KITA mungkin sudah berusaha menenangkan hati, memperbanyak ibadah, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Namun, pikiran tetap terasa lelah karena terus terlibat dalam konflik, percakapan yang melelahkan, atau drama yang sebenarnya tidak perlu.
Syams Tibriz pernah menyampaikan sebuah nasihat, “Kalau kamu meminta kepada Allah agar dikaruniai ketenangan pikiran, jangan heran jika kamu dijauhkan dari beberapa orang.”
Nasihat tersebut mengajak kita memahami bahwa terkadang, jalan menuju ketenangan justru dimulai dengan berkurangnya orang-orang di sekitar kita.
Baca Juga: 7 Hal Penting yang Perlu Disiapkan Sebelum Medical Check Up agar Hasil Lebih Akurat
Menjaga Ketenangan Pikiran dengan Memilih Lingkungan Pertemanan yang Sehat
Tidak Semua Pertemanan Membawa Ketenangan
Dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan pergaulan memiliki pengaruh terhadap cara kita berpikir dan merasakan sesuatu. Berteman dengan orang yang gemar membicarakan keburukan orang lain, memperbesar masalah kecil, atau terus menciptakan konflik dapat membuat pikiran ikut dipenuhi kegaduhan.
Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan masalah orang lain, merasa cemas terhadap konflik yang tidak berkaitan dengan diri sendiri, bahkan kehilangan energi untuk mengurus kehidupan pribadi.
Bukan berarti kita harus menjauhi setiap orang yang sedang menghadapi masalah. Setiap manusia tentu pernah mengalami masa sulit dan membutuhkan dukungan. Namun, ada perbedaan antara menemani seseorang melewati kesulitan dan terus-menerus terseret dalam drama yang tidak berkesudahan.
Belajar Menetapkan Batasan
Menjaga ketenangan pikiran bukan berarti menjadi pribadi yang tidak peduli. Kita tetap bisa bersikap baik, mendengarkan orang lain, dan memberikan bantuan sesuai kemampuan tanpa harus mengorbankan kesehatan emosional sendiri.
Ada kalanya kita perlu membatasi percakapan yang tidak sehat, mengurangi keterlibatan dalam konflik, atau mengambil jarak dari hubungan yang terus menguras energi. Tidak semua persoalan harus ditanggapi dan tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.
Jika ada hubungan yang membuat kita terus merasa tertekan, cobalah mengevaluasinya dengan jujur. Lakukan dengan cara yang baik, tanpa kebencian dan tanpa merasa perlu membalas perlakuan buruk orang lain.
Menemukan Ketenangan dalam Kedekatan kepada Allah
Pada akhirnya, ketenangan hati tidak sepenuhnya bergantung pada manusia. Kita perlu terus mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, ibadah, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki akhlak. Lingkungan yang baik dapat membantu perjalanan tersebut, sementara batasan yang sehat membuat kita lebih leluasa menjaga diri.
Mari terus belajar menerima bahwa tidak semua orang akan berjalan bersama kita selamanya. Ada hubungan yang mengajarkan kesabaran, ada pula perpisahan yang mengajarkan kedewasaan.
Jika suatu hari lingkaran pertemanan terasa semakin kecil, jangan buru-buru menganggap diri kehilangan segalanya. Bisa jadi, kita sedang belajar memilih hubungan yang lebih sehat dan bermakna.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab hidup bukan tentang memiliki sebanyak mungkin teman, melainkan tentang membangun hubungan yang membawa kebaikan. Jagalah hati, pilih lingkungan dengan bijak, dan jangan lupa memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan dalam setiap langkah kehidupan. [DW]
Sumber: Ustadzah Halimah Alaydrus





