ADA kalanya seseorang begitu sibuk memperhatikan kehidupan orang lain hingga lupa melihat keadaan dirinya sendiri. Ia mudah menilai kesalahan orang, memikirkan kekurangan orang lain, bahkan merasa sudah melakukan banyak kebaikan. Padahal, perjalanan memperbaiki diri sendiri masih panjang dan membutuhkan perhatian yang tidak sedikit.
Sebelum berusaha memperbaiki dunia di sekitar kita, ada baiknya memastikan bahwa diri sendiri sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan berarti seseorang harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk berbuat baik. Namun, memperbaiki diri dan melakukan kebaikan seharusnya berjalan bersama.
Baca Juga: Bukan Sekadar Penambah Gizi, Ini Manfaat Daun Kelor yang Jarang Diketahui
Selesaikan Dirimu Sendiri Sebelum Sibuk Memikirkan Orang Lain
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita merasa sudah cukup banyak melakukan amal. Kita mungkin rajin bersedekah, membantu orang lain, mengikuti kajian, atau melakukan berbagai aktivitas yang bernilai kebaikan. Semua itu tentu merupakan hal yang baik. Namun, jangan sampai kesibukan tersebut membuat kita lupa mengevaluasi hati dan perilaku sendiri.
Pertanyaan sederhana terkadang justru paling sulit dijawab. Apakah ibadah yang dilakukan sudah membuat kita semakin dekat kepada Allah? Apakah kita menjadi lebih sabar setelah belajar agama? Apakah hubungan dengan keluarga semakin baik? Apakah kita masih mudah iri, marah, sombong, atau meremehkan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari muhasabah, yaitu introspeksi atau evaluasi terhadap diri sendiri. Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa introspeksi dapat membantu seseorang melihat kembali perjalanan hidupnya, termasuk menilai apakah dirinya semakin mendekat atau justru menjauh dari Allah.
Muhasabah bukan berarti membenci diri sendiri. Sebaliknya, muhasabah merupakan kesempatan untuk mengenali kekurangan dan memperbaikinya. Dengan mengetahui kelemahan diri, seseorang dapat menentukan langkah yang lebih baik untuk kehidupan berikutnya.
Begitu pula dalam beramal. Sebelum melakukan suatu kebaikan, kita perlu memperhatikan niat. Jangan sampai amal yang terlihat indah di mata manusia ternyata kehilangan maknanya karena dilakukan demi mendapatkan pujian. Memperbaiki niat merupakan bagian penting dalam menjaga keikhlasan sebuah amal.
Karena itu, jangan terlalu sibuk menghitung kebaikan yang telah kita lakukan kepada orang lain sampai lupa menghitung kekurangan diri sendiri. Jangan pula merasa sudah selesai hanya karena telah melakukan beberapa amal.
Setiap hari adalah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik. Jika kemarin masih mudah marah, hari ini berusahalah lebih sabar. Jika sebelumnya sering lalai beribadah, mulai perbaiki sedikit demi sedikit. Jika pernah menyakiti orang lain, beranilah meminta maaf dan memperbaiki sikap.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab, perjalanan memperbaiki diri memang tidak memiliki garis akhir. Selama masih diberi kesempatan hidup, masih ada ruang untuk bertobat, belajar, dan memperbanyak amal saleh. Selesaikan dirimu sendiri bukan berarti menunggu sempurna. Artinya, jangan pernah berhenti memperbaiki hati, niat, dan perilaku sebelum sibuk mengoreksi kehidupan orang lain. [DW]





