DALAM kehidupan sehari-hari kita sering kali menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di depan mata. Tidak jarang kebiasaan seseorang yang tampak sederhana justru dianggap sebagai tanda bahwa dirinya pelit atau terlalu perhitungan. Padahal kita belum tentu mengetahui alasan di balik tindakan tersebut. Bisa jadi ada nilai kebaikan dan pelajaran hidup yang sedang ia tanamkan melalui kebiasaan kecilnya.
Ada cerita yang mengisahkan seorang lelaki yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Ia kemudian mendatangi sahabatnya untuk meminjam sejumlah uang. Sayangnya sahabat tersebut juga sedang berada dalam keadaan sulit sehingga tidak mampu memberikan bantuan. Namun ia menyarankan agar lelaki itu mendatangi seseorang yang dikenal tidak pernah menolak orang yang membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: Ini Dia Sejarah Kue Cincin serta Resep Pembuatannya
Mengapa Kita Tidak Boleh Menilai Seseorang dari Kebiasaannya? Ini Pelajaran Berharga tentang Kesetiaan dan Keberkahan
Lelaki itu pun mengikuti saran tersebut. Akan tetapi kedatangannya justru membuatnya memiliki prasangka buruk terhadap calon pemberi bantuan.
Jangan Menilai Kebaikan Hanya dari Penampilan Luar
Saat pertama kali mendatangi rumah orang tersebut lelaki itu melihat pemilik rumah sedang mengobati seekor domba yang sakit. Ia merasa heran karena orang itu memiliki banyak domba tetapi masih bersusah payah merawat satu ekor domba yang sedang sakit.
Bukannya melihat tindakan tersebut sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab lelaki itu justru menganggapnya sebagai tanda sifat pelit.
Pada kunjungan kedua ia kembali menemukan kebiasaan yang menurutnya aneh. Pemilik rumah meminta anak-anaknya memungut butiran gandum yang jatuh di jalan menuju penggilingan. Padahal keluarga tersebut memiliki persediaan gandum yang cukup banyak.
Lelaki itu semakin yakin bahwa orang tersebut terlalu perhitungan. Ia menganggap tidak masuk akal jika seseorang yang berkecukupan masih harus mengumpulkan beberapa butir gandum yang terjatuh.
Ketika datang untuk ketiga kalinya ia mendengar pemilik rumah meminta anak-anak perempuannya meredupkan cahaya lampu agar minyak yang digunakan tidak cepat habis. Lagi-lagi ia menganggap tindakan itu sebagai bukti bahwa orang tersebut sangat pelit.
Dari kisah ini kita belajar bahwa penilaian manusia sering kali dipengaruhi oleh sudut pandang pribadi. Sesuatu yang terlihat buruk belum tentu memiliki maksud yang buruk. Ada alasan dan nilai kehidupan yang mungkin tidak kita ketahui.
Kesetiaan Merupakan Bentuk Akhlak yang Mulia
Ketika akhirnya lelaki tersebut berani menceritakan seluruh prasangkanya pemilik rumah justru tersenyum. Ia kemudian menjelaskan alasan di balik setiap kebiasaan yang selama ini disalahpahami.
Tentang domba yang sakit ia menjelaskan bahwa hewan tersebut telah memberikan manfaat kepada keluarganya selama bertahun-tahun. Domba itu pernah sehat dan menghasilkan susu yang dinikmati bersama.
Menurutnya tidak pantas jika mereka justru menelantarkan hewan tersebut ketika sedang sakit.
Pelajaran ini mengingatkan kita tentang pentingnya kesetiaan dan rasa terima kasih. Kebaikan seharusnya tidak hanya diberikan ketika seseorang atau sesuatu memberikan keuntungan kepada kita.
Dalam kehidupan manusia prinsip tersebut juga berlaku. Jangan sampai kita hanya mengingat orang yang pernah membantu ketika sedang membutuhkan sesuatu. Sebaliknya kita perlu menjaga hubungan baik dan menghargai mereka yang pernah hadir memberikan kebaikan.
Belajar Menghargai Rezeki Sekecil Apa Pun
Pemilik rumah juga menjelaskan bahwa kebiasaannya meminta anak-anak mengumpulkan butiran gandum bukan semata-mata karena ingin menghemat makanan.
Ia ingin mendidik anak-anaknya agar tidak meremehkan nikmat Allah. Sebab manusia tidak pernah mengetahui pada bagian rezeki yang mana Allah meletakkan keberkahan.
Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak orang terbiasa membuang makanan karena merasa masih memiliki persediaan yang cukup. Padahal makanan merupakan nikmat yang patut disyukuri.
Menghargai makanan bukan berarti harus hidup dalam kekurangan. Namun kita perlu membiasakan diri mengambil makanan secukupnya dan tidak menyia-nyiakan sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.
Allah SWT juga mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam Surah Al-A’raf ayat 31. Salah satu pesan dalam ayat tersebut adalah larangan berlebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Hidup Hemat Bukan Berarti Pelit
Kebiasaan meredupkan lampu agar minyak tidak cepat habis juga memiliki tujuan pendidikan. Pemilik rumah ingin mengajarkan anak-anak perempuannya agar terbiasa hidup hemat dan mampu mengatur pengeluaran.
Hemat dan pelit merupakan dua hal yang berbeda. Orang yang hemat menggunakan hartanya secara bijaksana dan sesuai kebutuhan. Sementara sifat pelit membuat seseorang enggan mengeluarkan hartanya bahkan ketika ada kebutuhan atau kesempatan untuk membantu orang lain.
Islam mengajarkan umatnya untuk tidak boros sekaligus tidak kikir. Prinsip keseimbangan ini dijelaskan dalam Surah Al-Furqan ayat 67 tentang orang-orang yang ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir.
Pada akhirnya kisah ini memberikan pelajaran bahwa kita tidak boleh mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan kebiasaan yang terlihat. Setiap tindakan bisa memiliki alasan dan hikmah tersendiri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Belajarlah untuk melihat sesuatu dengan lebih bijaksana. Jangan terburu-buru berprasangka buruk sebelum mengetahui kebenarannya. Sebab bisa jadi kebiasaan yang kita anggap sebagai kekurangan justru merupakan bentuk tanggung jawab dan pendidikan akhlak yang sangat berharga. [DW]
Sumber: Ustadz Aunur Rafiq Shaleh



