• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Minggu, 21 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Nasihat

Jujur Itu Merasakan Allah Bersama Kita

Mutu manusia bisa dilihat dari kebenaran ucapannya. Bukan hartanya. Bahkan bukan juga ilmunya.

18/05/2021
in Nasihat, Unggulan
Jujur Itu Merasakan Allah Bersama Kita

Ilustrasi, foto: Pinterest

92
SHARES
709
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

ChanelMuslim.com- Mutu manusia bisa dilihat dari kebenaran ucapannya. Bukan hartanya. Bahkan bukan juga ilmunya.

Lidah itu tak bertulang. Itulah kiasan yang menunjukkan kelenturan lidah untuk mengucapkan apa pun. Soal benar dan salah, soal jujur dan dusta; hanya dia dan Allah yang tahu.

Karena itu, nilai ucapan sangat bergantung dari kedekatan atau hubungan khusus seseorang dengan Allah subhanahu wata’ala. Mungkin saja orang lain terpedaya dengan ucapannya, tapi Allah Maha Tahu di balik itu semua.

Sebuah cerita lama boleh jadi masih menarik untuk diambil pelajaran. Adalah seorang kiyai sepuh yang ingin mewariskan posisinya kepada sepuluh santri terbaik. Ia ingin menguji, siapa dari mereka yang pantas untuk menggantikannya.

Ujiannya lain dari yang lain. Pak Kiyai tidak menguji ilmu mereka. Karena semua memiliki ilmu yang sama hebat. Pak Kiyai juga tidak menguji kesetian mereka. Karena semua terbukti setia. Pak Kiyai juga tidak menguji mutu kepemimpinan mereka. Karena mutu itu sudah tertanam rata sejak lama.

Ujiannya sangat sederhana. Pak Kiyai hanya ingin menguji kejujurannya. Ia meminta santri-santri pilihan itu untuk menyembelih ayam di tempat yang tersembunyi. Di mana di situ hanya ada ia dan ayam yang akan disembelihnya.

“Ini ujian kejujuran untuk kalian,” titah Pak Kiyai begitu bijak.

Berangkatlah sepuluh santri ini bersama ayam yang akan disembelihnya. Mereka berpencar, mencari tempat-tempat sepi yang tak ada siapa pun yang melihat. Siapa yang sudah tuntas dengan tugasnya, mereka pun diminta segera balik dan memperlihatkan bukti sembelihannya ke Pak Kiyai.

Pak Kiyai menanti lama. Ada satu santri yang sudah kembali. Ia datang dengan ayam yang sudah disembelih.

“Kamu sudah berhasil santriku?” tanya Pak Kiyai.

“Alhamdulillah, Pak Kiyai. Ini buktinya,” jawab seorang santri.

“Di mana kamu menyembelihnya?” tanya Pak Kiyai lagi.

“Aku menyembelihnya di sebuah gua, Pak Kiyai,” jawabnya lagi.

Berikutnya, datang lagi santri kedua. Ia menceritakan telah menyembelih ayam itu di sebuah hutan lebat. Begitu pun santri-santri berikutnya dan berikutnya. Sembilan santri sudah kembali dengan ayam sembelihan dan laporan lokasi yang tersembunyi dari siapa pun.

Mereka menunggu lama untuk satu santri yang belum juga muncul. Terbersit perasaan was-was Pak Kiyai kalau sesuatu menimpa salah satu santrinya itu. Jangan-jangan ia dimangsa hewan buas, atau sejenisnya.

Hingga malam datang, satu santri ini juga belum pulang. Keesokan paginya, Pak Kiyai dan santri-santri lain kembali berkumpul menanti kepulangan satu santri ini. Hingga siang hari, tanda-tanda kepulangan itu belum terlihat.

Baru menjelang sore, satu santri ini mulai terlihat. Ia berjalan lunglai menuju pintu gerbang. Wajahnya menunjukkan aura kegagalan. Semua mata tertuju pada santri gagal ini.

“Kenapa kamu belum menyembelih ayam itu? Apa kamu tidak paham dengan instruksiku?” ucap Pak Kiyai menunjukkan rasa heran.

Santri itu tertegun. Ia agak bingung mau menjawab apa. Ia perhatikan sembilan santri lain sudah berhasil melaksanakan tugas. Tapi ia gagal.

“Hei, kenapa kamu diam. Aku tanyakan kenapa kamu tidak melaksanakan tugas sederhana itu? Kamu nggak bisa menyembelih ayam?” sergah Pak Kiyai dengan suara agak keras.

“Maaf Pak Kiyai. Bukan saya tidak bisa menyembelih ayam. Tapi, syarat yang Pak Kiyai ajukan tidak mungkin bisa saya lakukan. Saya coba ke gua, tapi saya merasa ada yang melihat perbuatan saya. Begitu pun ketika saya ke hutan, ke puncak gunung, ke pulau terpencil. Kemana pun saya pergi, saya merasa ada yang selalu melihat perbuatan saya,” jelas santri ini apa adanya.

Pak Kiyai terdiam. Kemudian ia berujar, “Siapa yang kamu yakini selalu melihat ke mana pun kamu berada?”

“Allah!” ucap santri itu begitu tulus.

Jawaban satu kata itu tiba-tiba menyentak kesadaran para santri lain. Mereka seperti merasakan, ilmu yang mereka yakini begitu banyak diperoleh, sama sekali tidak memberikan nilai tambah iman mereka.

“Kamu yang lulus santriku. Imanmu mengendalikan ilmu dan nafsumu. Bukan sebaliknya. Itulah kejujuran yang sebenar-benarnya,” ungkap Pak Kiyai yang disambut anggukan paham para santri itu.

Kejujuran bukan sekadar berkata apa adanya. Bukan sekadar tuntutan publik, aturan tertentu, dan seterusnya. Tapi lebih karena meyakini bahwa  ada yang selalu tahu tentang yang tersembunyi dalam diri ini.

Dan itu berarti kejujuran menjadi universal. Menjadi karakter yang tidak pernah terpisahkan. Tidak berarti bicara jujur dengan atasan, sementara “boleh” dusta dengan bawahan. Selalu jujur dengan orang dewasa, tapi “bisa” dusta dengan anak-anak.

Siapa pun yang memiliki iman seperti ini, akan selalu jujur meski sulit diucapkan. Meski pahit yang akan dirasakan. Karena ia tidak sedang jujur dengan manusia, tapi apa adanya dengan Yang Maha Tahu segalanya. (Mh)

Tags: Allah bersama kitajujur itumerasakan AllahMuhasabahNasihat
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Resep Chicken Meatballs and Sauce Orange, Olahan Bola Daging Segar khas Icha Savitry

Next Post

Kisah Abdul Muthalib dan Penggalian Sumur Zamzam

Next Post
Kisah Abdul Muthalib dan Penggalian Sumur Zamzam

Kisah Abdul Muthalib dan Penggalian Sumur Zamzam

Penyebab Anak Menjadi Pemarah

3 Kesalahan Besar yang Dilakukan Orang Tua dalam Membesarkan Anaknya

Mintalah Hati yang Kuat

Mintalah Hati yang Kuat

  • Pengguna Tranjateng bisa Masuk Wisata Dusun Semilir Kabupaten Semarang Secara Gratis

    Pengguna Tranjateng bisa Masuk Wisata Dusun Semilir Kabupaten Semarang Secara Gratis

    124 shares
    Share 50 Tweet 31
  • Spirit Doll Boneka Arwah dan Hukumnya dalam Islam

    356 shares
    Share 142 Tweet 89
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8694 shares
    Share 3478 Tweet 2174
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    977 shares
    Share 391 Tweet 244
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11479 shares
    Share 4592 Tweet 2870
  • Kedudukan Hewan ketika Mati, Masuk Surga atau Neraka?

    258 shares
    Share 103 Tweet 65
  • Bahaya Game Sakura Simulator School untuk Anak-Anak

    242 shares
    Share 97 Tweet 61
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4444 shares
    Share 1778 Tweet 1111
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3913 shares
    Share 1565 Tweet 978
  • Cara Membuat Dubai Chewy Cookie yang Lumer ala Fitriana Kitchen

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga