HUJAN bukan sekadar fenomena alam biasa. Itulah adalah Rahmat Allah subhanahu wata’ala. Bertaubatlah agar Rahmat Allah tetap melimpahi kita.
Dalam Kitab At-Tawwabiin karya Ibnu Qudamah rahimahullah, disebutkan tentang kisah Nabi Musa alaihissalam dan umatnya yang meminta turun hujan.
Nabi Musa dan ribuan umatnya berkumpul di tanah lapang untuk bertaubat dan meminta kepada Allah untuk diturunkan hujan. Tapi, hujan tak kunjung datang.
Allah mewahyukan kepada Nabi Musa agar mengeluarkan seorang dari umatnya karena terus membangkang dan bermaksiat. Selama empat puluh tahun, orang itu melakukan maksiat.
Nabi Musa menyampaikan hal itu kepada umatnya yang sedang berkumpul itu. Kira-kira Nabi Musa mengatakan, “Siapa yang telah bermaksiat selama empat puluh tahun, segera tinggalkan barisan ini.”
Namun, tak seorang pun yang keluar dari barisan. Semua tetap diam pada posisi masing-masing.
Setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba Allah menurunkan hujan. Hujan turun dengan lebatnya.
Nabi Musa bingung. Bagaimana mungkin belum ada seorang umatnya yang keluar dari barisan tapi hujannya sudah turun deras.
Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa orang itu diam-diam sudah bertaubat atas semua pembangkangan dan maksiat yang telah dilakukan. Karena itu, Allah menurunkan hujan.
Nabi Musa menanyakan kepada Allah: siapakah gerangan seorang umatnya itu yang telah bermaksiat?
Allah mewahyukan: selama empat puluh tahun dia bermaksiat saja, Allah rahasiakan sosoknya. Bagaimana mungkin setelah ia bertaubat, Allah mengungkapnya. Wallahu a’lam.
**
Alam ini benda mati. Allah subhanahu wata’ala yang mengatur dan mengendalikan semuanya.
Begitu pun dengan hujan yang merupakan Rahmat Allah subhanahu wata’ala. Ia turun sebagai ungkapan Kasih dan Sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Bertaubatlah ketika Rahmat Allah itu tak kunjung datang. Mulailah taubat itu dari diri kita masing-masing. Karena siapa tahu, kitalah yang paling besar dosa maksiatnya. [Mh]





