• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 1 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Menjadi Ayah Penegak Khilafah

05/02/2020
in Berita
222
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

ChanelMuslim.com – Sejak Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan pemerintah, banyak orang Islam takut bicara khilafah. Banyak yang takut dicap radikal, anti Pancasila, tidak setia kepada NKRI dll. Lebih-lebih lagi, langsung dituding sebagai pengikut HTI ketika bicara khilafah. Ketika misalnya kebetulan menjadi aparat pemerintah, baik militer (TNI/Polisi) atau sipil (ASN), bicara khilafah mungkin lebih menakutkan lagi. Maka, diam barangkali menjadi langkah aman dan mengamankan agar “dapur terus ngebul”.

Tapi, bagi seorang muslim yang merdeka tidak demikian. Apalagi ketika dia adalah seorang ayah dari keluarga muslim. Bicara khilafah tak usah takut. Biasa saja. Dalam “Parenting Nabawiyyah”, Budi Ashari, Lc pendiri sekolah Kuttab Al-Fatih menjelaskan sebuah hadis riwayat Ahmad ini. Kelak, akan datang khilafah ‘ala minhaj an nubuwwah. Ini adalah kalimat nubuwwah, bersumber langsung dari nabi.

Cirinya, para pemimpinnya adalah pemimpin-pemimpin yang adil, menyejahterakan rakyatnya. Rakyatnya adalah orang-orang beriman yang senantiasa berupaya berada dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini sekaligus mengingatkan akan sebuah doa “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan-pasangan kami, dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.

Dalam setiap kesempatan, istri saya yang masih bernuansa “Tarbiyah” sering bilang, “Tugas ayah itu nggak hanya cari nafkah, tapi bawa semua keluarga ke surga”. Menyejukkan, tapi penuh perjuangan. Benar, memang tugas seorang ayah, dalam keluarga muslim yang saya pahami, tak sekadar mencari nafkah saja. Walau itu mungkin hal utama yang harus beres terlebih dahulu. Ini tentu biasa karena seorang ayah mengalaminya.

Membawa keluarga ke surga? Di level pribadi, selaras dengan yang Allah swt firmankan dalam Alquran surat At-Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Begitulah visi besar pribadi keluarga muslim. Sementara, visi besar untuk peradaban adalah bagaimana setiap keluarga beserta anak keturunan ikut andil dalam kebesaran Islam di zaman mendatang seperti sebuah fase yang telah disebut oleh Rasulullah itu.

Menjadi sebuah ironi ketika banyak orang Islam kini takut bicara khilafah. Lebih-lebih, hanya karena misalnya dikatakan bertentangan dengan kesepakatan bernegara bernama Pancasila. Tidak. Dengan memahami konteks sejarah dan penghargaan terhadap perjuangan pendiri bangsa, konsep tentang khilafah dan Pancasila sebenarnya bisa berjalan tanpa harus dipertentangkan. Sebuah konsep ideal dan fakta sejarah keIndonesiaan saling bisa mengisi. Dengan demikian perbincangan seputar khilafah tetap hidup.

Dengan memahami konsep besar demikian, maka melahirkan generasi penegak khilafah sebenarnya adalah proyek peradaban yang mesti ada dalam setiap visi keluarga muslim. Sebuah usaha untuk melahirkan generasi terbaik sebagai pijakan awal. Sebuah generasi terbaik, umat terbaik, khaira ummah (the chosen people). Seperti tersebut dalam Alquran surat Ali-Imran ayat 110. “Kamu adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Prof. Kuntowijoyo (alm) yang dikenal lewat basis “Ilmu Profetiknya” menerangkan bagaimana konsep “The Chosen People” ini tentu berbeda dengan Yudaisme, sebuah mandat kosong yang menyebabkan rasialisme. Sementara, dalam Islam, konsep umat terbaik justru sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras, ke arah aktivisme sejarah. Bekerja di tengah-tengah manusia (uhkrijat linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan umat dalam sejarah. Sementara, nilai-nilai ilahiah (ma’ruf, munkar, iman) menjadi tumpuan aktivisme Islam. Konsep demikian membongkar narasi besar. Ini yang membedakan Islam dari etika materialistik. Di mana pandangan kaum Marxis bahwa superstructure (kesadaran) ditentukan oleh structure (basis sosial, kondisi material) tertolak. Demikian pula pandangan yang selalu mengembalikan pada individu (individualisme, eksistensialisme, liberalisme, kapitalisme) bertentangan dengan Islam karena yang menentukan bentuk kesadaran bukan individu tetapi Tuhan. Demikian juga, segala bentuk sekularisme bertentangan dengan kesadaran ilmiah.

Memang, dalam pengasuhan (parenting), kita perlu terus berusaha dan menggali konsep-kosep ideal demi sebuah generasi gemilang. Beragam konsep ditawarkan dari Barat dan Timur dengan teori-teori baru. Semua diselaraskan zaman. Hanya saja, sebagai seorang muslim, menggali konsep-konsep kunci dalam Alquran perlu terus dilakukan. Kenapa? Karena Islam menawarkan keabadian. Inilah tugas besar seorang ayah. Menjadi dan melahirkan generasi penegak khilafah. Memang butuh asupan pemikiran karena kita sedang bicara konsep-konsep, bukan sekadar “Tips-Tips Parenting”. Tidak sependapat boleh. Tapi, tanpa harus menjadi HTI, saya pribadi yakin dan berusaha ikut serta dalam proyek melahirkan generasi terbaik ini.

Depok, 5 Februari 2020
[ind]

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Personil Grup Nasyid Snada Alamsyah Agus Wafat

Next Post

Kekuatan dalam Memuji Orang Lain

Next Post
Kekuatan dalam Memuji Orang Lain

Kekuatan dalam Memuji Orang Lain

Jasuke, Ide Camilan Sore Mudah untuk Keluarga Tercinta

Korban Tewas Akibat Virus Corona di China Sudah Dekati Angka 500

  • Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    252 shares
    Share 101 Tweet 63
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8552 shares
    Share 3421 Tweet 2138
  • Doa Ketika Selesai Sa’i

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    904 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11389 shares
    Share 4556 Tweet 2847
  • Resep Siomay Gluten Free ala Chef Devina Hermawan

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Tumis Jantung Pisang Ala Chef Rudy Choirudin, Lauk Tradisional yang Kaya Rasa

    100 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3848 shares
    Share 1539 Tweet 962
  • 5 Objek Wisata Dekat Stasiun Cikarang yang Cocok untuk Liburan Singkat

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Mengenal Tiga Warna Favorit Nabi Muhammad

    265 shares
    Share 106 Tweet 66
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga