ADA kalanya seseorang merasa lelah ketika doa yang dipanjatkan berkali-kali belum juga menunjukkan jawaban. Sudah meminta dengan sungguh-sungguh, sudah menangis dalam sujud, bahkan sudah berusaha memperbaiki diri, tetapi keadaan seolah belum berubah. Pada titik seperti ini, tidak sedikit orang mulai bertanya-tanya, apakah doanya benar-benar didengar oleh Allah?
Sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengajak kita melihat doa dari sudut pandang yang berbeda. Bukan semata-mata memikirkan apakah doa akan segera dikabulkan, tetapi justru bertanya kepada diri sendiri: apakah kita akan terus mampu berdoa?
Baca Juga: Zainab Ats-Tsaqifiyah, Shahabiyah yang Mengajarkan Sedekah Dimulai dari Rumah
Bukan Hanya Soal Doa Dikabulkan, Tapi Mampukah Kita Terus Berdoa?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Sebab, kemampuan untuk berdoa merupakan nikmat tersendiri. Ketika hati masih tergerak untuk mengangkat tangan, menyebut nama Allah, mengadukan kesedihan, memohon pertolongan, dan berharap kepada-Nya, sebenarnya ada karunia yang sedang diberikan kepada kita.
Doa bukan sekadar cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Doa adalah bentuk penghambaan. Melalui doa, seorang manusia mengakui bahwa dirinya memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan dari Zat Yang Mahakuasa.
Karena itu, jangan sampai ukuran diterimanya doa hanya berdasarkan seberapa cepat keinginan kita terwujud. Terkadang seseorang mendapatkan apa yang dimintanya. Namun, pada kesempatan lain, Allah memberikan sesuatu yang berbeda karena Dia mengetahui apa yang paling baik bagi hamba-Nya.
Ada pula doa yang seolah belum mendapatkan jawaban, padahal bisa jadi prosesnya sedang berjalan dengan cara yang tidak kita pahami. Allah dapat mengubah keadaan, membuka jalan yang sebelumnya tidak terlihat, atau memberikan ketenangan kepada hati sehingga seseorang mampu melewati persoalannya.
Nasihat tersebut juga mengajarkan tentang pentingnya istiqamah. Berdoa ketika sedang membutuhkan memang mudah. Tantangannya adalah tetap berdoa ketika keadaan belum berubah. Tetap percaya ketika harapan terasa jauh. Tetap mengetuk pintu langit meskipun kita belum mengetahui kapan jawaban itu datang.
Maka, jangan buru-buru berhenti berdoa hanya karena keinginan belum terwujud. Bisa jadi, kemampuan untuk terus meminta kepada Allah merupakan bagian dari jawaban yang sedang kita jalani.
Ketika hati masih ingin berdoa, jangan abaikan dorongan tersebut. Datanglah kepada Allah dengan segala kerendahan hati. Ceritakan apa yang tidak mampu kita ceritakan kepada manusia. Sebab, dalam doa terdapat harapan, ketenangan, sekaligus pengakuan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, yang perlu kita jaga bukan hanya harapan agar doa dikabulkan, tetapi juga hubungan dengan Allah melalui doa itu sendiri. Teruslah mengetuk, teruslah berharap, dan jangan lelah memohon. Karena bisa jadi, kemampuan kita untuk tetap berdoa adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang sering tidak kita sadari. [DW]
Sumber: dr. Zaidul Akbar





