DI zaman sekarang, pembahasan tentang hubungan antara orang tua dan anak semakin sering menjadi perhatian. Tidak sedikit anak yang menyimpan luka karena pernah disakiti oleh ucapan, sikap, atau keputusan orang tuanya. Di sisi lain, banyak pula orang tua yang merasa telah memberikan segalanya, tetapi tetap dianggap kurang oleh anak-anaknya. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu mengingat satu hal penting: orang tua juga manusia yang tidak luput dari kesalahan.
Sering kali kita memiliki harapan yang terlalu tinggi kepada ayah dan ibu. Seolah-olah mereka harus selalu benar, selalu sabar, dan selalu tahu apa yang terbaik. Ketika mereka melakukan kesalahan, hati kita mudah dipenuhi rasa kecewa. Padahal, mereka bukan malaikat. Mereka adalah manusia biasa yang tumbuh dengan pengalaman hidup, keterbatasan ilmu, dan berbagai ujian yang mungkin tidak pernah kita alami.
Baca Juga: 7 Tempat Wisata Kuliner Viral di Bandung yang Wajib Dicoba Saat Liburan
Orang Tua Tidak Sempurna, Tetapi Mereka Tetap Pantas Dihormati
Islam mengajarkan agar seorang anak tetap berbuat baik kepada kedua orang tua. Kewajiban berbakti tidak lahir karena orang tua selalu sempurna, melainkan karena besarnya jasa mereka dalam menghadirkan kehidupan bagi anak-anaknya. Dari rahim seorang ibu kita dilahirkan, dan dengan kerja keras seorang ayah serta pengorbanan ibu, kita tumbuh hingga mampu berdiri sendiri seperti sekarang.
Bukan berarti setiap kesalahan orang tua harus dianggap benar. Jika mereka keliru, Islam tetap memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang santun, penuh hormat, dan tidak melukai hati mereka. Berbeda pendapat bukan berarti kehilangan adab. Justru kedewasaan seseorang terlihat dari caranya menjaga tutur kata kepada orang-orang yang telah membesarkannya.
Terkadang kita lebih mudah mengingat satu kesalahan orang tua daripada ribuan kebaikan yang pernah mereka lakukan. Kita masih mengingat ucapan yang menyakitkan, tetapi lupa pada malam-malam ketika mereka begadang saat kita sakit. Kita mengingat larangan yang membuat kecewa, tetapi lupa bahwa semua itu sering kali lahir dari rasa sayang dan kekhawatiran.
Sebaliknya, orang tua juga perlu menyadari bahwa anak memiliki perasaan. Permintaan maaf, pelukan, atau kalimat sederhana seperti “Ayah dan Ibu juga bisa salah” sering kali mampu menyembuhkan luka yang tersimpan bertahun-tahun. Hubungan keluarga akan jauh lebih hangat ketika kedua belah pihak sama-sama mau belajar memperbaiki diri.
Ada satu renungan yang layak kita simpan. Suatu hari nanti, banyak dari kita akan berada di posisi yang sama. Kita akan menjadi orang tua. Saat itu mungkin kita baru memahami bahwa membesarkan anak bukanlah perkara mudah. Kita pun bisa saja melakukan kekeliruan yang saat ini belum pernah kita bayangkan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu, sebelum terlalu sibuk menilai kekurangan orang tua, cobalah melihat besarnya pengorbanan mereka. Tidak ada ayah dan ibu yang sempurna, tetapi sebagian besar dari mereka telah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki.
Memaafkan bukan berarti menghapus semua kenangan pahit, melainkan memilih untuk tidak terus hidup dalam luka. Hati yang mampu menerima ketidaksempurnaan orang tua akan lebih mudah menemukan kedamaian. Pada akhirnya, menghormati mereka bukan hanya bentuk bakti kepada orang tua, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah yang memerintahkan setiap anak untuk berbuat baik kepada ayah dan ibunya selama hayat masih dikandung badan.
Sumber: Instagram dr. Zaidul Akbar





