OCBC menggelar Media Gathering RISE OCBC Preneurship x Upcydea Festival 2026 di OCBC Tower, Jakarta, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya OCBC dalam mendorong penerapan inovasi berkelanjutan (sustainable innovation) sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah, khususnya di industri fesyen.
Berdasarkan materi yang ditampilkan dalam acara, RISE OCBC Preneurship x Upcydea Festival mengusung semangat kolaborasi untuk menghadirkan solusi kreatif terhadap tantangan lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular dan pemanfaatan kembali produk yang sudah tidak terpakai menjadi barang bernilai lebih tinggi.
Sesi workshop menghadirkan Fashion Designer Billy Tjong, yang menyoroti besarnya tantangan limbah di industri fesyen sekaligus pentingnya inovasi sebagai bagian dari konsep keberlanjutan.

Billy Tjong Hadir dalam RISE OCBC Preneurship, Ungkap Limbah Industri Fesyen jadi Tantangan Terbesar
Billy mengatakan bahwa di berbagai negara, konsep sustainable innovation telah menjadi perhatian serius. Menurutnya, Indonesia mulai bergerak ke arah yang sama, dan langkah OCBC melalui festival ini merupakan contoh nyata dalam melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi menciptakan perubahan.
“Di belahan dunia lain, konsep Sustainable Innovation itu sudah lumayan kuat. Mungkin di Indonesia masih agak samar-samar. Setelah melihat presentasi hari ini, saya merasa OCBC sudah memulainya dengan sangat baik dan mulai melibatkan masyarakat yang lebih luas,” ujar Billy Tjong dalam workshop Upcydea Festival 2026 di OCBC Tower.
Billy menjelaskan bahwa industri fesyen merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar. Limbah tersebut muncul sejak proses produksi benang dan kain, berlanjut saat pembuatan pakaian yang menghasilkan sisa potongan kain, kemudian berasal dari produk-produk yang tidak terjual di tingkat ritel, hingga limbah yang dihasilkan oleh konsumen setelah pakaian tidak lagi digunakan.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengurangi limbah, tetapi juga membutuhkan cara pandang baru terhadap barang yang dianggap sudah tidak memiliki nilai.
“Sebuah produk yang mungkin kita anggap sudah membosankan atau tidak layak dipakai lagi sebenarnya bisa dilihat dari sudut pandang kreatif sebagai sesuatu yang baru. Dari sana kita dapat menciptakan karya yang berbeda, memiliki nilai yang lebih tinggi, atau setidaknya memperpanjang usia pakainya,” jelasnya.
Billy menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar memperpanjang umur sebuah produk, melainkan juga menjadi ruang bagi lahirnya berbagai inovasi kreatif.
“Saya sangat setuju bahwa sustainability sama dengan innovation. Sustainability bukan hanya memperpanjang umur produk, tetapi juga menjadi medium bagi kita untuk berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru dengan nilai yang lebih tinggi,” tambahnya. [Din]





