SETIAP manusia pada dasarnya senang dihargai. Ketika usaha kita dipuji, hati terasa bahagia. Saat pekerjaan diapresiasi, semangat pun bertambah. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Namun, yang perlu dijaga adalah jangan sampai keinginan tersebut berubah menjadi tujuan hidup hingga membuat kita rela mengorbankan keikhlasan demi pujian manusia.
Sering kali tanpa disadari, kita melakukan kebaikan agar dilihat orang lain. Kita berharap dipuji sebagai orang yang dermawan, saleh, pintar, atau rendah hati. Padahal, pujian manusia sifatnya sementara. Hari ini seseorang mengagumi kita, esok belum tentu ia tetap memuji. Hati manusia mudah berubah, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang kekal.
Baca Juga: Lima Manfaat Daun Kemangi untuk Kesehatan Tubuh, Dapat Mencegah Kanker
Pujian Terbaik Hanya Milik Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Janganlah kamu mengadakan sesembahan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS. Al-Isra: 22)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa syirik bukan hanya menyembah selain Allah secara lahiriah, tetapi juga mengajarkan kita untuk menjaga hati agar tidak menggantungkan nilai diri kepada selain-Nya. Ketika pujian manusia lebih kita kejar daripada keridaan Allah, saat itulah keikhlasan mulai terancam.
Orang yang ikhlas tidak berhenti berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Ia tetap menolong, tetap bersedekah, tetap menjaga salat, dan tetap berakhlak mulia karena yakin Allah menyaksikan setiap amal. Baginya, penilaian Allah jauh lebih berharga daripada tepuk tangan manusia.
Sebaliknya, orang yang hidup hanya mengejar pujian akan mudah kecewa. Ia merasa sedih ketika usahanya tidak dihargai, marah ketika orang lain mendapat apresiasi lebih banyak, bahkan kehilangan semangat berbuat baik karena tidak memperoleh pengakuan. Hatinya menjadi bergantung kepada makhluk, padahal hanya Allah yang mampu memberikan ketenangan sejati.
Maka, mari luruskan kembali niat dalam setiap amal. Sebelum membantu seseorang, bertanyalah kepada diri sendiri, “Apakah ini karena Allah?” Sebelum mengunggah kebaikan di media sosial, renungkan apakah tujuannya menginspirasi atau sekadar mencari sanjungan. Muhasabah seperti ini akan menjaga hati agar tetap berada di jalan keikhlasan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pujian yang paling layak dikejar bukanlah pujian manusia, melainkan pujian dari Allah. Jika Allah telah ridha kepada seorang hamba, maka itu adalah kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh penghargaan apa pun di dunia. Semoga setiap amal yang kita lakukan senantiasa dilandasi keikhlasan, dijauhkan dari riya, dan menjadi sebab Allah mencintai kita. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri





