TIDAK semua kehidupan dipenuhi dengan kemudahan, bahkan bagi keluarga Rasulullah. Salah satu buktinya terlihat dari perjalanan hidup Ruqayyah binti Muhammad radhiyallahu ‘anha, putri kedua Rasulullah yang harus menghadapi berbagai ujian sejak usia muda. Mulai dari pernikahan yang berakhir sebelum sempat membangun rumah tangga, hijrah demi mempertahankan keimanan, hingga berpisah dengan suami ketika kaum muslimin menghadapi Perang Badar. Namun, di balik semua cobaan itu, Ruqayyah memperlihatkan keteguhan hati yang layak menjadi teladan sepanjang zaman.
Ruqayyah merupakan putri Rasulullah dari pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Ia tumbuh di tengah keluarga yang penuh kasih sayang dan dikenal memiliki akhlak yang lembut serta wajah yang menawan. Sebelum Rasulullah diangkat menjadi nabi, Ruqayyah pernah dijodohkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Namun setelah dakwah Islam dimulai, Abu Lahab yang memusuhi Rasulullah memerintahkan putranya untuk menceraikan Ruqayyah sebagai bentuk permusuhan terhadap Islam.
Baca Juga: Kisah Mengharukan Maimunah binti Sa’ad yang Mengabdikan Hidupnya untuk Ilmu dan Pelayanan Umat
Ruqayyah binti Muhammad, Putri Rasulullah yang Mengajarkan Arti Kesabaran
Peristiwa itu tentu bukan hal yang mudah bagi seorang perempuan. Meski demikian, Ruqayyah tidak larut dalam kesedihan. Ia tetap teguh mendampingi perjuangan ayahnya dan memilih mempertahankan keimanan daripada mengejar kenyamanan dunia.
Beberapa waktu kemudian, Allah mempertemukannya dengan seorang sahabat mulia, yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Pernikahan mereka dikenal sebagai salah satu rumah tangga yang penuh kasih sayang. Rasulullah bahkan sangat menyayangi pasangan ini. Ketika tekanan kaum Quraisy semakin berat, Ruqayyah dan Utsman termasuk rombongan muslim pertama yang berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) demi menyelamatkan akidah mereka.
Hijrah tersebut menjadi bukti bahwa menjaga iman terkadang membutuhkan pengorbanan besar. Mereka meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan kenyamanan hidup demi mempertahankan keyakinan kepada Allah.
Setelah kembali ke Madinah, ujian kembali menghampiri keluarga kecil mereka. Ruqayyah jatuh sakit ketika kaum muslimin bersiap menghadapi Perang Badar. Rasulullah meminta Utsman tetap berada di Madinah untuk merawat istrinya. Utsman menerima perintah itu dengan penuh ketaatan meskipun ia sangat ingin ikut berjihad bersama kaum muslimin.
Di saat kemenangan Perang Badar diraih kaum muslimin, kabar duka justru datang dari Madinah. Ruqayyah wafat setelah beberapa lama menderita sakit. Kepergiannya menjadi kesedihan mendalam bagi Rasulullah dan seluruh keluarga beliau. Walaupun Utsman tidak ikut bertempur, Rasulullah tetap memberikan bagian harta rampasan perang kepadanya sebagaimana para pejuang Badar karena ia sedang menjalankan perintah Nabi untuk merawat istrinya.
Dari perjalanan hidup Ruqayyah, ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Pertama, kesabaran dalam menghadapi ujian hidup. Ruqayyah tidak membiarkan kegagalan dalam pernikahan pertamanya membuatnya putus asa. Ia percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kedua, pentingnya mendahulukan agama di atas kepentingan dunia. Hijrah ke Habasyah menjadi bukti bahwa mempertahankan keimanan terkadang membutuhkan keberanian meninggalkan zona nyaman.
Ketiga, kisah Ruqayyah mengajarkan arti kesetiaan dalam rumah tangga. Hubungannya dengan Utsman bin Affan dipenuhi saling mendukung dalam kebaikan. Bahkan ketika Ruqayyah sakit keras, Utsman rela mengorbankan keinginannya ikut berperang demi merawat istrinya sebagai bentuk ketaatan kepada Rasulullah.
Kisah Ruqayyah binti Muhammad menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya kenikmatan hidup yang dimiliki, melainkan dari cara ia menghadapi setiap ujian dengan penuh iman. Kesabaran, keteguhan hati, dan kepatuhannya kepada Allah menjadikan Ruqayyah sebagai teladan bagi setiap muslimah hingga hari ini. [DW]





