• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Senin, 27 Juli, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Berita

Mazhab: Jalan Menuju Cahaya, Bukan Tembok Pemisah

27/07/2026
in Berita
Mazhab: Jalan Menuju Cahaya, Bukan Tembok Pemisah

Foto: Ruli Alqodri

66
SHARES
507
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

MAZHAB, jalan menuju cahaya, bukan tembok pemisah, ditulis oleh Ruli Alqodri Mustafa. Mengapa dalam urusan agama kita terkadang lebih percaya pada potongan video satu menit daripada kajian para ulama yang menghabiskan hidupnya untuk mendalami ilmu?

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Di media sosial, perdebatan soal tata cara ibadah sering kali lebih ramai daripada semangat memperbaiki akhlak. Ada yang mempermasalahkan posisi tangan saat salat, ada yang memperdebatkan jumlah qunut, bahkan ada yang mudah memberi label “tidak sesuai sunnah” hanya karena praktik ibadah seseorang berbeda. Ironisnya, perbedaan yang sebenarnya merupakan khazanah ilmu justru berubah menjadi bahan pertengkaran.

Padahal, dalam sejarah Islam, perbedaan itu sudah ada sejak masa para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang berbeda bukan tujuan mereka, melainkan cara memahami dalil ketika menghadapi persoalan yang tidak dijelaskan secara rinci.

Di sinilah kita mengenal istilah mazhab.

baca juga: Ini Penjelasan tentang Mazhab bagi Orang Awam yang Perlu Sahabat Muslim Ketahui

Mazhab: Jalan Menuju Cahaya, Bukan Tembok Pemisah

Secara bahasa, mazhab berarti jalan yang ditempuh atau arah yang dituju. Dalam tradisi Islam, mazhab adalah metodologi seorang ulama mujtahid dalam menggali hukum (istinbath) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan kata lain, mazhab bukan agama baru, bukan pula kitab suci baru, melainkan cara ilmiah memahami sumber ajaran Islam.

Bayangkan seseorang ingin mendaki gunung. Tujuannya sama: mencapai puncak. Namun jalur yang ditempuh bisa berbeda. Ada jalur yang lebih landai, ada yang lebih terjal, ada yang lebih panjang tetapi aman. Selama jalur itu benar dan mengarah ke puncak yang sama, semuanya tetap sah sebagai jalan pendakian.

Begitu pula mazhab.

Empat mazhab fikih yang paling dikenal adalah Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Imam Syafi’i yang mazhabnya banyak dianut di Indonesia dikenal mampu menggabungkan pendekatan rasional dan tekstual secara seimbang. Imam Abu Hanifah terkenal dengan kemampuan analisis logisnya. Imam Malik memberikan perhatian besar pada praktik masyarakat Madinah yang dianggap paling dekat dengan tradisi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal sangat kuat berpegang pada hadis dan atsar para sahabat.

Yang menarik, keempat imam besar itu justru saling menghormati.

Mereka berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, tetapi tidak saling mengkafirkan. Bahkan mereka sering memuji keilmuan satu sama lain. Perbedaan dipandang sebagai hasil ijtihad, bukan alasan untuk memutus ukhuwah.

Sayangnya, sebagian kita justru lebih mudah bertengkar daripada para ulama yang ilmunya jauh lebih tinggi.

Ada ungkapan jenaka, “Baru membaca dua utas media sosial, sudah merasa layak mengoreksi imam yang belajar puluhan tahun.”

Humor ini memang menggelitik, tetapi juga mengandung cermin bagi kita semua.

Mazhab sejatinya hadir untuk memudahkan umat, terutama mereka yang belum memiliki kemampuan menggali hukum langsung dari Al-Qur’an dan hadis. Tidak semua orang harus menjadi mujtahid. Sebagaimana tidak semua pasien harus menjadi dokter sebelum berobat.

Ketika seseorang sakit, ia datang kepada dokter yang ahli. Ia tidak memprotes setiap resep hanya karena pernah membaca artikel kesehatan di internet. Mengapa dalam urusan agama kita terkadang lebih percaya pada potongan video satu menit daripada kajian para ulama yang menghabiskan hidupnya untuk mendalami ilmu?

Bermazhab bukan berarti menutup mata terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Justru sebaliknya, mazhab adalah upaya sistematis memahami keduanya secara benar. Semua imam mazhab sepakat bahwa jika terdapat dalil yang sahih dan jelas bertentangan dengan pendapat mereka, maka dalillah yang harus diutamakan.

Ini menunjukkan kerendahan hati para ulama. Mereka tidak pernah menganggap pendapatnya sebagai kebenaran mutlak.

Selain dalam fikih, istilah mazhab juga dikenal dalam bidang akidah, seperti mazhab Asy’ari dan Maturidi yang membahas persoalan teologi, serta dalam kajian sejarah dan politik Islam. Semua itu menunjukkan bahwa Islam memiliki tradisi intelektual yang kaya dan dinamis.

Keberagaman ini seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini mengingatkan bahwa persatuan dibangun di atas fondasi yang sama, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun perbedaan hasil ijtihad dalam cabang-cabang fikih adalah sesuatu yang telah diakui dalam tradisi keilmuan Islam.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa memahami agama adalah proses yang membutuhkan ilmu, kesungguhan, dan bimbingan para ahli. Bukan sekadar mengikuti emosi atau potongan informasi yang viral.

Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi minimnya informasi, melainkan melimpahnya informasi tanpa bimbingan. Banyak orang lebih cepat menyebarkan pendapat daripada memeriksa sumbernya. Akibatnya, ruang dakwah terkadang berubah menjadi arena debat yang melelahkan.

Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana cara mengangkat tangan ketika takbir, tetapi juga bagaimana merendahkan hati ketika berbeda pendapat.

Pada akhirnya, mazhab bukanlah tembok yang memisahkan sesama Muslim, melainkan jembatan yang membantu umat memahami syariat dengan lebih terarah. Yang paling penting bukanlah sibuk mencari siapa yang paling benar dalam perkara-perkara cabang, melainkan memastikan bahwa hati kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akhlak semakin mulia, dan persaudaraan semakin kokoh.

Karena tujuan akhir setiap jalan yang benar bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan mengantarkan manusia menuju ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.[ind]

Tags: Bukan Tembok PemisahMazhab: Jalan Menuju Cahaya
Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan

Next Post

Kemenag Gelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Teknologi Digital bagi UMKM

Next Post
Kemenag Gelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Teknologi Digital bagi UMKM

Kemenag Gelar Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM dan Pemanfaatan Teknologi Digital bagi UMKM

Pulihkan Kesehatan Pascasiklon Senyar, LKC Dompet Dhuafa Aceh Dampingi Desa di Aceh Tamiang

Pulihkan Kesehatan Pasca Siklon Senyar, LKC Dompet Dhuafa Aceh Dampingi Desa di Aceh Tamiang

Muslimah Wahdah Gelar Salam Indonesia, Ruang Kolaborasi dan Ukhuwah Muslimah

Muslimah Wahdah Gelar Salam Indonesia, Ruang Kolaborasi dan Ukhuwah Muslimah

  • Ayat Al-Qurán tentang Traveling

    Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1137 shares
    Share 455 Tweet 284
  • Profil Lamine Yamal, Bintang Muda Muslim yang Menginspirasi Dunia Sepak Bola

    379 shares
    Share 152 Tweet 95
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8967 shares
    Share 3587 Tweet 2242
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4049 shares
    Share 1620 Tweet 1012
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11626 shares
    Share 4650 Tweet 2907
  • 4 Macam Mad Lazim, Berikut Ini Pengertian dan Contohnya

    5422 shares
    Share 2169 Tweet 1356
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4708 shares
    Share 1883 Tweet 1177
  • Bacaan Doa saat Duduk Tasyahud Akhir Lengkap Beserta Latin dan Terjemahannya

    2291 shares
    Share 916 Tweet 573
  • Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Fermentasi, Apa Saja Risikonya bagi Kesehatan?

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Anak Gaza Korban atau Target Sengaja Israel?

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga