KETELADANAN itu energi yang selalu membakar semangat. Apa pun halangannya. Apa pun godaannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lahir pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan tanggal 20 April 571 masehi. Atau, hampir 15 abad yang lalu.
Sebelum lahir, cobaan hidup sudah lebih dahulu menanti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika masih dalam kandungan, ayahanda beliau wafat. Dan, ketika di usia masih sangat belia: 6 tahun, menyusul ibunda beliau pergi untuk selamanya.
Selanjutnnya, Nabi tinggal bersama kakeknya. Padahal, kakeknya bukan tergolong orang kaya. Anaknya banyak. Begitu pun dengan cucu-cucunya. Di usia beliau itu, Nabi ikut menggembala kambing. Tak merasakan belajar membaca dan menulis.
Hanya 2 tahun beliau tinggal bersama kakeknya. Setelah sang kakek wafat, Nabi tinggal bersama pamannya. Hal yang sama juga dirasakan Nabi karena pamannya bukan orang kaya, anaknya pun banyak.
Nabi ikut membantu pamannya mencari nafkah. Di usia 25, beliau menikah. Dari pernikahan itu, lahir 6 orang anak, 2 di antaranya laki-laki. Tapi 2 anak laki-laki beliau wafat di usia masih kecil.
Di usia 40, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Allah angkat menjadi Nabi dan Rasul. Inilah masa-masa berat yang akan dialami Nabi. Mulai dari pengucilan, pelecehan, hingga percobaan pembunuhan.
Kian hari, masa kenabian di Mekah ini kian berat dirasakan Nabi. Bukan hanya dirinya menjadi target penyiksaan, melainkan juga para sahabat beliau. Nabi memerintahkan sejumlah sahabat hijrah ke Habasyah atau Ethiopia saat ini. Jaraknya, lebih dari seribu kilometer.
Di masa berat itu, dua orang tercinta Nabi wafat. Yaitu, istri beliau: Khadijah dan paman beliau: Abu Thalib. Keduanya merupakan sosok sempurna yang selalu membantu perjuangan Nabi.
Tak lama setelah itu, Allah juga memerintahkan Nabi hijrah ke Madinah. Jaraknya sekitar 400-an kilometer. Suatu tempat yang tidak ada sanak dan saudara, kecuali saudara seiman.
Apakah kehidupan menjadi lebih tenang ketika hidup di Madinah? Tidak juga. Justru, di masa inilah, Nabi dan para sahabat mengalami begitu banyak peperangan: besar dan kecil. Bahkan di Perang Uhud, Nabi mengalami luka parah.
Di Madinah ini pula, musuh Nabi dan musuh Islam juga bertambah. Bukan lagi kaum musyrik, melainkan juga kaum munafik, Yahudi, dan Nasrani. Bahkan, negara super power saat itu seperti Bizantium juga mulai memerangi Nabi.
Para ahli sejarah menyebut, sekitar 85 peperangan yang dialami Nabi dan sahabat. Padahal, satu peperangan besar seperti Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk; bisa memakan waktu satu bulan.
Padahal, Nabi juga punya keluarga, begitu pun para sahabat radhiyallahum ajmain. Mereka juga punya tanggung jawab untuk memberikan nafkah, kesehatan, pendidikan, asuhan, dan lainnya. Betapa sibuknya Nabi dan para sahabat.
**
Jangan bayangkan sosok Nabi begitu santai, hanya duduk-duduk di masjid sambil berzikir, makan-makan dari hidangan tasyakuran, berziarah dan pelesiran, dan seterusnya.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manusia yang paling berat cobaan hidupnya. Dari tujuh putera-puteri beliau, hanya satu yang wafat setelah beliau wafat. Betapa beratnya jika seorang ayah merasakan cobaan itu.
Kehidupan beliau tidak kaya raya. Beliau wafat di rumah yang hanya berukuran sekitar 30 meter per segi. Tanpa meninggalkan tabungan, tanah, emas, bahkan tak ada perabot yang berarti.
Padahal, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam orang yang paling dekat dan paling dicintai Pemilik dan Penguasa alam raya ini: Allah subhanahu wata’ala.
Itulah sosok teladan kita. Bersabarlah dalam mengarungi hidup yang sejenak ini. Tetaplah istiqamah agar akhir hidup kita dalam keadaan yang terbaik. [Mh]





