SEMUA hewan mungkin punya naluri jalan pulang. Di mana pun mereka berada, berapa lama pun mereka pergi; mereka tak akan lupa arah untuk kembali pulang.
Jangan heran jika di halaman rumah kita ada ular. Ular-ular itu tidak sedang mencari makanan. Atau pula, tidak sedang tersasar arah perjalanan.
Bukan itu. Mereka sedang kembali menjejaki rumahnya dahulu. Boleh jadi, di rumah kita itu, dahulunya merupakan semak belukar tempat di mana sang ular dahulunya lahir dan tumbuh besar.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kucing. Jangan heran jika ada induk kucing lahiran di pelapon rumah kita.
Itu bukan karena dia salah pilih tempat. Bukan pula karena terpaksa, atau tak ada tempat lain.
Bukan itu. Induk kucing lahiran di pelapon rumah kita, karena dahulu ia terlahir di sana. Nalurinya membimbingnya untuk kembali ke tempat ia dilahirkan.
Begitu pun dengan hewan-hewan lain seperti ikan salmon yang berjuang keras untuk bertelur di tempat di mana ia pernah menetas dari telur. Walaupun ia harus menempuh jalan sulit dengan melawan arus aliran sungai.
Fenomena alami itu disebut dengan filopatri. Yaitu, naluri untuk kembali ke tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
**
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah atau suci. Lingkunganlah yang menjadikan ia berubah.
Dahulu, kita adalah bagian dari bayi-bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah itu. Pada saatnya, naluri kita akan menuntun kita kembali kepada fitrah.
Sebelum kita pergi terlalu jauh. Sebelum lingkungan kotor kian membenamkan naluri fitrah kita. Sebelum ajal lebih dahulu tiba. Segeralah untuk kembali ke fitrah suci kita. Fitrah yang menjadikan hati dan jiwa kita begitu dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. [Mh]


