AWAL pernikahan, suami mungkin masih ja’im di depan istri. Kentut sedikit saja, langsung mencari alasan untuk keluar kamar. Kadang pura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal wajahnya sudah mencurigakan.
Namun, setelah bertahun-tahun menikah, ceritanya bisa berbeda.
Suami kentut sembarangan. Kadang saat duduk berdua, menonton televisi, bahkan ketika istri sedang makan. Lebih parah lagi, setelah kentut, dia malah tertawa sendiri.
Istri pun bingung. Mau marah, kok sama suami sendiri. Mau tertawa, baunya tidak mendukung suasana.
Lantas, bagaimana sebaiknya istri menyikapi kebiasaan suami yang satu ini?
## Jangan Langsung Menganggap Suami Tidak Menghargai Istri
Pertama, pahami bahwa kentut merupakan proses biologis yang normal. Setiap orang bisa mengalaminya, baik laki-laki maupun perempuan.
Kadang kentut memang sulit ditahan, terutama ketika perut sedang kembung atau ada gangguan pencernaan.
BACA JUGA: 5 Perkataan yang Tidak Boleh Diucapkan Suami pada Istri, Bisa Fatal Akibatnya
Namun, ada perbedaan antara kentut yang tidak sengaja dan sengaja kentut di depan pasangan untuk mengganggu atau membuatnya tidak nyaman.
Kalau suami tidak sengaja, tidak perlu dibesar-besarkan. Akan tetapi, jika ia sengaja melakukannya berulang kali meskipun tahu istrinya terganggu, persoalannya bukan lagi sekadar kentut, melainkan soal empati dan menghargai pasangan.
## Bicarakan Baik-Baik, Tidak Perlu Perang Dunia
Istri tidak harus langsung marah atau menganggap kebiasaan tersebut sebagai masalah besar dalam pernikahan.
Cobalah menyampaikannya dengan santai.
Misalnya, “Ayah, kalau mau kentut, agak menjauh sedikit, ya. Ibu juga ingin menikmati udara segar di rumah ini.”
Bisa juga menggunakan humor selama keduanya nyaman.
Namun, jika suami terus melakukannya dengan sengaja, istri berhak menyampaikan keberatan secara tegas tetapi tetap sopan.
Rumah tangga yang sehat bukan berarti suami dan istri harus selalu ja’im. Keduanya boleh menjadi diri sendiri, tetapi tetap perlu menjaga kenyamanan bersama.
## Islam Mengajarkan Adab dan Menjaga Perasaan
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga adab, termasuk ketika berinteraksi dengan pasangan.
Allah berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19).
Ayat ini mengingatkan para suami agar memperlakukan istri dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat diwujudkan melalui sikap menghargai, tidak menyakiti, dan memperhatikan kenyamanan pasangan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi).
Jadi, meskipun kentut bukan perkara yang perlu diperlakukan seperti dosa besar, bukan berarti seseorang boleh sengaja mengganggu pasangannya lalu berlindung di balik alasan, “Kan sudah suami istri!”
Status suami istri bukan tiket untuk mengabaikan adab.
## Kalau Kentut Terus-Menerus, Perhatikan Kesehatan
Ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. Jika suami sering kentut, bisa jadi ada faktor makanan atau kebiasaan yang memengaruhinya.
Konsumsi makanan tertentu, minuman bersoda, makan terlalu cepat, atau intoleransi terhadap makanan tertentu dapat meningkatkan produksi gas di saluran pencernaan.
Coba perhatikan makanan yang dikonsumsi dan apakah ada keluhan lain, seperti perut kembung atau nyeri.
Jika kentut berlebihan disertai sakit perut yang menetap, perubahan pola buang air besar, darah dalam tinja, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sebaiknya periksakan diri ke dokter.
Jadi, jangan hanya menyalahkan suami karena bau kentutnya. Siapa tahu memang ada persoalan pencernaan yang perlu ditangani.
BACA JUGA: Tempat Terburuk untuk Suami dan Istri
## Kesimpulan: Boleh Santai, Tetap Harus Punya Adab
Istri tidak perlu panik hanya karena suami suka kentut di rumah. Itu bagian dari proses alami tubuh manusia.
Namun, suami juga perlu memahami bahwa keakraban dalam pernikahan bukan berarti semua perilaku harus dianggap lucu oleh pasangan.
Kalau tidak sengaja, ya sudah, tidak perlu dipermasalahkan berlebihan. Kalau sengaja untuk bercanda, pastikan istri juga merasa nyaman. Kalau istri keberatan, hargai perasaannya.
Pernikahan memang tempat untuk menjadi diri sendiri, tetapi bukan tempat untuk berhenti menghormati pasangan.
Dan buat para suami, kalau sudah terasa ingin kentut, tidak ada salahnya sedikit menjauh.
Bukan karena takut istri, tetapi karena cinta juga membutuhkan adab. []



