Tweet 1677
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga