SOAL sekolah Internasional. Jadi gini lho. Semua negara punya standart education yang wajib diikuti oleh anak-anak di negara tersebut. Kalau zaman dulu, kayak Ebtanas atau zaman sekarang kayak TKA.
Nah, kalau di Australia ada yang namanya Naplan. Yang bikin pemerintah untuk diikuti semua anak, khususnya SMU di seluruh penjuru Australia. Kalau di Inggris namanya Pearson Edexcel. Nah ini yang diambil oleh JISc sebagai standar kemampuan anak-anak SMU di Indonesia.
Nah di Inggris negerinya Pangeran Charles ada juga board of examination lain seperti Cambridge, dan lain-lain. Selain Pearson Edexcel itu sendiri ..
Kalau Pearson Edexcel adalah kurikulum yang cukup dominan dipakai di sekolah-sekolah di London dibandingkan Cambridge. Kalau Cambridge banyak dipakai di Asia Tenggara. Mana lebih bagus?
Semuanya bagus.
Sekolah-sekolah di Indonesia bisa mendaftar untuk menjadi Exam Centre (tempat terselenggaranya Ujian O level dan A level ) – Ini khusus SMU. Tapi wajib bayar dan namanya akan dimasukkan ke dalam website pihak pengelola ujian tersebut.
Kalau JISc juga jadi centre of examination dan centre untuk sekolah lain kalau mau ujian Edexcel yang dikeluarkan oleh board of examination di UK, jadi nanti JISc yang akan daftarkan nama anak tersebut untuk ikut ujian di JISc.
Intinya kurikulum international itu sangat banyak, ada yang namanya GCSE Singapore, ada yang Cambridge, Pearson Edexcel, Naplan, dan lain-lain. Tergantung sekolah mau pilih yang mana untuk diambil ujiannya.
Untuk kurikulum? Tentu saja totally different antara kurikulum International dan Lokal. Contoh simple; Untuk Science saja khan beda flora dan fauna di negara mereka dengan negara kita. Jadi anak akan otomatis belajar dua jenis. Berat enggak? Pasti berat.
Tapi semua ini tergantung metode yang dipakai di sekolah itu. Tergantung gurunya sih.
Ada training enggak dari institusi terkait? Kebanyakan yang men-training justru penerbit buku yang dipakai. Kurikulum akan dikasih tapi semua guru belajar sendiri.
Jadi sekolah International itu tergantung image gurunya bukan gedung sekolah atau legalitas sebagai Exam Centre. Atau nama sekolah tertera dalam Website.
Perlu enggak belajar pakai buku International dari Primary bahkan Kindy? Yaa sah-sah saja, boleh juga. Sekalian melatih English dari sejak masih kecil.
baca juga: Selangkah Lebih Maju, SD JISc Jadi Sekolah Model Pembelajaran Deep Learning dan AI di Jakarta
Tapi yang wajib ujian adalah SMU, yaitu ujian O level (7 subjects minimal)- math, english, science, humanities, Biology, social, language (boleh Arabic atau Indonesia),
Dan semua ini harus bayar 2.5-3 juta per subject. Kalau dikali 7 yaa sekitar 21 juta lagi.
Ujian untuk Primary dan Secondary ada juga kalau mau, namanya chek point bisa di kelas 6 dan kelas 9. Hanya 3 subjects (English, Math and Science), ini bayar juga, per subject-nya sekitar 2-3 juta rupiah. Bayarnya poundsterling dibayar oleh si Exam Centre langsung ke UK.
Kalau di JISc optional boleh ikut ujiannya boleh tidak. Hanya untuk SMU diwajibkan ambil English-nya. Subject lain optional.
Setelah ikut ujian O level (yang 7 subjects), di kelas 2 SMU. Lalu ke mana? Tetap yaa tidak bisa masuk University, kalau di luar negeri bisa masuk Tafe (sekolah kejuruan atau Diploma). Kalau mau masuk University harus ikut lagi ujian tahap berikut yaitu A level. Dan ini sangat susah sekali.
Demikian, sepengetahuan saya. Kalau ada yang mau menambahkan silakan.
Untuk memberikan wawasan yang sebenernya dulu pernah juga pemerintah buat RSBI dan kerja sama dengan Cambridge.
Soal Sekolah Internasional
Dulu (15 tahun lalu) JISc juga ikut, waktu itu yang jadi centre adalah SMU 81 Rawamangun, anak-anak JISc dulu kalau ujian ke SMU 81. Setelah RSBI ditiadakan, maka kami beralih ke Edexcel Pearson dan menjadi exam centre (jadi kalau masa ujian bisa di sekolah)
Why?
Terus terang karena lebih murah
Hehe.
Alasannya ekonomi …
Terima kasih sudah membaca .
Oh ya satu lagi
Waktu ujian bisa tiba-tiba di hari ke-2 lebaran ya, jadi siap-siap untuk enggak lebaran dengan keluarga. (Berdasarkan pengalaman sebagai sekolah Islam International pertama di Indonesia).
Wasssalam
Founder dan Owner Jakarta Islamic school (JISc)
Mam Fifi P. Jubilea, S.E., S.Pd., M.Sc., Ph.D.





