JARAK itu relatif. Boleh jadi, perjalanan dari Jakarta ke Parung menjadi lebih lama dari Jakarta ke Bengkulu.
Ada tiga hijrah yang pernah dilakukan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertama, hijrah dari Mekah ke Habasyah. Mereka berhijrah karena keamanan yang lebih baik dari di Mekah.
Berapa jarak dari Mekah ke Habasyah itu? Jaraknya sekitar 1.400 kilometer. Perjalanannya bisa berpekan-pekan.
Tapi, berapa lama perjalanan saat ini dari Mekah ke Habasyah atau Ethiopia itu? Lama perjalanannya hanya 2 setengah jam dengan pesawat.
Hijrah kedua, dari Mekah ke Madinah. Jaraknya sekitar 400-an kilometer. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menempuhnya selama sekitar 8 hari.
Tapi, berapa lama perjalanan saat ini dari Mekah ke Madinah? Dengan kereta cepat Haramain, lama perjalanannya hanya 2 jam-an saja.
Hijrah ketiga, dari Mekah ke Suriah dan sekitarnya atau dahulu disebut dengan negeri Syam. Mereka hijrah kesana untuk membangun masyarakat Islam yang baru untuk menyaingi Bizantium yang hanya berjarak beberapa kilometer.
Jarak dari Mekah ke Damaskus, Suriah, sekitar 1.400 kilometer. Jaraknya tiga kali lebih dari Mekah ke Madinah. Perjalanan hijrah waktu itu ditempuh hampir satu bulan.
Namun kini, perjalanan dari Mekah ke Damaskus dengan pesawat hanya sekitar 2 jam-an saja.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdakwah ke Thaif. Beliau ditemani Zaid bin Haritsah. Lama perjalanannya bisa berhari-hari.
Namun kini, dua lokasi yang berjarak sekitar 100 kilometer itu hanya ditempuh selama 1 setengah jam saja dengan mobil.
**
Ketika kita berziarah ke Mekah, Madinah, Thaif, Palestina, dan Suriah; kita seperti hanya mendapati tempat-tempat dengan nama yang berbeda.
Rasanya sulit membayangkan dan merasakan bagaimana beratnya perjuangan Nabi dan para sahabat yang hijrah dan berdakwah saat itu. Hal ini karena kita tidak pernah merasakan perjalanan seperti yang ditempuh Nabi dan para sahabat saat itu.
Tidak heran jika ziarah-ziarah itu rasanya hanya seperti pariwisata, jalan-jalan, dan lainnya.
Ketika bumi seperti tak lagi berjarak, ada kehilangan besar yang kita alami: kehilangan makna perjuangan orang-orang terdahulu.
Dan ketika teknologi komunikasi seperti hape memudahkan cara berkomunikasi, kita seperti kehilangan semangat untuk berkunjung ke saudara dan kerabat kita.
Kita merasa cukup hanya dengan mengetik ‘inna lillahi’ ketika ada kabar duka, atau ‘baarakallah’ ketika ada yang walimahan. Tanpa pernah datang dan menemui langsung. [Mh]





