TIDAK semua pasangan yang menyakiti satu sama lain benar-benar berniat untuk melukai. Ada kalanya perkataan yang kasar, sikap yang dingin, atau respons yang berlebihan muncul karena seseorang sedang membawa luka yang belum selesai dari masa lalu. Luka tersebut mungkin tidak terlihat, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, dan memperlakukan orang yang paling dekat dengannya.
Dalam sebuah pernikahan, suami dan istri tentu memiliki latar belakang yang berbeda. Mereka dibesarkan dalam keluarga dengan pola pengasuhan, kebiasaan, dan pengalaman yang tidak sama. Ada yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang, tetapi ada pula yang sejak kecil terbiasa melihat pertengkaran, menerima perlakuan keras, atau kurang mendapatkan perhatian dari orang tua.
Baca Juga: Ketika Harapan kepada Allah Membuat Kita Terus Bergerak
Ketika Luka Masa Lalu Terbawa ke Dalam Pernikahan
Pengalaman masa kecil seperti itu terkadang membentuk pola perilaku hingga seseorang dewasa. Misalnya, orang yang dahulu sering diabaikan mungkin menjadi sangat membutuhkan perhatian dari pasangannya. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kemarahan bisa saja tanpa sadar membawa pola tersebut ke dalam rumah tangganya.
Karena itu, ketika pasangan melakukan sesuatu yang menyakitkan, penting untuk tidak terburu-buru memberikan label bahwa dirinya adalah orang jahat atau tidak mencintai keluarga. Bukan berarti perilaku yang salah harus dibiarkan. Kesalahan tetap perlu diperbaiki dan perilaku yang menyakiti pasangan harus dihentikan. Namun, memahami akar masalah dapat membantu pasangan menemukan jalan penyelesaian yang lebih baik.
Pernikahan seharusnya menjadi tempat dua orang saling menguatkan. Ketika salah satu pasangan sedang menghadapi luka batin, pasangannya dapat menjadi orang yang membantu proses pemulihan, selama dilakukan dengan cara yang sehat dan tidak mengorbankan keselamatan atau harga diri.
Menjadi penolong bukan berarti harus menerima semua perlakuan buruk. Justru, membantu pasangan berarti mengajaknya menyadari masalah, berkomunikasi dengan lebih terbuka, dan mencari bantuan ketika diperlukan. Jika persoalan sudah terlalu berat, berkonsultasi dengan konselor pernikahan, psikolog, atau orang yang memiliki kompetensi dapat menjadi langkah yang bijak.
Di sisi lain, seseorang juga perlu berani melihat dirinya sendiri. Jangan sampai kita hanya sibuk menghitung kesalahan pasangan, tetapi lupa bahwa mungkin ada luka, kebiasaan, atau sikap dalam diri kita yang juga perlu dibenahi.
Membangun keluarga memang membutuhkan proses panjang. Ada masa ketika hubungan terasa hangat, tetapi ada pula saat keduanya harus menghadapi konflik dan kekecewaan. Pada saat seperti itulah kesabaran, komunikasi, empati, dan kemauan untuk berubah menjadi sangat penting.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jika pasangan sedang terluka, jangan buru-buru meninggalkannya. Jika diri sendiri yang terluka, jangan pula memendam semuanya sendirian. Belajarlah memahami, berbicara dengan jujur, dan mencari jalan keluar bersama. Semoga setiap pasangan diberikan kekuatan untuk menyembuhkan luka, memperbaiki kesalahan, dan kembali membangun rumah tangga yang dipenuhi kasih sayang.
Sumber: Instagram Ustadz Bendri Jaisyurrahman





