SEBANYAK 250 pimpinan Majelis Taklim se-Jakarta Selatan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) pada Sabtu (31/10) di Masjid Al-Insan, Senayan, Jakarta.
Kegiatan yang mengangkat tema “Bersama Majelis Taklim: Cinta Rasul, Peduli Palestina” ini menjadi momentum konsolidasi gerakan ibu-ibu majelis taklim untuk menguatkan cinta kepada Rasulullah sekaligus kepedulian terhadap Palestina.
Duka Ibu Palestina adalah Duka Ibu Indonesia
Wakil Ketua KPIPA, Hasanah Ubaidillah, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran ratusan pimpinan majelis taklim adalah bukti nyata cinta kepada Rasulullah SAW. Ia mengingatkan sabda Rasulullah yang mengumpamakan umat Islam seperti satu tubuh. Jika yang satu sakit, maka yang lain juga merasakan sakit.
“Duka ibu Palestina adalah duka ibu di Indonesia dan duka anak Palestina adalah duka anak di Indonesia. Mari kita gerakkan kepedulian, ajarkan keluarga kita untuk mencintai bumi para nabi. Aksi-aksi kita sangat berarti bagi mereka, karena mereka menyaksikan semua itu,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua DPD Forum Silaturahmi Majelis Taklim (Forsitma) Jakarta Selatan, Ustazah Siti Khadijah, mengajak para pimpinan Majelis Taklim untuk menyukseskan gerakan membantu Palestina melalui wakaf dan sedekah. “Mari bersama kita sisihkan rezeki untuk membantu mereka. Kita kumpulkan dan salurkan melalui lembaga resmi yang bekerjasama dengan KPIPA,” serunya.
5 Alasan Wajib Bela Palestina dan Rahasia Keteguhan Gaza
Ceramah utama disampaikan oleh Ketua KPIPA, Dr. Nurjanah Hulwani. Ia menjelaskan bahwa kerinduan kepada Rasulullah harus diwujudkan dengan pembelaan terhadap bumi Palestina.
Dr. Nurjanah memaparkan 5 alasan wajib membela Palestina. Pertama, mandat dari Allah SWT seperti termaktub dalam QS. Al-Isra ayat 1. Kedua, tanah Palestina adalah tanah wakaf umat Islam. “85% tanah Palestina telah dirampas dan hanya tersisa 15%. Maka tanggung jawab membelanya berada pada seluruh umat Islam, bukan hanya warga Palestina,” jelasnya.
Ketiga, Masjid Al-Aqsha terus dinistakan. Keempat, penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Terakhir, normalisasi hubungan dari negara-negara Arab dengan enjajah Israel.
Nurjanah kemudian menceritakan keteguhan rakyat Gaza meski menghadapi genosida. “Rakyat Gaza berkata, penyiksaan seberat apapun tidak ada nilainya dibanding siksa Allah jika kami lalai membela Al-Aqsha,” ungkap Dr. Nurjanah.
Menurutnya, rahasia keteguhan Gaza ada pada beberapa hal. Pertama, mereka adalah pemilik sah tanah airnya. Kedua, kedekatan mereka dengan Al-Quran dalam suka dan duka. “Banyak korban genosida yang terpaksa menjalani operasi tanpa anestesi. Mereka mengalihkan rasa sakit dengan membaca Al-Quran. Mereka juga bebas dari ghazwul fikri (perang pemikiran),” jelas Nurjanah.
Ia menutup dengan pesan, “Setetes kepedulian yang kita kumpulkan akan menjadi lautan kepedulian. Pahalanya sama seperti jihad fi sabilillah.”
Majelis Zikir Dicari Malaikat
Tausiyah kedua disampaikan tokoh muslimah Jakarta, Ustazah Nani Handayani. Ia mengingatkan bahwa menolong agama Allah adalah kunci pertolongan Allah. “Jika engkau menolong agama Allah, Allah akan menolongmu. Ini adalah sebuah ibadah, datang ke masjid menuntut ilmu,” ujarnya.
Ustazah Nani juga menyampaikan hadits tentang keutamaan majelis zikir, di mana Allah membanggakan hamba-hamba yang berkumpul karena mencintai-Nya, ingin masuk surga dan takut akan neraka.
Mengutip Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Imam Tirmidzi, ia menjelaskan tentang gambaran neraka dan adab-adab Rasulullah dalam menjamu tamu serta makan, sebagai teladan yang harus dihidupkan di majelis taklim.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina dan komitmen 500 pimpinan Majelis Taklim untuk terus menghidupkan Majelis Quran dan menggalang kepedulian untuk Palestina melalui wakaf produktif. [Mh/KPIPA]


