MEDIA massa adalah pembawa kabar untuk banyak orang. Dan, perang manipulasi di situ nyaris tak terhindarkan.
Di era digital saat ini, perkembangan media massa begitu luar biasa. Bahkan saat ini, tugas besar media massa bisa dilakukan oleh individu melalui media sosial.
Hal ini menjadikan perang manipulasi di dunia informasi menjadi begitu liar. Bahkan ada kecenderungan saat ini, media sosial menjadi ‘leader’ dari dunia informasi, bukan lagi tivi atau lainnya.
Manipulasi Hubungan
Manipulasi ini merupakan taktik psikologis yang membuat target meragukan realitas, ingatan, atau apa yang diyakininya.
Perhatikan apa yang sedang viral tentang sosok pemain bola muda Spanyol yang sedang jadi sorotan: Yamal. Sosoknya begitu menarik karena skill permainan yang tinggi dan ‘kesolehan’ sebagai seorang muslim.
Di sebuah medsos digambarkan bagaimana sebuah video yang begitu apik menayangkan Yamal sedang khusyuk berdoa dan bersyukur atas kemenangan timnya. Sementara, di sisi lain, ada tayangan kericuhan antara dua tim yang sulit dikendalikan.
Jika tayangan itu ditambah lagi dengan tayangan-tayangan tentang Yamal ketika melakukan sujud syukur di tengah lapangan, kian menunjukkan kesolehan yang luar biasa.
Umat Islam pun bangga. Bahwa, ada dari kalangan mereka yang top di dunia bola yang merupakan seorang muslim yang soleh. Yaitu, Yamal.
Namun, ada berita atau tayangan yang mengenalkan siapa pasangan sang idola itu. Ia hanya seorang wanita yang tanpa hijab.
Sepintas, informasi ini biasa saja, atau mungkin melengkapi sosok Yamal. Tapi, ketika informasi ini digencarkan setelah sosok ‘soleh’ Yamal yang gemar berdoa dan bersujud itu, maka akan menjadi seperti pembuyar sosok solehnya.
Hampir bisa dipastikan, dua sumber informasi itu dilakukan oleh dua pihak yang berbeda, bahkan berseberangan. Satu pihak menyuguhkan kesolehan Yamal, di pihak lain menampilkan sosok ‘biasa’ Yamal seperti umumnya selebritas lainnya.
Perang Psikologis
Jangan terlalu percaya dengan viral yang direkayasa. Misalnya, banyaknya peristiwa pembunuhan, selingkuh, bahkan korupsi oleh pihak tertentu.
Hal ini karena apa yang bisa viral tidak lagi alami. Melainkan, bisa direkayasa sesuai pesanan dari mereka yang berkepentingan.
Jika kepentingannya menakut-nakuti, maka yang selalu viral adalah peristiwa pembunuhan, penculikan, perkosaan, dan sejenisnya. Jika kepentingannya untuk ‘membuai’, maka yang diviralkan adalah artis atau tokoh publik yang selingkuh., sangat kaya, dan lainnya.
Di zaman Orba dahulu ada isu tentang biskuit beracun, ‘kolor ijo’, ekstrim kanan dan kiri, dan lainnya.
Biasanya, isu-isu ini muncul di saat hebohnya kasus buruk pejabat negara. Dengan cara ini, orang menjadi teralihkan atau takut untuk mengangkat nilai kebenaran.
Manipulasi Kebenaran Informasi
Manipulasi ini adalah dengan menyebarkan data atau informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ketika hoaks dalam posisi seimbang dengan informasi yang benar, maka publik akan bingung menentukan mana yang benar dan salah.
Misalnya, ketika tersebar meluas kabar banyaknya tokoh-tokoh non muslim yang masuk Islam, ada yang viral mengabarkan bahwa seorang ustaz murtad atau keluar dari Islam.
Kabar ini tentu tidak dengan hanya tulisan atau suara. Tapi, dilengkapi dengan potongan video yang direkayasa.
Inilah zaman di mana kebohongan bisa menjadi rujukan. Dan, para pembohong bisa menjadi panutan.
Karena itu, perkaya literasi kita dalam dunia informasi. Hal ini agar kita tidak menjadi percaya dengan yang bohong, atau meragukan hal yang sahih. [Mh]





